MAKALAH GEOGRAFI
“PENGARUH TOPOGRAFI WILAYAH TERHADAP POLA PEMUKIMAN PENDUDUK DESA L.
SIDOHARJO, TUGUMULYO”
Disusun
oleh :
Rizki Nanda
Putri
Kelas X Mia
1 SMAN Tugumulyo
Tahun
Ajaran 2014/2015
BAB.I. PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Sejak dahulu manusia
hidup secara berkelompok, bahkan pada masa manusia purba yang masih hidup
secara nomaden pun mereka telah mengenal hidup berkelompok. Manusia hidup
berkelompok karena mereka adalah makhluk social, mereka saling membutuhkan satu
sama lain, saling berketergantungan. Selain pada makhluk lainnya, manusia juga
menjalin k
etergantungan terhadap alam sekitar dan lingkungannya. Mereka membutuhkan air, transportasi, dan lain-lain untuk kehidupannya. Karena itulah manusia mulai membuat rumah-rumah dimana mereka bisa menemukan kebutuhan-kebutuhannya itu dengan mudah, seperti di pesisir pantai, mengikuti aliran sungai, ataupun mengikuti jalur jalanan dan lainnya, selain itu mereka sering juga memadati daerah-daerah yang memiliki potensi tanah yang baik, ataupun mereka biasanya juga tinggal di perkotaan dimana mereka bisa bekerja dengan mudah.
etergantungan terhadap alam sekitar dan lingkungannya. Mereka membutuhkan air, transportasi, dan lain-lain untuk kehidupannya. Karena itulah manusia mulai membuat rumah-rumah dimana mereka bisa menemukan kebutuhan-kebutuhannya itu dengan mudah, seperti di pesisir pantai, mengikuti aliran sungai, ataupun mengikuti jalur jalanan dan lainnya, selain itu mereka sering juga memadati daerah-daerah yang memiliki potensi tanah yang baik, ataupun mereka biasanya juga tinggal di perkotaan dimana mereka bisa bekerja dengan mudah.
Dari
pola persebaran penduduk yang saya lihat di Desa L.Sidoharjo itu juga saya
mengetahui tentang bagaimana penduduk L.Sidoharjo mencoba mencari potensi
terbesar untuk memperoleh kemudahan bagi kelangsungan hidupnya dengan membangun
rumah-rumah di tempat yang mereka anggap paling strategis.
B.
Rumusan
Masalah
Bagaimana pengaruh
topografi wilayah terhadap pola pemukiman penduduk desa L.Sidoharjo?
C.
Tujuan
Penelitian
Untuk mengetahui
pengaruh topografi wilayah terhadap pola pemukiman penduduk desa L.Sidoharjo.
D.
Manfaat
Penelitian
Dapat menambah
wawasan penulis dan pembaca tentang dampak pengaruh topografi wilayah terhadap
pola pemukiman penduduk desa L.Sidoharjo.
BAB.II. LANDASAN TEORI
A.
Pengertian dan
Penjelasan Topografi
Topografi adalah studi tentang bentuk permukaan bumi dan objek lain
seperti planet, satelit alami (bulan dan sebaginya) dan asteroid. Topografi
umumnya menyuguhkan relief permukaan, model tiga dimensi, dan identitas jenis
lahan. Relief adalah bantuk permukaan suatu lahan yang dikelompokkan atau
ditentukan berdasarkan perbedaan ketinggian (amplitude) dari permukaan bumi
(bidang datar) suatu bentuk bentang lahan (landform). Sedang topografi secara kualitatif
adalah bentang lahan (landform) dan secara kuantitatif dinyatakan dalam satuan
kelas lereng (% atau derajat), arah lereg, panjang lereng dan bentuk lereng.
Dalam kaitannyan dengan topografi dalam pembentukan tanah dapat dipahami
sebagai berikut:
Topografi alam dapat mempercepat atau memperlambat kegiatan iklim. Pada
tanah datar kecepatan pengaliran air lebih kecil daripada tanah yang berombak.
Topografi miring mempergiat berbagai proses erosi air, sehingga membatasi
kedalaman solum tanah, sebaliknya genangan air di dataran, dalam waktu lama
atau sepanjang tahun, pengaruh iklim nibsi tidak begitu nampak dalam
perkembangan tanah.
Didaerah beriklim humid tropika dengan bahan induk tuff vulkanik, pada
tanah yang datar membentuk tanah jenis latosol berwarna coklat, sedangkan di
lereng pegunungan akan terbentuk latosol merah. Didaerah semi aris (agak
kering) dengan bahan induk naval pada topografi datar akan membentuk tanah
jenis tanah grumusol kelabu, sedangakan di lereng pegunungan terbentuk tanah jenis
grumusol bewarna kuning coklat. Di lereng pegunungan yang curam akan terbentuk
tanah dangkal. Adanya pengaliran air menyebabkan tertimbunya garam-garam dikaki
lereng, sehingga di kaki gunung berapi didaerah sub humid terbentuk tanah
berwarna kecoklat-coklatan yang bersifat seperti grumusol, baik secara fisik
maupun kimianya. Dilereng cekung seringkali bergabun membentuk cekungan
pengendapan yang mampu menampung air dan bahan-bahan tertentu sehingga
terbentuk tanah rawang atau merawang.
Keadaan relief suatu daerah akan mempengaruhi:
a.
Tebal atau tipisnya lapisan tanah
Daerah yang memiliki topografi miring dan berbukit lapisan tanahnya
lebih tipis karena tererosi, sedangkan daerah yang datar lapisan tanahnya tebal
karena terjadi sedimentasi.
b.
Sistem drainase/pengaliran
Daerah yang drainasenya jelek seperti sering tergenang menyebabkan
tanahnya menjadi asam. Topografi mempengaruhi proses pembentukan tanah dengan 4
cara :
1. Jumlah air hujan yang dapat
meresap atau disimpan oleh massa tanah
2. Kedalaman air tanah
3. Besarnya erosi yang terjadi
4. Arah
pergerakan air yang membawa bahan-bahan terlarut dari tempat yang tinggi
ketempat yang rendah
Relief
atau topografi merupakan faktor pembentuk dan pengubah sifat dan jenis tanah
yang pengaruhnya dapat dibedakan sebagai berikut :
• Posisi
singkapan batuan (out crops) terhadap matahari
• Posisi
permukaan tanah terhadap penyinaran dan curah hujan
Sehingga dengan demikian komponen relief dan topografi yang menimbulkan
efek terhadap pembentukan tanah adalah :
• Beda
tinggi permukaan lahan (amplitude)
• Bentuk
permukaan lahan
• Derajat
kelerengan
• Panjang
lereng
• Arah
lereng
• Bentuk
punggung lereng
Semua komponen relief atau topografi tersebut bersama elemen iklim
secara tak langsung berkolerasi terhadap :
• Pelapukan
fisik dan kimiawi batuan
• Transportasi
(erosi) bahan terlapuk di permukaan tanah
• Translokasi
(pemindahan secara gravitasi) atau euvasi dan podsolisi
• Deposisi
dan sedimentasi atau illuviasi (penimbunan)
Dengan
demikian efek langsung relief dan topografi terhadap tanah adalah pada :
• Tebal daging (solum) tanah
Solum
tanah pada daerahlembah dan dataran akan lebih tebal dibandingkan solum tanah
yang terdapat dipuncak bukit atau lereng terjal.
• Drainase tanah
Tanah
didaerah lembah atau cekungan akan lebih jelek atau lambat dan sebaliknya untuk
daerah-daerah berlereng lebih cepat atau baik.
• Satuan tanah
Jenis
tanah yang perbedaanya ditentukan oleh regim kelembaban dan kelas drainase
serta penciri oksida reduksi, sangat dipengaruhi oleh reliefatau topografi.
• Tingkat erodibilitas tanah
Semakin besar selisih tinggi,
derajat kelerenga, dan panjang lereng maka semakin besar tingkat erodibilat
tanah.
B.
Pengertian
Pola Pemukiman Penduduk
Menurut Alvin L. Bertrand,
berdasarkan pemusatan masyarakatnya, pola pemukiman penduduk desa dibedakan
menjadi tiga kelompok, yaitu:
1.
Nucleated
village, yaitu penduduk desa hidup bergerombol
membentuk suatu kelompok yang disebut dengan nucleus.
2.
Line
village, yaitu pemukiman penduduk yang menyusun tempat
tinggalnya mengikuti jalur sungai atau jalur jalan dan membentuk deretan
perumahan.
3.
Open
country village, yaitu di mana penduduk desa memilih atau
membangun tempat-tempat kediamannya tersebar di suatu daerah pertanian,
sehingga dimungkinkan adanya hubungan dagang, karena adanya perbedaan produksi
dan kebutuhan. Pola ini disebut juga trade centre community.
Sedangkan menurut Bintarto,
terdapat enam pola pemukiman penduduk desa, yaitu:
1. Memanjang jalan.
Di daerah plain (datar) susunan desanya mengikuti jalur-jalur jalan.
2. Memanjang sungai.
3. Radial. Pola desa ini berbentuk
radial terhadap gunung dan memanjang sepanjang sungai di lereng gunung.
4. Tersebar, pola desa di daerah karst
gunung adalah tersebar atau scattered, merupakan nukleus yang berdiri sendiri.
5. Memanjang pantai.
Di daerah pantai susunan desa nelayan berbentuk memanjang sepanjang pantai.
Contoh ini terdapat di daerah Rengasdengklok Jawa Barat dan di daerah Tegal.
6. Sejajar
dengan kereta api.
Contoh pola desa radial. (Sumber: Indonesian
Heritage)
|
Contoh pola desa memanjang mengikuti pantai.
(Sumber: Indonesian Heritage) |
Jika kita perhatikan, ternyata ada keterkaitan
antara pola pemukiman penduduk dengan pola pemukiman dengan iklim, pola
pemukiman dengan kesuburan tanah, dan pola pemukiman dengan topografi wilayah.
1.
Kaitan Pola Pemukiman dan Iklim
Pada umumnya penduduk terpusat di daerah-daerah
dengan kondisi iklim yang mendukung kehidupannya. Banyaknya penduduk di suatu
daerah dengan curah hujan yang cukup banyak menyebabkan sumber air banyak
ditemukan di mana-mana. Hal ini dapat menyebabkan pola pemukiman penduduknya
juga tersebar. Kurangnya curah hujan menyebabkan sumber air sedikit. Dengan
demikian, penduduk akan mencari tempat tinggal yang memiliki sumber air untuk
menunjang kehidupannya. Hal ini dapat menyebabkan pemukiman penduduk membentuk
pola terpusat yang melingkari sumber air tersebut.
2.
Pola Pemukiman dan Kesuburan Tanah
Daerah yang memiliki tanah-tanah yang subur
dapat mengikat tempat tinggal penduduk dalam satu kelompok
(memusat). Sebaliknya, di daerah-daerah dengan tingkat kesuburan tanahnya sangat rendah (misalnya di daerah kapur), penduduk akan mencari tempat-tempat yang agak subur untuk tempat tinggalnya. Dengan demikian, pola pemukiman penduduknya akan membentuk pola tersebar (scattered).
(memusat). Sebaliknya, di daerah-daerah dengan tingkat kesuburan tanahnya sangat rendah (misalnya di daerah kapur), penduduk akan mencari tempat-tempat yang agak subur untuk tempat tinggalnya. Dengan demikian, pola pemukiman penduduknya akan membentuk pola tersebar (scattered).
3.
Pola Pemukiman dan Topografi Wilayah
Topografi merupakan faktor dominan yang
menyebabkan terjadinya perbedaan pola pemukiman penduduk di daerah-daerah. Pola
pemukiman penduduk di daerah pantai akan membentuk pola "line" atau
memanjang mengikuti garis pantai. Pola line juga akan terbentuk di sepanjang
jalan, jalan kereta, atau sepanjang aliran sungai. Begitu juga di daerah dengan
topografi relatif datar biasanya membentuk pola mengelompok.
Pada daerah dengan topografi kasar atau
bergelombang menyebabkan pola pemukiman penduduknya tersebar, karena mereka
mencari tempat yang agak datar untuk membangun tempat tinggalnya. Di daerah ini
tidak jarang jarak antara satu desa dengan desa lainnya sangat berjauhan, dan
hanya dihubungkan oleh jalan setapak.
C. Faktor yang Menyebabkan topografi wilayah berpengaruh
terhadap pola pemukiman penduduk desa L.Sidoharjo
·
Kemudahan
untuk mendapatkan transportasi
·
Kemudahan
untuk memperoleh kebutuhan air
Beberapa rumah di L. Sidoharjo dibangun di
dekat aliran sungai, hal ini dimaksudkan untuk memudahkan dalam memenuhi
kebutuhan air. Air tersebut biasanya mereka gunakan ketika musim kemarau, pada
saat air dari sumur kering.
·
Kemudahan
untuk memperoleh pendidikan dan kantor pemerintahan
Beberapa rumah di L. Sidoharjo dibangun
disekitar pusat pendidikan dan pemerintahan Desa L. Sidoharjo. Menurut pendapat
beberapa warga di sekitar TK Walisongo L.Sidoharjo, SDN L. Sidoharjo, SMPN L.
Sidoharjo dan kantor kepala desa L. Sidoharjo serta Posyandu adalah untuk
memudahkan dalam memperoleh pendidikan dan pelayanan masyarakat.
BAB.III. PEMBAHASAN
A.
SIMPULAN
Topografi wilayah
merupakan bentuk tampilan permukaan bumi. Topografi wilayah mempegaruhi banyak
hal, termasuk persebaran penduduk. Pada persebaran penduduk, topografi berperan
sebagai alasan penduduk untuk membangun rumahnya, baik di sepanjang jalan,
sepanjang aliran sungai, dan lainnya. Persebaran penduduk dengan alasan
topografi bertujuan untuk mempermudah penduduk itu sendiri untuk memenuhi
kebutuhannya. Termasuk kebutuhan social dan lainnya.
B.
SARAN
Sehubungan dengan
adanya keanekaragaman topografi wilayah, tak ada salahnya kita sebagai penduduk
membangun perumahan di tempat-tempat yang kita anggap strategis, Karen penduduk
di tempat-tempat lain pun sudah melakukan hal tersebut.
C.
DAFTAR
PUSTAKA
Penduduk di areal pusat pendidikan dan
pemerintahan Desa L. Sidoharjo
Kepala Desa L.Sidoharjo
No comments:
Post a Comment