“Aku
capek satu sekolah sama mereka, Nda. Aku pengen satu sekolah sama kamu aja !”
katanya sambil menangis dipelukanku.
Sekarang fikiranku kembali pada pertemuan pertama kami, Sembilan tahun yang lalu. Aku masih ingat benar bagaimana pertama kali kami bertemu. Aku masih ingat saat aku dikepang dua, dan dia berambut pendek. Berseragam putih merah. Dan masing-masing dari kami masih sering menangis, enggan sendiri di sekolah. Tak berani menatap satu sama lain. Malu.
Sekarang fikiranku kembali pada pertemuan pertama kami, Sembilan tahun yang lalu. Aku masih ingat benar bagaimana pertama kali kami bertemu. Aku masih ingat saat aku dikepang dua, dan dia berambut pendek. Berseragam putih merah. Dan masing-masing dari kami masih sering menangis, enggan sendiri di sekolah. Tak berani menatap satu sama lain. Malu.
Tapi tak
lama, dua hari berselang kami sudah berubah. Bisa dibilang ‘tidak punya malu’
lagi. Kami mulai saling membutuhkan. Aku menyayanginya. Dia memang teman
pertamaku, karena aku memang tak sempat duduk di bangku taman kanak-kanak.
Panggil saja dia Vati. Sahabat yang paling berarti bagiku. Kakak ketigaku.
Kekasih sekaligus ibuku.
Enam tahun pertama, kami masih satu sekolah. Bertemu enam kali dalam seminggu. Ditambah lagi waktu bermain kami yang kadang membuat kami berjam-jam berdua. Aku masih ingat ribuan hal konyol yang kami lakukan bersama. Ada satu kenangan yang tak akan pernah aku lupakan. Yaitu saat
kami duduk di kelas dua SD.
Enam tahun pertama, kami masih satu sekolah. Bertemu enam kali dalam seminggu. Ditambah lagi waktu bermain kami yang kadang membuat kami berjam-jam berdua. Aku masih ingat ribuan hal konyol yang kami lakukan bersama. Ada satu kenangan yang tak akan pernah aku lupakan. Yaitu saat
kami duduk di kelas dua SD.
Setelah
menjadi korban sinetron di TV yang kami tonton, dengan sok dewasanya kami
membuat satu surat cinta. Benar-benar gila sebenarnya. Karena bahkan kami hanya
asal pilih, siapa lelaki yang akan kami kirim surat. Dengan modal kata-kata sok
romantic yang didapatkan Vati, kami membuat surat itu. Konyol, ya memang.
Memalukan ? Ah, gak perlu ditanya lagi. Belum lagi saat disekolah surat itu
ditemukan oleh guru kami ! Mampus .. Bener-bener mampus.
“Ndaa !
Kamu denger gak sih aku curhat !”, teriakan Vati memecahkan hayalanku. Aku baru
sadar beberapa menit yang lalu dia telah melepaskan pelukannya dariku.
“Eh,
maaf Say. A.. anu aku eh.. em aku denger kok”, jawabku terbata-bata.
“Kamu
tu ya, kebiasaan ! Suka ngayal ! Suka melamun ! Aku masih curhat, dengerin ya”,
ocehnya yang khas membuatku merasa bersalah. Aku hanya mampu meminta maaf. Dan
mendengarkan curhatannya dengan baik.
Aku masih
memandangi dinding biru kamarku. Sesekali kulihat matanya yang tak
henti-hentinya mrmbuat puluhan tetes air itu mengalir di pipinya. Sesekali aku
menatap ke langit-langit. Mencegah air mataku ikut mencair. Mencoba tersenyum,
berusaha membuatnya agar lebih baik.
Sekali
lagi kupandangi wajah itu, wajah yang biasanya memberiku semangat. Hari ini
berbeda ! Aku tak menemukannya lagi. Dan kali ini aku pasrah, kubiarkan air
mataku luruh. Meninggalkan embun tipis di kacamata minus-ku. Sesekali kulepas
dan ku lap kacamataku dengan jilbab biruku.
“Ayolah
Vati.. Aku gak bias melihatmu menangis. Aku gak sanggup. Tapi untuk member I saran
pun aku belum mampu. Aku bukan penasehat yang baik. Yang pasti, di dunia ini
masih ada jutaan orang yang menyayangimu, mereka tak mampu kehilangamu. Jika
sebagian memang hanya bias membuatmu menangis, ingatlah sahabatmu, papamu,
mamamu, dan orang-orang yang kamu sayang”, kataku setelah setengah jam diam.
“Tapi
Nda, mereka tak mengerti arti dari sahabat ! Mereka mengatakan ‘aku sahabatmu’
tapi mereka menusukku dari belakang ! Mereka hanya menyayangiku saat mereka
butuh. Tapi sekarang, saat mereka tak butuh. Mereka pergi begitu saja ! Apa itu
sahabat ?!”
Aku
memegang tangannya lalu tersenyum tipis, “Mereka itulah yang mampu membuatmu
lebih kuat. Bahkan terkadang bukan aku Nda. Kamu tau Candy di kartun Spongebob
? Dia memang makhluk darat, tapi dia mampu kan tinggal di laut ?”
“Tapi
itu kan Cuma kartun Nda !”
Ku
pegang tangannya lebih lembut, kuusap air matanya, “Iya sih, tapi gak mustahil
juga kan suatu hari nanti kita buat rumah di dasar laut.”
“Haha.
Iya Nda. Nanti kamu sama aku ! Males sama yang lainnya !”
“Tapi
coba bayangin deh, kalau kita tinggal berdua disana. Waktu kita main sampai ke
sorean, disana gak ada mama kita yang ngomel sama kita. Terus apa gak kangen
sama sifat mereka yang bikin bête ? Atau gimana kalau tiba-tiba kamu benci sama
aku ?”
“Iya
juga sih, tapi tetep aja mereka jahat. Mereka itu selalu berbeda dibanding aku
! Mereka tak pernah menganggapku ada !”
“Kamu
tau, mengapa mereka anggap kamu berbeda ? Ya sebenernya aku juga anggep kamu
berbeda.”
“Jadi kamu ikutan mereka ?”
Dengan
tampang datar aku berkata padanya pelan “ Iya, kamu itu memang berbeda. Tapi
karena itu, aku makin mudah menemukanmu saat kita berjauhan. Karena kamu
berbeda, aku selalu merindukanmu meski aku dalam keramaian. Dan meski berbeda,
kamu itu selalu dominan di hatiku.”
Kupandangi
wajahnya yang mulai sempurna kembali seperti biasanya. Aku berdiri dan
mengambil buku diary ku. “Hey ! Udah senyumnya ! Ayo bantuin beresin kamarku !”
“ Ga
berubah kamu !! Tadi udah so sweet, sekarang jadi sok majikan lagi ! Uuuuh !!”,
dia bangkit dan melemparkan bantal merah muda padaku. Tertawa.
“Waspada
!!! Serangan agresi militer ketiga datang !! PERAAAAANG !!!”
Inilah
kami, dua manusia yang menyatu karena ribuan perbedaan. Mencari arti
kebahagiaan lewat persahabatan. Saling mengisi, saling memahami, saling
mencintai, saling menjaga. Aku menyayangimu, sobat.
“Udah
gak galau lagi kan !” kataku.
“ Haha,
enggak lah. Makasih ya sayang.”
“
Sama-sama, asal ada ice cream aja ! Kalau enggak tak bikin nangis lagi !”
“Nandaaaaaa
!!!!”
*The End*
No comments:
Post a Comment