Awalnya, hal yg paling aku cemaskan ketika memilih lingkungan yg secara ideologis tidak homogen adalah perkara ibadah, hijab, dan yg paling penting; tabrakan value yg diyakini. Sampai akhirnya Allah pertemukan dengan kakak-kakak yang :
"Nan, ayok sholat dulu aja. Gapapa, disini ga cito-cito kali."
"Nan, nanti pas di OK bawa manset atau baju sendiri aja ya, soalnya bajunya lengan pendek."
"Nan, kalo emang seragam pake celana, kinan gausah pake seragam dulu aja."
"4 poin penting yg perlu kita jadikan modal bekerja : lillah, kosongkan gelas, tau kapan perlu call for help, jangan mudah baper."
"Kinan khawatir kehalalan gajinya ya? Jadi gini nan, gaji kita itu berasal dari ...............aabbccdd.."
"Kalo kami sih biasanya milih nabung emas yg dah jelas hukumnya."
"Yak, kita tutup materi dari saya dengan, subhÄnakallahumma wabihamdika............"
"Kalau dari kami, pendidikan dan rasa ingin terus belajar itu yang utama."
"Loh, kita datang dan visite pasien aja kan udah didoakan banyak malaikat."
"Kalian itu mau intubasi manusia kan, bukan kambing? Perlakukan pasien sebagaimana kalian (dan keluarga) ingin diperlakukan lah."
"Sebenernya disini emang support bgt utk kepemilikan rumah. Kita kerjasama sama bank ........, tapi ya itu sistemnya masih riba. Saran kakak sih, kalo emang mau sekolah lagi, fokus nabung buat sekolah dulu. Kecuali uang kita udah unlimited wkwkwkwk."
"Kalo gabisa ditangani sendiri, call for help atau rujuk aja masalahnya. Kita gak (pernah) kerja sendiri kok. Asal kitanya ringan tangan pas sejawat lain butuh bantuan mah, insya Allah orang ringan tangan juga bantu kita."