17 Juni 2012..
Minggu pagi yang sangat indah. Begitu juga dengan suasana di kota Palembang.
Namun, jauh dari itu semua di sebuah Rumah Sakit, terdapat seorang Dokter,
seorang Ibu , dan anaknya Kiki. Tampak ibu itu menangis dan Dokter mencoba
untuk menenangkannya. Apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka? Daripada
penasaran, yuk kita langsung lihat drama ini…
Ibu : Dokter, bagaimana
dengan keadaan anak saya? Dia baik-baik saja kan, Dok?
Dr.Nia : (Sambil menarik nafas
panjang) Maaf, bu. Sebenarnya anak ibu ( Dr. Nia terdiam sejenak )
Ibu : Anak saya kenapa,
Dok? Memangnya dia sakit apa?
Dr.
Nia : Anak ibu mengidap penyakit kanker
otak stadium empat, dan mungkin umurnya tak panjang lagi.
Ibu : Apa? Kanker otak? Stadium empat? Ya
Allah, bagaimana ini? (Suara Ibu melemah)
Lalu
Dr. Nia memberikan sebuah kir atau surat keterangan.Tiba-tiba Kiki datang dari
ruang periksa Dr. Nia, sambil mencoba tersenyum meski menahan sakit yang Ia
rasakan. Namun, senuyum itu menghilang saat ia melihat ibunya menangis didepan Dr.
Nia.
Kiki : Ada apa bu? Bagaimana dengan
keadaan Kiki, bu?
ibu tak menjawab dan segera menghapus airmatanya saat sadar ternyata
anak sematawayangnya telah berada di sampingnya.
Kiki : Ibu… ada apa sih? Kenapa ibu menangis sampai seperti itu? Apa Kiki
sakit parah?
Ibu : Nggak kok, Nak. Kiki baik-baik saja,
Cuma sakit ringan.
Kiki : Alhamdulillah, ibu nggak bohong kan?
Ibu : (tersenyum)
Akhirnya mereka pulang. Esoknya, tanggal 18 Juni 2012. saat berangkat
sekolah Kiki berlari dan tak sengaja menabrak sebuah meja, tiba-tiba sebuah
kertas jatuh. Dan ternyata setelah di buka Kiki, surat itu adalah surat
keterangan dari Dr. Nia tentang penyakitnya. Dan Kiki langsung terduduk lemas.
Kiki : ya Allah, apakah ini nyata? Kiki
sakit separah ini, tapi kata ibu Kiki hanya sakit biasa. Untuk apa ibu
berbohong padaku?
Ibu datang dari arah dapur.
Ibu : Kiki, maafin Ibu
nak. Ibu nggak memberi tahu yang sebenarnya terjadi. Maafkan ibu.
Kiki : tapi, kenapa ibu
nggak ngomong yang sebenarnya sama Kiki?
Ibu : Ibu gak mau kamu
sedih nak.. ( Sambil memeluk anaknya)
Kiki : (menangis di
pelukan ibu)
Disekolah, ketika pelajaran pak Amin, Kiki tampak tak bersemangat dan
melamun. Lalu sahabat sebangkunya yang bernama lala bertanya padanya.
Lala : Oiy mbak, ada apa?
Dari tadi ngelamun aja, awas ntar kemasukan setan loh.
Kiki : eh, em enggak kok,
gak ada apa-apa.
Lala : wah, curiga. Lagi mikirin apa to?
Padahal lagi pelajaran pak Amin nih, dan lagi seru-serunya. Jangan-jangan lagi
mikirin aku ya? Hehe. (Canda Lala)
Riri : Iya, daripada ntar diceramahi ama pak
Amin, mending kalo kultum, lah ini kultuhun. Kuliah tujuh tahun.
Anifa : iya, itu mah mending. Gimana kalo ntar
pak Amin berubah jadi Sumanto trus kita dipotong-potong dan dijadiin sup. Kan
pak Amin kalo udah terlanjur marah serem banget. Hiii… atut..
Lala : haha.. setuju apalagi kalo ntar disup
buntut, mantap tu.. Eh, kira-kira pak Amin pinter masak gak ya? Aha, kalo nggak
tar tanteku aja yang masak, pasti enak.. (sambil tersenyum membayangkan itu
semua)
Anifa,
Kiki, Riri, Toni : Lala…!! (Pak
Amin memandang mereka, dan mereka hanya tersenyum)
Anifa : duh, nyonya kebiasaan banget nih,
ngomongnya apa ntar nyambungnya apa, jauh banget.(ngomong dengan nada pelan)
Riri : Haha, nyonya.. nyonya..
Kiki : hehe, ush.. udah-udah ntar kita kena
hukuman beneran loh.
Setelah itu mereka kembali mendengarkan ocehan pak Amin yang karena
dia wali kelas 8, dia selalu ceramah. Dan pak Amin memberi sebuah pengumuman.
P.
Amin : Anak-anak, seminggu
lagi kita sudah ulangan semester genap. Kalian harus makin giat belajar, gak
boleh lama-lama nonton televisi, maen games, fban, smsan, apalagi pacaran.
Siswa : Yaelahhh pak..
P.
Amin : Kalo nggak mau
ulangan, ya sudah kalian semua tinggal di kelas 8. Gak usah naik kelas.
Toni : ye, ya nggaklah pak. Kami mah gak mau
nggak naik.
P.
Amin : makanya, belajar
yang giat dan jangan malu-maluin kelas kita.
Siswa : Iya pak.
Kiki : hah seminggu lagi?
Tak seperti biasa, Kiki yang biasanya paling heboh kalau denger kabar
ulangan, kali ini dia hanya terdiam. Saat jam selesai, pak Amin menghampiri
Kiki dan sahabat-sahabatnya.
P. amin : kamu kenapa Ki, sakit
ya mukanya pucat banget dan gak heboh seperti biasanya.
Anifa : iya nih pak, dari
tadi diem aja. Gak biasa banget.
Kiki : em, enggak papa
kok pak, temen-temen. Kiki Cuma lagi nggak enak badan aja.
Riri : ciyus? Ga bo’ong?
Miapa?
P. amin : Riri-riri, pasti korban
kartu perdana nih.
Toni : Betul banget pak.
Kebiasaan nih Riri.
Riri : Hehe, yo’i pak.
Kan sekalian mempromosikan konter ibu di rumah. Hehe.
Lala : Yee.. anak ini,
kayak Mail di Upin-Ipin aja. Money, money, and money.
P. Amin : hehe,
udah-udah pak mau ada urusan nih. Kiki beneran nggak papa kan?
Kiki : Iya pak, kiki
baik-baik aja kok.
Seminggu kemudian, tanggal 25 Juni 2012. saat berlangsung ulangan
pertama. Kiki tak ada di bangkunya. Sahabat-sahabat Kiki bertanya-tanya.
Sepulang sekolah Anifa, Lala, dan cris menemui pak Amin.
Toni : pak, pak.. Stooop..!
P. Amin : Ada apa
nak? Kok nyampe lari-lari gitu.
Lala : gini pak, kami mau
tanya kenapa sih kok Kiki gak berangkat? Kami kan jadi gak ada bahan contekan.
Anifa : eh, diem, Pak jadi
tau kan kalo kita sering nyontek Kiki.
P. amin : hoo, Kalian itu
ternyata.
Toni : maafin kami pak,
hehe. Oya giman masalah Kiki?
P.
amin : masalah itu pak juga nggak tau nak,
tadi bapak udah coba hubungi ibunya tapi nggak ada jawaban.
Riri : Lah? Kok bisa gak tau to pak?
P.
Amin : Ya, tapi tadi sih bu
Dea yang rumahnya dekat Kiki sempet bilang kalau Kiki sakit. (sambil
mengingat-ingat)
Anifa,
lala, Toni : sakiiitt??
Riri : Biasa aja kali.. hah? Sakit?
Lala : waw? Itukah ekspresi biasa?
P.
amin : kok malah ribut to? Oya, jadi gini,
bapak ada rencana mau coba lihat Kiki kerumahnya. Apa kalian mau ikut?
Serempak:
Pasti pak..!!
Toni : Kami setuju banget pak.
P.
amin : Ya sudah, kalian tunggu bapak ya.
Kita berangkat sekarang saja, daripada nanti ditunda-tunda ceritanya manjang.
Anifa : ya pak.
Akhirnya
mereka berempat berangkat ke rumah Kiki, sesampainya di rumah Kiki mereka
memanggil beberapa kali.
p.
amin : Assalamu’alaikum, bu, Kiki? Ini Pak
Amin dan sahabat-sahabat kamu.
Lala : Te… tante… ki..
kiki…?
Toni : Kok nggak ada yang
jawab ya pak?
Anifa : lihat tuh, nggak
dikunci, apa lebih baik kita masuk saja?
Riri : apa iya, ya?
(semua terdiam sejenak)
Lala : eh pak, temen-temen
denger tangisan nggak?
P. Amin : iya, ada
apa ya? Ayo kita segera masuk.
Riri : Suaranya dari
kamar Kiki tuh.
Akhirnya mereka masuk, tampak Kiki yang sedang menahan sakit dan
Ibunya yang terus menangis.
Riri : tante… ada apa
dengan kiki?
Ibu : Kiki, Ki.. Kiki
sakit, ia mengidap penyakit Kanker otak stadium empat. Dan hari ini kondisinya
semakin parah.
Anifa : Kenapa ibu nggak
cerita sama kami bu?
Kiki : Pak Amin,
temen-temen. Maaf ya Kiki dan Ibu nggak cerita, kami nggak mau nanti kalian
khawatir.
P. amin : ya Allah, coba Kiki
cerita, mending sekarang kita bawa Kiki ke Rumah Sakit.
Ibu : Tapi kami sudah tak memiliki uang,
gaji pensiun dari ayah Kiki yang sudah meninggal tak cukup lagi, uang itu sudah
kami gunakan untuk memeriksakan Kiki seminggu lalu.
P.Amin : masalah uang nanti saja yang penting sekarang
Kiki sembuh, kalau tidak Kita panggil Dr. Nia saja.
(lalu pak Amin menelpon Dr. Nia )
Tak
berapa lama Dr. Nia datang. Dan sahabat-sahabat Kiki mulai menangis.
Dr.
Nia : Assalamu’alaikum, astaga Kiki?
Ibu : iya dok, keadaannya makin parah.
Dr.
Nia : Saya akan coba periksa dia.
Kiki : Dr. Nia, sebentar Kiki mau bicara.
Dr.
Nia : Yayaya, silahkan Kiki sayang.
Kiki : Ibu, teman-teman, dan pak Amin,
maafin Kiki ya kalo selama ini Kiki banyak salah sama kalian. Kalian mau maafin
Kiki kan? Sebelum Kiki menutup mata tuk selamanya.
Anifa : Kiki, jangan ngomong
seperti itu. Kamu pasti sembuh ki, pasti sembuh. (sambil memegang tangan kiki)
Kiki : tapi, Ni. ini
sakit banget.
Lala : Kami nggak mungkin
bisa hidup tanpamu Ki. Nggak bisa.
Toni : Iya ki, kamu sahabat
kami yang paling baik.
Kiki : Kalian semua baik banget, Kiki sayang
kalian semua, pak Amin, Ibu, Lala, Anifa, Riri, dan Toni. Hidup Kiki indah
banget karena kalian udah ada disini, disisi Kiki. (mencoba tetap tersenyum)
P.Amin : Iya Kiki, kami juga pasti sangat
menyayangimu. Kami disini selalu berdoa akan kesembuahanmu.
Riri : iya Ki, kami
bahagia punya sahabat sepertimu.
Kiki : makasih semua, oya
ini ada surat dari Kiki buat kalian semua. (mengambil sebuah kertas dari balik
bantalnya)
Lala : Surat apa ini Ki?
Kiki : (tersenyum, lalu
tiba-tiba nafasnya tak lancar, badannya menegang)
Ibu : kiki….!! Dr. Nia
bagaimana ini.?
Dr. Nia : (segera mencoba
memeriksa badan Kiki)
Toni : Kiki….??
Dr. Nia : Inalilahiwainailahirajiun.
Semua : Kiki…!!!
Ibu : Kiki, bangun nak.
Kiki…!!!
Anifa : Kiki, jangan
tinggalkan kami..
Akhirnya kiki menutup mata untuk selamanya.
Kini tak ada lagi senyum manis Kiki yang ada saat hendak meminta sesuatu pada
ibu, tak ada lagi canda Kiki saat bersama Sahabat-sahabatnya, tak ada lagi
protes Kiki saat di marah pak Amin, kini benar-benar tak ada lagi sosok Kiki. Dan pak Amin membaca surat dari Kiki.
20 Juni 2012
Dear SahabatQ, Ibu, dan semuanya.
Maafin Kiki, kalau selama ini Kiki sering
banget buat kalian kecewa. Mungkin saat kalian baca surat ini, Kiki sudah nggak
ada bersama kalian lagi dan mungkin Kiki udah ada bersama bintang-bintang indas
di atas sana. Semua, Kiki bahagiaaaaa banget udah bisa kenal sama kalian,
makasih ya atas setiap detik penuh arti yang kalian beri ke Kiki. Oya, pasti
Kiki bakal kangen banget nih saat-saat bersama kalian,saat Ibu atau guru-guru
marah sama Kiki kalau kiki salah, saat Lala ngoceh dengan kalimatnya yang nggak
nyambung, Anifa yang selalu ada buat tempat Kiki curhat, Riri yang perhatian
dan selalu saja promosiin konter ibunya,
selain itu juga ada Toni yang seru banget diajak ngobrol, disana nanti ada
nggak ya yang kaya kalian? Duh, pasti Kiki kangen banget deh, Hehe. Oya, buat
Lala, maaf La kemarin sebenernya aku yang pinjem catatan IPA kamu, aku nggak
ngaku La soalnya aku lagi malas nyatet IPA. Oya, kalau kamu mau ambil, buku itu
ada di meja belajar Kiki, di situ juga ada topi Toni dan buku Pkn Anifa yang
Kiki pinjem. Makasih ya udah pinjemin Kiki, kalian tu paliiiiing baik. Ibu,
Kiki sayang banget sama ibu. Ada nggak ya sosok kaya ibu disana? Semuanya, Kiki
sayang Kalian. J
Salam Sayang, kangen, rindu,
perpisahan, dan segalanya
_2.jpg)

No comments:
Post a Comment