April 2017.
Kali ketiga melewati perpisahan tanpa wali. Rasanya sudah biasa-biasa saja. Toh perpisahan hanya ritual berisi sambutan-nyanyian-tarian-tangisan. Bukan masalah besar yang tak bisa dihadapi sendirian.
Berkali-kali ku katakan pada diriku : tak apa. Lagian mereka tak datang bukan tanpa alasan.
Yang terpenting mamak mau menunggu di depan kelas saat pertama masuk sekolah hingga menemani lembur memperjuangkan PTN.
Yang terpenting bapak pernah menemani pergi ke SD malam-malam hanya karena : ada tugas menggambar gedung sekolah, aku lupa bentuk sekolahku, dan aku mau gambar yang sempurna. Hingga sekarang bapak harus banting tulang mencukupi segala keperluan dan keinginanku.
Perkara perpisahan, perpisahan hanya ritual akhir masa pendidikan yang isinya itu-itu saja. Toh akhirnya sama : aku tetap lulus jua.
Wisuda sama saja, ia hanya ritual perpisahan biasa yang bahkan bisa berulang tiga sampai empat kali dalam dua semester.
Bersyukurlah jika bapak sehat hingga nantinya bisa mengajak 'ibu' menemani bertambahnya kumpulan huruf di akhir namaku.
Bersyukurlah jika rezeki membawa satu-dua-tiga orang menyaksikan sumpah yang bisa menambah dua huruf di depan nama.
Lantas apa yang perlu dikhawatirkan, nan?
Jika nantinya tak ada yang datang, pasti mereka tidak datang bukan tanpa alasan.
Toh perpisahan hanya ritual sambutan-nyanyian-tarian-tangisan. Bukan masalah besar yang tidak bisa dihadapi sendirian.
Toh akhirnya sama : aku akan tetap lulus jua.

No comments:
Post a Comment