Sudah lama sekali tidak melahap cepat sebuah buku, hari ini ((setelah berbulan-bulan tidak ingin membahas apapun tentang pernikahan dulu karena beberapa prioritas)) akhirnya iseng membaca ulang buku yang random dibeli beberapa tahun lalu; Melangkah Searah. Buku yang ringan. Tak memaksa dan membuat ingin 'buru-buru' menemukan, tapi justru mengingatkan lagi tentang tujuan menikah yang sebenarnya.
Terutama bagi wanita, yang kelak ridho suamilah yang akan mempermudah langkahnya menuju Surga. Maka proses panjang sebelum melangkah searah justru jadi fase paling penting. Pas banget! Karena kadang jadi perempuan di usia yang menurut lingkungan sudah saatnya menikah, seringkali membuat terjebak pada kondisi diburu-buru untuk segera menikah. Tak salah sebenarnya, mereka pun pasti berharap yang terbaik bagi kita dengan cara-cara yang mereka bisa.
Di usia segini, seringkali usaha dari lingkungan benar-benar menakjubkan. Dalam sebulan, gerakan ibu-ibu bisa membawa beberapa kandidat yang backgroundnya begitu beragam. Dari yang hampir memenuhi seluruh cheklist kriteria, hingga bertemu manusia yang hanya penasaran. Ingin langsung memblokir tawaran, tapi berkali-kali nasehat berdatangan, "Jangan langsung blokir kalau belum mencoba memahami cara ia berfikir."
Jujur prosesnya begitu melelahkan... tapi ya begitulah ketika yang bertamu belum jodoh yang Allah takdirkan. Adaaa saja yang salah, ada saja langkah yang tertahan. Tapi berkali-kali memahamkan pada diri, "Proses taaruf terbaik bukan yang mengantarkan ke pelaminan, tapi yang membuat semua yang terlibat dalam prosesnya lebih beriman."
Salah satu contoh kecil yang sering aku syukuri dari perjalanan ini, "Ohh.. pantesan Allah beri kesempatan ikhtiar dan berdoanya lebih panjang. Ketemu orangnya juga lebih banyak. Ternyata Allah tu cuma mau memastikan apakah benar niatku lurus karena-Nya? Apakah selama ini aku masih bergantung sama manusia? Sudahkah aku bergantung sama Allah saja?"
Maka, ditengah hiruk pikuk ramainya kepala dengan perkenalan-perkenalan ini. Satu kalimat berhasil menenangkan hati dan memastikan langkahku lagi. Kalimat meneduhkan itu berbunyi :
"Menikahlah dengan seseorang yang juga mau menikahi mimpi-mimpimu. Yang matanya berbinar ketika citamu berbinar. Yang senyumnya ikut terkembang ketika asamu terkembang." - Aji Nur Afifah
Maka tak apa, sungguh tak apa jika perjalanannya lebih seru dari perjalanan yang sebelumnya kita duga, asalkan selama prosesnya ada banyak nilai yang membawa kita jauh lebih dewasa dari sebelumnya. Selamat memilih dan memilah. Sungguh, jodoh bukan tentang salah-benar pun bukan baik-buruk. Tapi tentang kecocokan yang kita sukai dan ketidakcocokan yang paling bisa kita toleransi.