
Pagi
ini adalah hari pertama bagi Raisa masuk ke SMA. Raisa adalah gadis yang unik tapi
lebih tepatnya bisa kita bilang aneh, tomboy, kuper, dan super-super gak modis Dihari pertamanya ini, Raisa berjalan sendiri
membawa Nasel hitamnya mencoba menerobos benteng siswa-siswa yang memiliki
tujuan yang sama dengannya, ya ke papan pengumuman pembagian kelas.
Raisa : “Ra.. Ini dia! Raisa Lira Azahra! Yeee..
dapat kelas X.2” (sambil berteriak keluar dari kerumunan siswa yang lain)
(tiba-tiba dia menabrak seoNag
lelaki yang melintas di depannya)
Raisa : “Kalau
jalan liat-liat dong” (tegasnya sambil berdiri menarik lengan bajunya)
Ray : “Yee..
yang nabrak siapa yang marah siapa. Kamu tu yang aneh. Nari-nari di sini!”
Raisa :
“Masalah buat loe. Suka-suka gue dong, emang loe siapa?”
Ray :
“huhh.. Cewek keras kepala!” (gumamnya sambil berlalu meninggalkan Raisa)
Raisa : “Aku
denger tauuu!!” (Sambil meneriaki Ray yang mulai menghilang)
Tiba-tiba
datanglah Nadia yaitu sahabat Raisa, lalu Ia mengajak Raisa untuk menemui saudaranya
yang katanya merupakan Ketua OSIS dan cowok terpopuler di sekolah itu.
Nadia : “Ayolah
Sa.. Ikut aku..”
Raisa : “Enggak
ya enggak.”
Nadia : “Ayooo!!”
(Menarik tangan Raisa)
Raisa :
“enggaaak!” (menolak)
Nadia : “Harus
mau!!”
Raisa : (pasrah
mengikuti Nadia)
Raisa dengan malasnya hanya
mengikuti Nadia yang sangat bersemangat untuk hal itu. Sesampainya di depan
kelas lelaki yang katanya bernama Ray itu, Raisa dan Ray sangat terkejut.
Raisa + Ray: “Kamu?!”
Nadia : “Loh,
udah saling kenal to?”
Ray : “Haha, iya kami sudah kenal. Si keras
kepala ini sahabat kamu to?” (katanya sambil mengedipkan mata kea rah Raisa)
Raisa : “Ohh.. Ray ini to saudaramu. Teteh
ngomong atuh dari tadi.” (Sambil melihat nama di baju Ray, lalu tersenyum)
Nadia : “Bagus dong kalo gitu, jadi gue gak harus
ngenalin kalian lagi. emang sejak kapan kalian kenal?”
Ray + Raisa
: “Pagi tadii!” (katanya serempak yang membuat mereka berpandangan lalu mereka
berdua tertawa bersama)
Nadia : “terserah
deh.” (katanya bingung akan keduanya)
Setelah
enam bulan, persahabatan antara Nadia dan Raisa makin dekat, apa lagi sekarang
bertambah dengan Ray dan Deri yaitu kekasih Nadia. Siang ini, sepulang sekolah
Ray seperti biasa pulang bersama Raisa dan Nadia. Namun tiba-tiba datang Deri.
Deri : “Na..
Ayo, katanya mau pulang bareng aku. Jadi gak?”
Nadia : “Duhh.. maaf nih, aku lupa. Aku mau pulang
bareng Deri. Maaf ya, kalian berdua gapapa kan pulang tanpa aku?”
Ray : “Ohh.. gapapa kok, Der, Na. Tenang
aja, Raisa baik-baik aja kok sama cowok yang ganteng banget kayak aku ini.”
Raisa : “kok tiba-tiba aku keselek butiran debu
ya?” (kemudian semuanya tertawa)
Deri : “Hahaha.. Pede sih PeDe, tapi gak gitu
juga lagi.”
Nadia : “Hehe, ya udah. Aku titip Raisa ama kamu
ya Ray. Kalo nangis, kasih permen aja.”(katanya sambil berlalu)
Raisa : “Emang aku bayi” (sambil menekuk
mukanya)
Ray : “Idihh.. jeleknya” (menarik pipi Raisa
keatas) “Nah kan kalo begini cantik banget”
Raisa : “hehe.. Bisa aja kamuu.”
Ray : “Raisaa.. aku mau jujur sama kamu.”
(wajahnya berubah serius)
Raisa : “Eh.. kenapa Ray?”
Ray : “Sejak dulu aku sudah berusaha
menghilangkan perasaan ini, karena aku nggak mau merusak persahabatan kita.
Tapi aku gak bisa. Sa… Aku gak bisa kalau lebih lama memendam rasa ini. Aku..
Suka sama kamu..”
Raisa : (kata-katanya terkunci rapat) “Kamuu..
bilang apa tadi?” (Jawabnya gugup)
(Mereka berdua saling berdiam
diri, tiba-tiba Ray menoleh kea rah Raisa. Wajahnya yang serius tiba-tiba
berubah)
Ray : “Ha…Ha…Ha… Raisa.. Raisa.. kamu itu
mudah banget sih di bohongin. Udah berapa lama sih kita temenan. Masih percaya
aja ama gituan. Huuuuuu…”
Raisa : (Mendorong Ray dengan bahunya)
“Reseekkkk!”
Kemudian mereka tertawa bersama sambil meninggalkan
tempat itu. Ya, seharusnya Raisa tahu, ini lah mereka. Sahabat yang tertawa
bersama, sedih bersama… saling berbagii.. dan cukup Raisa simapan perasaan
itu.. Raisa sadar tentang itu.
>>>
Seminggu
kemudian, Nadia dan Raisa mengobrol di taman sekolah di temani sebungkus
makanan ringan dan beberapa buku yang hanya di pandangi oleh mereka.
Nadia : “Sa,
katanya Ray jadian ya sama Resti?” (melahap makanan ringan yang dimakannya)
Raisa : “Hah?!
Ray? Resti? jadian?”
Nadia : “katanya
sih iya.”
Raisa : “Resti
juara umum yang cantik banget itu?”
Nadia : “He-em..
Kamu gak cemburu kan” (sambil tersenyum)
Raisa : “Ye.. ya
enggaklah. Buat apa gue cemburu.” (menundukkan kepala ke buku bacaannya)
Nadia : “Kirain
kamu cemburu”
Raisa : “Enggaklah Nadiot tayaaang. Eh, aku ke kelas dulu ya. Mau
ambil sesuatu.”
Raisa tiba-tiba sakit. Bukan
karena batuk hingga malam-malam di rindukan tidurnya yang nyenyak. Bukan karena
demam yang merajam sel-sel tubuhnya. Bukan karena suhu tubuh yang melonjak
drastis berkat virus-virus nakal. Bukan itu! Raisa sakit hanya karena sebuah
kenyataan. Ya.. Kenyataan yang menghancurkannya.
>>>
Dua hari kemudian, dengan
semangat empat-lima nya Raisa menghampiri Nadia yang sedang duduk di tempat
duduk favorit mereka berdua.
Nadia : “Kenapa ente ketawa-ketawa sendiri?”
Raisa : “Tebak dongg”
Nadia : “Maksimal ya dapet uang lima ratusan di
depan gerbang”
Raisa : “Ye… Ini lebih bagus ya..”
Nadia : “Ya apa Raisaa Lira Azahra!”
Raisa : “Gue… Jadian Sama Romy.”
Nadia : “Hahh?? Romi??”
Raisa : “Iyaa.. Romi anak XI IPA 2. Gimana?”
Nadia : “Ya up to you deh.. Congrate aja ya buat
kalian berdua.”
(tiba-tiba datang Ray)
Ray : “Pada ngomongin apa sih ini?”
Nadia : “Ini nih, cucu ke-99 eyang Subur baru
jadian ama Romy.”
Ray : “Raisa?”
Raisa : “ehh.. Iya Ray. Em, gimana menurut kamu?
Ray : “Ya gapapa sih. Dia orangnya kan baik.
Congrate ya”
Raisa : “Makasih. Eh tumben kamu gabung sama
kami, ntar Resti cemburu kayak kemarin loh?”
Ray : “Tadi waktu dari perpus dan liat
kalian, aku mampir aja. Eh ya, aku ke kelas dulu ya. Bye..”
Nadia : “Bye..”
Ray pun meninggalkan mereka
berdua.
Nadia : “Sa, kok Ray berubah gitu ya?”
Raisa : “Heemm. Entahlah Na, tapi kan dia baru jadian sama Resti. Mungkin..
Dia ngejaga jarak biar gak terjadi salah faham kali.”
Nadia : (hanya mengangguk dan tersenyum)
Lama-lama persahabatan mereka
semakin pudar, entah karena Ray yang menjaga jarak, Nadia yang mulai sibuk
dengan les-lesnya. Atau Raisa yang memilih memenuhi waktu luangnya untuk
melukis. Tapi hari ini, Ray benar-benar ingin bertemu Raisa. Setelah mencari,
ia menemukannya di samping gedung perpustakaan .
Ray : “Pagi bawel.”
Raisa : “Ehh.. Ray? Pagi juga.” (sambutnya
dengan senyuman hangatnya)
Ray : “Ternyata disini to kamu tu? Pantes
aja tiap aku nyari waktu istirahat kamu gak ada.”
Raisa : “Hehe.. Kangen nih ceritanya?”
Ray : “kayaknya sih iya, Hehe. Abis udah
lama sih kita gak bareng-bareng. Emang ngapain kamu disini?”
Raisa : “Biasalah, nggambar-nggambar aja. Abis
di kelas bosen, pada sibuk sendiri-sendiri.”
Ray : “duhh.. kok gambarnya galau gini
sih?” (membuka binder yang di pegang Raisa)
Raisa : “Hehe.. Gak papa lah, kayaknya itu lebih
ekspresif aja.”
Ray : (mengambil selembar kertas yang jatuh
ke lantai) “eh.. yang ini bagus banget, boleh gak buat aku?”
Raisa : “ehh.. itu kan emang.. eh.. iya, iya, iya. Tapi itu kan Cuma gambar hati?”
Raisa : “ehh.. itu kan emang.. eh.. iya, iya, iya. Tapi itu kan Cuma gambar hati?”
Ray : “Iyaa.. tapi aku pengen kamu buat
huruf ‘R’ yang bagus di tengahnya.”
Raisa : “Yaa deh, aku buatin yang bagus khusus
buat pakdenya Ustad Solmet nih. Hehe.”
Kemudian mereka berdua bercanda
bersama, sembari Raisa menyelesaikan lukisannya. Hari yang indah.
>>>
Pagi ini, Resti meminjam catatan
Ray. Tanpa sengaja, ia menemukan gambar itu. Dengan senyumannya, ia menyimpan
kertas itu. Namun, esoknya Ray menemui Resti.
Ray : “Res, tahu kertas yang ada huruf
R-nya gak?”
Resti : “eh.. Itu R buat resti kan?”
Ray : “Enggak.. please Res, balikin ya.
Kertas itu penting banget.”
Resti : “Emang itu kertas apa sih?”
Ray : “itu kertas buatan Raisa! Eh..
maksudku itu.. em itu.”
Resti : “Raisa? Jadi kamu mentingin dia dari
aku? Dari dulu, sebenernya aku udah sadar. Kamu tu sayang sama dia.”
Ray : “Baiklah, aku emang sayang sama dia.
Tapi aku sayang sama kamu.”
Resti : “ya udahlah, kita pisahan aja ya? Aku
gak bisa kalau musti nerima ini.”
Ray : “maafkan aku, res.”
Di tempat yang berbeda, di saat
Romy dan raisa bersama mereka saling mengobrol. Bercanda dan tertawa. Sesekali
ada rajukan, tapi inilah cinta.
Raisa : “Rom, minjem HP bentar dong?”
Romy : “Buat apa to?”
Raisa : “Gapapa, minjem aja.”
Romy : “Ya udah, ini.” (menyerahkan HandPhonenya)
Raisa : “aku baru sadar, HP mu sama kayak punya
Ray.”
Romy : “Apa iya? Kamu deket banget sih sama dia?”
Raisa : “Kami kan sahabat.” (tiba-tiba HPnya
bergetar) “Ada telpon privat nih. Aku angkat ya?”
Romy : (mengangguk)
Raisa : “Halo.. Ini siapa? Loh, aku pacarnya
Romy. Nama kamu siapa? Oh, ya dah makasih.”
Romy : “Siapa Sa?”
Raisa : “Pacar kamu.”
Romy : “Maksudnya apa?”
Raisa : “Itu telpon dari Dina, pacar kamu. Dan
intinya, sekaNag kita putus!”
Romy : “Tapi Sa?”
Ditempat yang sama, dua remaja
sedang terjebak dalam sebuah kegalauan, kegelisahan dan kegagalan cinta.
Menangis sambil termenung. Tanpa di sadari, itulah saat cinta yang sesungguhnya
akan di pertemukan.
Raisa+Ray
: “Aku galauuuu!!”
Raisa : “Ray?”
Ray : “Raisa? Ngapain kamu disini?”
Raisa : “Aku galau, aku baru putus sama Romy.
Ternyata Romy mendua. Aku benci dia!”
Ray : “Sabar ya.”
Raisa : “Kamu kenapa disini?”
Ray : “Resti memutuskanku karena dia tahu,
aku menyayangimu.”
Raisa : “Please, ray. Jangan bercanda di saat
seperti ini. Gak lucu!”
Ray : “Ini serius Sa. Ini karena lukisan
itu, R sebenarnya inisial dari Raisa. Karena di hatiku hanya ada kamu.”
Raisa : “Tapi Resti bahkan lebih perfect
dibanding?”
Ray : “Tapi aku suka Raisa yang apa
adanya.”
Raisa : “Aku juga menyayangimu, rasa yang sekian
lama ku pendam.”
Ray : “Raisa, jika engkau mau. Aku ingin
engkau menjadi tulang rusukku.”
Raisa : “hembs.. aku tak tahu, Ray.”
Ray : “Baiklah, jika kamu mau genggam
tanganku. Jika tidak, letakkan jatuhkan tanganku di kursi ini.”
Raisa : (perlahan menurunkan tangan Ray ke kursi. Tapi sebelum sampai
di kursi, ia menariknya) “aku menyayangimu” (tersenyum)
Akhirnya mereka bersatu, setelah
sekian lama saling memendam perasaan. Karena cinta itu bagai air, meski dalam
perjalanannya mereka lewati sungai, danau, waduk dan kolam tapi pada akhirnya
mereka akan tetap bermuara ke hati yang sama. Itulah CINTA.
No comments:
Post a Comment