Wednesday, March 15, 2023

KALAU KAMU MENIKAHI SEORANG JURU DAKWAH

Hello! Hari ini aku mau rewrite @risalah_amar instagram post. Jadi postingan ini ditulis pada 18 Juni 2020 dan masih-dan-akan-selalu jadi postingan yang sering aku baca ulang hingga hari ini..
Dan.. Aku ingin sekali menyimpannya lebih lama di blog ini. Semoga.. Semoga Allah kuatkan tekad kita untuk tetap dan selalu membersamai jalan panjang ini. 

Sebab, jika nanti kita benar-benar menikah di jalan dakwah dan untuk jalan dakwah. Semoga pernikahan kita tak pernah sedikitpun menjadi alasan kita menepi dari jalan dakwah ini. Semoga tak pernah ada keraguan dan pertanyaan lagi..

-----------------------------------------------------------------------------------------------------

KALAU KAMU MENIKAHI SEORANG JURU DAKWAH

"Dia ada waktu untuk mengurus organisasi, ada waktu untuk mengurus umat, kenapa tak pernah ada untuk aku?"

Sahabat, pertanyaan itulah yang seringkali mampir. Padahal, bisa jadi itulah jawaban dari doa kita selama ini : untuk menikah, dengan seseorang yang dekat dengan Allah, hanya dekat dengan Allah.

Engkau, sahabat, selalu berdoa, " datangkanlah ia yang mengabdikan dirinya untuk dakwah..." dan engkaupun mengarahkan bidikmu kepada para aktivis dakwah. Yang dekat dengan malam, yang akrab dengan jalanan.

Jiwa seorang juru dakwah, tidaklah dapat dimengerti oleh seseorang yang menikahinya, hanya untuk dimiliki sendiri. Karena dia, adalah salah satu alat Allah untuk membina ummat ini. Bukan hanya alat-Nya yang Allah pinjamkan padamu.

Tetapi barangkali, saat engkau berdoa, engkau hanya membayangkan seorang hafizh Qur'an yang duduk di dipanmu, melafalkan ayat-ayat ini hanya untukmu, dan selalu memahat wajah senyuman.

Engkau, sahabat, membayangkan bahwa alat dakwah milik Allah itu, bisa kau miliki hanya dengan menikahinya. Dia menjadi lelaki yang menghilang dari jalan dakwah, karena 'menikah..'

Menikahlah, karena Allah.
Berpuasalah dari kebutuhanmu kepada bentuk dan tubuh. Bila engkau mengira lelaki pendakwah adalah sumber kebahagiaan, sungguh, kebahagiaan itu benar-benar fana. Ia akan pergi, saat Allah panggil dia dengan panggilan paling lirih sekalipun.

Bisa, sahabat. Ia bisa menolak panggilan Allah itu dengan slogan "saatnya berkata tidak.", tapi jauh dalam hatinya ada prasaan sangat bersalah dan berdosa. Cita-cita dakwahnya akan hancur. Ia akan mengutuk dirinya sendiri atas nama, "sudah menikah tidak boleh idealis."

Pikirkan kembali. Engkau butuh lelaki juru dakwah atau engkau butuh lelaki yang menemani kekosongan dirimu, mengusaikan masa kecilmu yang belum tuntas atau mendengarkan kemarahan dan ghibahmu berjam-jam lamanya.
Kau jangan mencari juru dakwah. Jangan. Jangan cari orang shaleh yang sedang asyik mengurus titipan Allah berupa umat padanya.

Kau hanya mengganggunya. Kau hanya akan mendapatkan kekosongan baru, yang muncul karena, "Lelakiku tak pernah kembali. Lelakiku tak ada waktu untukku."

Semua lelkai juru dakwah adalah laki-laki penuh cita-cita.
Dan karena batas cita-citanya adalah sejauh mana Allah memperjalankan mereka, maka hidup mereka menjadi tidak masuk akal.

Mereka menafkahimu dengan cara yang tidak dilakukan oleh lelaki lain. Mereka mengajakmu ke tepat tak seorangpun lelaki akhir zaman lain mengajaknya. Kalau engkau menikahi juru dakwah itu ; cintailah cita-citanya dulu. CIntailah cinta terbesarnya. Allah saja. Allah saja. Allah saja.

Untuk engkau, sahabat, lelaki yang dipanggil sebagai juru dakwah, sebagai ustadz, sebagai lelaki yang selalu mendengar panggilan dari jalan itu. Kalaulah engkau menikah : pulanglah... Pulanglah.. Bicaralah baik-baik pada istrimu tentang petualanganmu dan yakinkanlah ia bahwa engkau sangat menghargainya.

Untuk engkau, lelaki yang dipanggil sebagai juru dakwah. Bicaralah dengan jelas, apa cita-citamu, saat berkenalan dengan calon istrimu. Pastikan dia sepakat dengan cita-citamu.

Dia bukan pembantu rumah tanggamu yang membersihkan pakaianmu sepulang dari 'berdakwah'. yang menyediakan sarapanmu sebelum berangkat 'berdakwah'. yang membersihkan kamarmu saat kau tinggal 'berdakkwah'.

Lakukan semua sendiri. Lalu, ajak dia berdakwah. Bersamamu. Kalau kau tak bisa menuntaskan segala kotoran rumah itu seorang diri, kau tak butuh istri. Kau butuh jasa pembersih rumah.

Sahabat, keletihanmu di jalan dakwah membuatmu temperamen. Jengahnya telingamu mendengar keluh kesah umat akan membuatmu ingin bercerita saja di rumah. Sementara istrimu pun begitu. Dia ingin bercerita, tetapi kau tak ada. Kau kelelahan.

Jangan, sahabat. Jangan menikah kalau engkau belum menyadari bahaya besar perselingkuhan karena kau bosan dengan istrimu, sebab kau butuh telinga cantik yang selalu mendengar dirimu. Telinga, yang selelu kau cari di rumah, tetapi tak ada.

No comments: