Monday, April 17, 2023

I'tikaf



Tahun ini menjadi tahun keduaku i'tikaf setelah pandemi. Masjid-masjid di Padang begitu riuh, ramai. Banyak sekali masjid yang berlomba-lomba menjadi tuan rumah yg hangat untuk bermalam. Kesyukuran penuh, Allah izinkan aku terjebak diantara takdir-takdir indah ini, terlebih Allah hadirkan lingkaran-lingkaran manis yang tak tau apakah nanti akan kembali aku temukan setelah keluar dari zona mahasiswa yang begitu nyaman ini.

Ya.. berangkat dari postingan teh @karinahakman yang menjadi salah satu kiblat ummahat masa kini yang aku kagumi (semoga Allah selalu jaga beliau sekeluarga), izinkan aku menulis sedikit saja jutaan rasa yang ada.

Bismillahirrahmanirrahim..
Mari kita mulai dengan membaca ulang postingan beliau.




Yaa..bagiku, dulu i'tikaf itu menjadi hal yang begitu asing. 'Ngapain sih repot-repot nginep di masjid. padahal kan ibadah bisa dimana aja.. kapan aja.. lagian udh mau lebaran apa gak mau ngurusin kue, bersih-bersih rumah aja?' Begitu banyak alasan.. Namun setelah hari pertama kali aku terjebak, begitu jauh aku jatuh hati. Benar kata teh karina, ithmi'nan menjadi perasaan yang tidak bisa diungkapkan. Kedekatan yang tak bisa dijelaskan.

Diawal memang begitu berat, tapi makin hari, rasanya memang hanya Allah saja yang menguatkan. Teringat tahun lalu, melewati hari-hari i'tikaf ditengah siklus anestesi yang mengandalkan fisik, kalau bukan karena Allah, pasti hari-hari panjang mengikuti OK akan menjadi sangat melelahkan. Tapi Allah yg sanggupkan..

Namun diluar kesibukan jomblo yg gaada apa-apanya. Selalu kagum dengan ratusan ummahat yg ditemui selama i'tikaf di Padang. Ummahat kuat yang sabar-tenang-hangat. Ummahat yang masih bisa menjawab dengan begitu lembut ketika tiba-tiba buah hatinya minta ditemani pupup di tengah tahajjud. Ummahat yang berjam-jam menggendong sambil duduk-berdiri-berjalan karena tiba-tiba buah hatinya rewel. Tak ada keluhan, sebab bibirnya telah disibukkan oleh nama-Nya.

Herannya, meskipun tetap aktif lompat-lari-jungkir balik, anak-anak tetap 'tenang' di dalam masjid. Kalau bukan Allah yg menjaga langsung mereka semua, pastilah rumit sekali. Pun jika ada satu dua anak unik yang menarik perhatian seperti tiba-tiba keramas tengah malam di keran wudhu atau memanjat pagar lantai 2. Tapi Allah beri kesabaran dan ketenangan luar biasa bagi ummahatnya.

Aku malu, begitu malu ketika menyadari bahwa aku punya banyak sekali cadangan alasan untuk menunda kebaikan. Mudah sekali melepas ribuan kebaikan yang Allah janjikan.

Semoga.. semoga Allah bantu kuatkan kita yang begitu lemah.. :")

Selamat menikmati malam-malam menenangkan ini..

26 Ramadhan 1444H
Penuh cinta,
Dari Padang kota tercinta.








Wednesday, April 12, 2023

Meski tak lagi ada rekan berlomba dalam kebaikan, semoga kita selalu bersegera menuju kebaikan

Hari ini masuk hari ke 22 Ramadhan 1444 H.
Ditengah mood yang fluktuatif karena nggak sholat,  nonton video re-launching nasyeed FSKI setelah menyelesaikan buku Teh Qoonita - Bertemu Dewasa akhirnya berhasil memporak-porandakan benteng ketahanan yang sudah disusun begitu kuat. Ah, akhirnya menangis juga~

Tinggal menghitung bulan menuju akhir masa menjadi mahasiswa. Rasanya campur aduk sekali.
Begitu banyak orang-orang luar biasa yang ditemui disini dan begitu berat meninggalkan semua itu secepat ini. :")

Jadi teringat, disalah satu tulisan di buku Bertemu Dewasa, Teh Qoonit menuliskan tentang perbedaan berlomba-lomba dalam kebaikan dan bersegera menuju kebaikan.

Ya, selama di Sumbar, kuat sekali sikut-sikutan dalam berlomba-lomba menuju kebaikan ini. Setiap kita diberi jalur lari yang disamping kanan-kirinya ada sahabat-sahabat baik dengan semangat begitu luar biasa. Mereka semua bersemangat, kuat sekali. Lomba yang tak hanya mencari pemenang, tp lomba yang dalam prosesnya ada begitu banyak uluran tangan untuk tetap bangkit menyelesaikan perlombaan. Begitu menyenangkan menjalani hari-hari berlari bersama mereka.

Tapi, menghitung bulan lagi, sepertinya besar kemungkinan masing-masing dari kita akan keluar dari jalur lomba masing-masing. Dan.. saat itulah berlomba-lomba dalam kebaikan akan terasa berbeda. Tak ada lagi riuhnya bersama mereka. :") Tapi, sebagaimana kita sama-sama menjaga lilin agar tak padam, semoga setelah fase mahasiswa ii kita masih menjaga lilin yang sama. Meski perlombaan ini tak lagi akan meriah, tapi setiap kita tau betul bahwa sebenarnya yang kita butuhkan adalah bersegera dalam kebaikan. Sekecil apapun, semoga semangat kita tetap terjaga.

Video re-launching nasyeed FSKI :
https://drive.google.com/file/d/1ngJ7Dd__w5m8D5QYY2TIEPV19tVQGxHE/view?usp=share_link