Namaku Kiinan, 17 tahun.
Pagi ini yamaha merahku melaju dengan kecepatan lebih dari 60km/jam.
Berkali-kali aku memindah gigi karena simpang dan lobang yang menganga diantara rumah dan sekolahku. Sepertinya aku akan telat 'lagi'. Jarak rumah-sekolah yang tidak pernah jauh membuatku terbiasa mengakhirkan waktu berangkat. Terlebih SMPku hanya berjarak jalan yang tak ramai. Huh, dasar aku.
Sekitar 7 meter dari gerbang, satpam dan beberapa guru piket sudah berdiri di depan gerbang, aku menurunkan kecepatan motorku, membalas gelengan mereka dengan senyuman. Beberapa detik setelah aku masuk, lonceng berbunyi. Aku tidak telat -versi kamusku. Haha. (Bagian ini jangan ditiru yaaa)
Selesai memarkirkan motor, aku membenarkan jilbab yg kacau diterpa angin sambil menenteng helm yang 'harus' dibawa ke kelas supaya tidak hilang. Jarak parkir ke kelas yang cukup jauh membuatku harus sedikit berlari kecil tanpa melupakan senyum-salam-sapa-sopan-santun yang harus ditaati.
Dan seperti hari-hari biasa, aku masih bisa bertemu dengan mereka. Manusia-manusia kuat yang katanya digajul ndak akan goyang bahkan diterjang pun ndak akan njengkang. Orang-orang hebat yang punya ruang sendiri di hatiku dan akan 'selalu' dirindukan.
Terimakasih, karena kalian masa pubertasku menjadi bakoh dan menyenangkan.💕



