Ahya
teman,
Pernahkah
kamu memperhatikan bagaimana pagi yang dingin, damai, tenang, dan disana kamu
mulai perlahan mencoba beradaptasi dengan pekerjaanmu. Ahya pagi itu memberikan
semangat. Semangat yang bahkan sampai detik ini aku bahkan belum bisa mendefinisikan
bagaimana luar biasanya mentari terbit dansemuanya mulai bergerak dari mimpinya. Ah luar biasa bukan? Bagaimana Allah bisa membuat waktu seperti ini? Terutama pagi itu, 06.26 WIB. 26 Juli 2013.
Tapi
kemudian perlahan kesan semangat itu biasanya mulai luntur. Siang. Lets check!
Betapa mulai gerahnya suasana siang hari, bahkan kau lebih sering malas-malasan
daripada bertahan dan berjuang untuk semua yang bisa dilakukan.
Hey?
Taukah kamu. Saat siang dimana banyak orang mulai tidur siang dan berhenti
beraktifitas, aku masih tetap bertahan? Melawan teriknya mentari yang seakan
memberikan isyarat agar aku berhenti. Atau, sesekali tempat tidur sederhana di
ruangan mu juga menggodamu di siang itu? Iyaa. Pasti. Mereka terkadang seakan
mengatakan : “untuk apa lagi kau bertahan? Berhentilah. Kau cukup lelah bukan? Mampirlah
sejenak. Aku akan menjagamu, meringankan bebanmu, dan membuat semuanya lebih
indah. Aku lebih baik dari pada dia. Berhentilah bertahan.”
Tapi
taukah kamu? Aku masih bertahan. Bahkan saat
aku lelah. Saat aku jatuh. Saat tiba-tiba siang yang panas berubah menjadi mendung
lalu hujan. Ah. Kau harusnya tau kawan, setelah panas, tak jarang harus ada
damai, tenang. Lalu hujan. Ah hujan, aku suka bagian ini. Dimana kau bebas
melihat air dimanapun, hingga nanti ada pelangi yang jelas-jelas akan menghapus
air itu. Ini indah kawan. Setelah lelah bekerja dan kau melihat pelangi.
Siapa
yang tak takjub? Kamu? Ah aku tak percaya. Aku tau kamu pernah menggambarkan
pelangi itu melambung jelas di buku gambarmu ketika kamu SD. Atau bahkan
sampai sekarang? Sampai bahkan kau membuatnya denga cat air, cat minyak atau
bahkan grafis? Atau jangan-jangan kau bahkan pernah melakukan perobaan ilmiah? Pantulan dari prisma? Atau
yang lainnya? Sesuatu yang indah selalu hadir kawan. Bahkan saat kau sendiri
itu tetap terasa indah.Pasti.
Hingga
senja semuanya indah kawan. Sunset. Indah juga kan? Kamu suka? Aku sangat
menyukainya. Adzan Maghrib, Burung-burung kembali ke sangkar, dan aku pulang
kawan. Taukah kamu beberapa bulan ini aku lebih sering sendirian pulang ke
rumah saat senja? Ah pekerjaanku selalu seperti tak mau pulang bersamaku. Kadang dia tergoda
oleh meja belajar, atau yang lainnya. Mungkin dia merasa lebih beguna dan
selesai disana. Nobody know about it, right?
Tapi
kadang aku juga tertarik dengan kasurku kawan, itu hal biasa bukan? Kau
kelelahan, dan disana ada kasur dikamarmu. Kasur yang tadi aku ceritakan? Ah
kadang kamarku bisa berubah-ubah. Ada yang lebih baik dari pekerjaanku. Tapi
kadang juga lebih buruk. Dan aku kembali kerumah lebih malam dari sebelumnya.
Maaf pekerjaanku, hari ini aku terlalu lelah. Aku tau kau marah, nanti aku akan
lebih baik, aku akan lebih baik.
Tapi
kawan, sayangnya pekerjaanku sia-sia. Hey? Bagaimana tidak? Ternyata orang
tuaku menyuruhku tidur terlebih dahulu. Mereka bilang aku terlalu lelah bila
mengerjakan pekerjaan itu. Malam itu dingin kawan. Bahkan lebih dingin dari
malam-malam sebelumnya. Dan aku benar-benar tak sanggup kawan. Oangtua ku
terlalu takut aku kelelahan mungkin. Akhirnya aku memilih untuk tidur. Tapi
tidurku tak pernah nyenyak. Aku masih sesekali mengerjakannya dalam kegelapan
kamarku kawan.
Ah..
Ini menyakitkan. Bagaimana tidak, mungkin minusku naik dua kali lipat dari
sebelumnya. Ah sakitt. Membaca tengah malam saat pekerjaan itu ternyata tak
lengkap. Aku baru sadar ada yang hilang. Aku mencari dan hasilnya masih nihil.
Masih benar-benar tak ku temukan. Semakin malam aku makin kehabisan bahan untuk
pekerjaanku.
Dan
hingga akhirnya aku mencoba tidur. Tidur. Namun takpernah terlelap. Namun malam itu makin
dingin. Sangat amat dingin. Dingin itu menghujam badanku. Dari kakiku, perlahan
membekukan satu demi satu organ. Tapi entah kenapa aku begitu merasa
pekerjaanku itu begitu harus ku selesaikan kawan. Melelahkan sebenarnya. Tapi
aku bertahan. Untuk kesekian kalinya.
Akhirnya
aku tertidur. Benar-benar tidur. Namun aku bermimpi pekerjaanku itu. Dan aku
tebangun.terbangun lagi. Berdiri. Mencoba berlari. Ahya kawan. Malam itu buruk sekali. Tanpa
bintang! Tanpa bulan! Apalagi aurora! Ah ini Indonesia kawan, berhenti berkhayal
yang terlalu indah.Takkan mungkin terjadi.
Aku
berlari hingga tengah malam. Lalu..
Hujan
kawan!! Hujaaann!!
Semuanya
menjadi makin dingin! Makin beku!! Hilang benar-benar hilang! Bahkan untuk
sekilas melihat pekerjaanku, aku tak berhak! Pekerjaan itu hilang! Aku tak
menemukannya. Sama sekali. Di meja belajarku, di manapun. Dia hilang! Ibuuu!!
Dia pergi.Aku tak menemukannya dimanapun.
Hujan.
Dingin kawan! Sangat dingin disini. Tengah malam di tengah hujan! Ah
menyakitkan! Pekerjaan yang aku pertahankan berbulan-bulan kini hilang! Tiga
belas bulan yang aku selalu jaga hilang begitu saja! Sakit! Dan hujan semakin
menjadi-jadi kawan!
Dan
aku berhenti. Berlutut. Menangis memberontak. Dan hujan semakin kencang. Ah
betapa dinginnya mala mini. Aku membeku ditempat itu.Tak mampu berkata. Hilang bersama gelap.
Dan
tiba-tiba pagi itu, aku melihat orang asing membawa pekerjaanku dengan bangga dan
senyuman. Ah Entahlah. Aku lelah kawan. Aku kecewa. Lihatlah! Harusnya dia tetap
jadi milikku bukan?!
Tapi, 'malam' ini lebih menyakitkan dibanding semuanya.
Pekerjaan
itu sejenak kutemukan saat aku mulai tenang. Lalu berkata : “Aku sudah punya
seseorang yang baru kok. Hahaha, gaperlu minta maaf atau menyesal, lagian
percuma saja kamu nungguin aku. Aku nggak bakalan kembali. Aku udah terlanjur sayang
sama dia. Maaf rasaku ke kamu benar-benar sudah hilang.”
Ah..
Malam ini, setidaknya aku sudah benar-benar sadar. Kau ada ditempat yang benar.
Aku tak perlu khawatir lagi. Seharusnya.Aku percayakan yang satu ini padamu, kawan :)
Aku percaya pada orang asing yang sekarang menjagamu dan berharap menjadi tulang rusukmu yang bengkok. Seperti aku dulu.
Aku percaya pada orang asing yang sekarang menjagamu dan berharap menjadi tulang rusukmu yang bengkok. Seperti aku dulu.
Good Night, Sky. Untuk terakhir
kalinya J b
Tugumulyo, 10 Oktober 2014
-K-
No comments:
Post a Comment