22/09/21, 10.25 WIB
Beberapa hari terakhir bangsal jantung ramai lagi.
Banyak yang sakit dada, sesak, tapi bukan karena sedang menyimpan duka.
Ada pula yang berdebar-debar, tapi bukan karena bertemu dia.
Mereka anak, ibu, ayah, dan saudara dari orang-orang baik yang menanti di luar gedung karena keterbatasan pendamping pasien karena pandemi.
Seringkali kondisi memaksa banyak hal, seperti sekarang, pandemi membuat orang yang memijakkan kaki di atap yang sama tetap tak bisa bersua. Padahal, ada yg sedang terluka, bahkan tak sadar ada belasan selang terpasang ditubuhnya.
Dan...
Banyak dari mereka seumuran bapak, mamak, dan ibu.
Jadi rindu rumah. Terlebih sudah lebih setahun pulang jadi istilah yang rasanya sulit sekali dicapai.
Teringat 4 tahun lalu, mamak akhirnya berpulang dengan kondisi gagal jantung. Sebab hipertensi dan diabetesnya yang sudah sulit sekali dikontrol. Dan sekarang kondisi kesehatan bapak ibu mulai butuh bantuan tenaga medis.
Jadi sering terfikir, sebenarnya jadi dokter untuk siapa? Tapi berikutnya selalu dapat jawaban, "gakpapa.. dimanapun kita tinggal, akan selalu ada orang baik yang menjaga. Meski belum bisa jadi dokter 24/7 untuk keluarga, percayalah ada ribuan sejawat yang insya Allah akan melakukan yang terbaik untuk mereka."
Bapak pernah bilang, yang intinya, "bapak sayang dan bangga Putri sudah bisa bantu keluarga besar berfikir dan mengambil keputusan untuk tindakan medis. Tapi, percaya sama yg disini ya. Mereka pun melakukan yang terbaik. Belajar yang rajin, jadilah dokter yg amanah utk siapa saja..."
".... karena kalau kita baik dan saling mendoakan, maka Allah akan pertemukan kita dengan orang-orang baik juga."
Hah.. sekarang malah aku yg sesak...
No comments:
Post a Comment