Tahun ini menjadi tahun keduaku i'tikaf setelah pandemi. Masjid-masjid di Padang begitu riuh, ramai. Banyak sekali masjid yang berlomba-lomba menjadi tuan rumah yg hangat untuk bermalam. Kesyukuran penuh, Allah izinkan aku terjebak diantara takdir-takdir indah ini, terlebih Allah hadirkan lingkaran-lingkaran manis yang tak tau apakah nanti akan kembali aku temukan setelah keluar dari zona mahasiswa yang begitu nyaman ini.
Ya.. berangkat dari postingan teh @karinahakman yang menjadi salah satu kiblat ummahat masa kini yang aku kagumi (semoga Allah selalu jaga beliau sekeluarga), izinkan aku menulis sedikit saja jutaan rasa yang ada.
Bismillahirrahmanirrahim..
Mari kita mulai dengan membaca ulang postingan beliau.
Yaa..bagiku, dulu i'tikaf itu menjadi hal yang begitu asing. 'Ngapain sih repot-repot nginep di masjid. padahal kan ibadah bisa dimana aja.. kapan aja.. lagian udh mau lebaran apa gak mau ngurusin kue, bersih-bersih rumah aja?' Begitu banyak alasan.. Namun setelah hari pertama kali aku terjebak, begitu jauh aku jatuh hati. Benar kata teh karina, ithmi'nan menjadi perasaan yang tidak bisa diungkapkan. Kedekatan yang tak bisa dijelaskan.
Diawal memang begitu berat, tapi makin hari, rasanya memang hanya Allah saja yang menguatkan. Teringat tahun lalu, melewati hari-hari i'tikaf ditengah siklus anestesi yang mengandalkan fisik, kalau bukan karena Allah, pasti hari-hari panjang mengikuti OK akan menjadi sangat melelahkan. Tapi Allah yg sanggupkan..
Namun diluar kesibukan jomblo yg gaada apa-apanya. Selalu kagum dengan ratusan ummahat yg ditemui selama i'tikaf di Padang. Ummahat kuat yang sabar-tenang-hangat. Ummahat yang masih bisa menjawab dengan begitu lembut ketika tiba-tiba buah hatinya minta ditemani pupup di tengah tahajjud. Ummahat yang berjam-jam menggendong sambil duduk-berdiri-berjalan karena tiba-tiba buah hatinya rewel. Tak ada keluhan, sebab bibirnya telah disibukkan oleh nama-Nya.
Herannya, meskipun tetap aktif lompat-lari-jungkir balik, anak-anak tetap 'tenang' di dalam masjid. Kalau bukan Allah yg menjaga langsung mereka semua, pastilah rumit sekali. Pun jika ada satu dua anak unik yang menarik perhatian seperti tiba-tiba keramas tengah malam di keran wudhu atau memanjat pagar lantai 2. Tapi Allah beri kesabaran dan ketenangan luar biasa bagi ummahatnya.
Aku malu, begitu malu ketika menyadari bahwa aku punya banyak sekali cadangan alasan untuk menunda kebaikan. Mudah sekali melepas ribuan kebaikan yang Allah janjikan.
Semoga.. semoga Allah bantu kuatkan kita yang begitu lemah.. :")
Selamat menikmati malam-malam menenangkan ini..
26 Ramadhan 1444H
Penuh cinta,









