Satu kado kecil untuk teman dan
sahabat saya, Akhyar. Bukan kado sih sebenernya, soalnya dia yang minta paksa
-_- Ups.. keceplosan :D.. Ya berhubung
dia OSIS di SMA yang akan saya datangi, saya takut kalau dia balas dendam atas
tidak adanya cerpen pesanan dia. Meskipun cerpen ini sangat amat di
dramatisasikan. Tapi anggap saja kejadiannya seperti itu. Disini juga saya
mengalah, saya terlihat sangat ya gimanaaa gitu. Ah whatever -_- Yaaa…… jadi inilah diaaa….. CERPEN pendek –cerpen udah pendek deng ya- special untuk
Akhyaarrrr……. (lampu kerlap-kerlip. Bumi gonjang-ganjing, pelan-pelan panggung
mulai bercahaya)!!
AKU
TERLALU TAKUT KEHILANGANMU
“Ndaaaa,,,, bangun woooyyy….!!!
Banggguuuunn!” teriak seseorang diatas ranjangku.
“Uuhhhhh..” Kataku malas sambil
menarik selimut lebih tinggi.
“Males banget sih kamu.. Kata
ibumu kamu udah tidur dari blablablablabla.. Kamu itu harusnya
@^&*(^&*()*^^$%, males bener. Kamu itu cewek Nda blablablablablablaaa…
blablablablabla *&^&@%&*())(_()*^%$#!@#$$##!! Ngerti enggak sih loh
!!” makhluk itu masih mengomel. Mengomel sia-sia lebih tepatnya. Salah siapa
orang masih ngantuk gila kayak gini disuruh bangun.
“Nandaaaa !! Bangun nah.”
Sekarang dia lebih agresif. Menarik selimut merah bergambar bunga milikku. Melempariku
dengan boneka doraemon kecilku yang malang. Menepuk-nepuk pipi tembam ku yang
manis ini.
“Aaaahh.. Ampuuuunnn…” akhirnya
aku menyerah. Aku sangat menyesal. “Tau kamu bakalan datang kesini, pintu
kamarku bakal aku gembok. Jahatnya kamu mengganggu ritual tidur siangku !
Jahaaaaatttt” kataku marah sambil mengumpulkan 8 nyawa yang masih berkeliaran
di dunia lain. Perlahan kubuka mataku, dan ternyata makhluk itu VATI !!!
“Hahahaha.. Sumpah, kamu mirip banget sama lambang
bintang kamu. Liat tu rambut kamu udah kayak singa. Teriak-teriak ga jelas.
Singa-nya ngamuk. Hahahaha”, kata Vati santai. Merasa tak bersalah dengan semua
yang telah dia lakukan.
“Ngopo to Nduk ? Ribut tenan?” (baca : “Kenapa to nak ? Ribut sekali) kata
ibuku yang tiba-tiba memunculkan kepala dari balik pintu.
“waaaaa!” teriakku kaget, “Ibu tu
bikin kaget aja. Ini loh Vati. Ganggu tidur siangku. Huh !” kataku lagi. Ibu
hanya tertawa sambil meninggalkan kami berdua. Dan kini nyawaku sudah tepat
terkumpul semuanya.
“Udah, jangan marah ah. Ada
bisnis nih. Mau gak ?” katanya lagi sambil masih memasang senyumnya. Senyum
kemenangan karena berhasil mengganggu tidur siangku.
“Hem, bisnis apa?” tanyaku sambil
mengucek mataku pelan.
“Temenin aku main, ntar aku kasih
es krim gratis kok. Mau?”
“Hah ? Apa ?” Kataku demi
meyakinkan apa imbalan yang aku dapat.
“Temenin aku, nanti aku kasih es
krim”
“Haha, ayok ! Kapan ?” kataku
sambil berdiri mengambil jilbab rabbani dan kacamata di atas tempat tidurku
setelah mendengar imbalan itu. Tak apalah, meskipun tidurku terganggu. Yang
penting dapat es krim gratis. Hahaha.
“eiitss, enak aja. Cuci muka dulu
! ganti baju ! Gamau aku pergi ngajak temen kayak singa ga dikasih makan 7
bulan. Ancur!”
“Apa yang salah ?” kulihat
tubuhku dari kaki sampai kepala di depan cermin yang tergantung dikamarku.
Celana pendek berwarna merah, baju panjang kummel, muka lecek bangun tidur,
kacamata miring, jilbab terbalik. “Ahahahahaha…. Kereeennn.. style ku kereeenn”
teriakku lagi.
“cepetan ! ganti !” teriak Vati
lagi kepada ku yang masih mematut-matutkan tubuh didepan cermin sambil memasang
telunjuk di pipi ala gerakan keep smile.
Aku melirik Vati lagi. Lalu
memandang cermin lagi. Memasang wajah sedih. “Maaf ya Nadia. Kita harus ganti
style. Kalau tidak, kita gak bakal dapet es krim. Maaf Nadia” (Inget, Nadia itu
nama bayanganku di cermin! Dia itu kembaranku!)
“Ayoo Nandaaaa !!” Vati
menarikku. Aku masih memegang tangan Nadia. Enggan berpisah.
“Oke, aku nyerah.”, kuambil
handuk biru dari balik pintu kamarku. Bergegas menuju kamar mandi. Meninggalkan
Vati sendiri dikamarku. Kesepian. “Jaga diri ya Ti” kataku lagi sambil
memastikan Vati baik-baik saja.
“Alayy !! Pergi sono !” Vati
melempar boneka doraemon itu lagi. Kutangkap. Malang.
“Harusnya tadi aku simpan Emon di
berangkas bersama puluhan boneka lainnya. Kasihan kamu, jadi korban Vati”
kataku sambil mengelus Emon pelan.
***
Aku memandang hamparan sawah dan
toko pakaian di sepanjang perjalanan. Sebagian padi mulai menguning, bergoyang
pelan di tiup angin musim hujan. Ya, ini November. Awal musim hujan. Sesekali mentari pun tertutup awan gelap itu.
Dingin.
“Kita mau kemana sih?” tanyaku akhirnya.
“Jalan-jalan mbak Nanda” Kata
Rizki pelan.
“Eh, mbak nggak tanya dek Rizki.
Mbak tanya sama mbak Vati.” Kataku.
Ahya, tadi sebelum berangkat kami
menjemput Rizki dulu. Memaksanya mengikuti kami berdua. Padahal dia sendiri
yang pengen ikut. Aku hanya mengikuti kata-kata Rizki pada ku tepat sebelum dia
menaiki Beat putih milik Vati, “Mbak Nanda, masa Rizki dipaksa mbak Vati ikutan”.
Si Rizki itu adik Vati. Pria yang kurang lebih berusia 5 tahun itu memang sudah
akrab denganku. Ya, dia adik pura-pura ku.. :D
“Haha, kita ke dam, Nda”, jawab
Vati singkat.
“Dam ? Ngapain? Ketemu Akhyar ?”
“Lahiya, mau nggak ? gak mau ya
gak papa, gak dapet es krim. Turun disini, kamu jalan kaki pulangnya.” Ancam
Vati, sambil melirikku lewat spion.
“Eh, iya lah mau. Daripada aku
jalan.” Kataku setelah berfikir sebentar.
“Nah, gitu baru Nanda. Haha” kata
Vati sambil melajukan motornya lebih cepat lagi.
Rizki yang enggan ikut campur
perbincangan penting yang sangat gak jelas kami memilih untuk melanjutkan makan
roti isi coklat yang dibawanya tadi. Ku pandangi lagi langit, sekarang panas
lagi. Oh November..
***
Sampai di dam. Kulirik arlojiku,
14.15 WIB. Masih panas. Rumput disekitar dam masih menyisakan sedikit air sisa
hujan tadi pagi. Deru air dam berpadu dengan teriakan Rizki yang kegirangan
berlari naik turun tangga didekat jembatan.
“Pelan-pelan, Rizki!” , teriak
Vati.
Vati sahabat terbaikku, ya sebelumnya
memang aku sudah sering menulis postingan tentangnya di Blog pribadiku ini. Dan
kini, aku menceritakan tentang kisah cintanya, Kisah cinta monyetnya mungkin.
Ya kata orang-orang kisah cinta yang terjadi pada anak seusia kami ini adalah
cinta monyet. Cinta anak SMP.
Tapi, bagiku ini indah. Harusnya
mereka tak setega itu, kenapa nggak cinta marmut, biar lebih imut. Daripada
monyet. Ah, entahlah. Tak perlu menanyakan sesuatu yang sudah ditetapkan. Ya aku
ingat kata Akhyar di status teman beberapa hari yang lalu.
“Mbak Nanda, balapan sama Rizki
yuk. Siapa yang turun duluan dapat hadiah.” Kata Rizki mengajakku balap lari
menuruni tangga itu. Ku iyakan.
AKu dan Rizki masih saja tertawa.
Vati juga, tapi aku tau, dia menunggu.
“Masih lama gak Ti ?” Tanyaku,
meyakinkan.
“Eh, kayaknya enggak.” Jawabnya singkat.
Sekarang aku dan Vati menuju ke
atas jembatan. Ku gendong paksa Rizki. Duduk di samping tian biru di dekat
jembatan. Menunggu.
“Eh Vati, tuh dia.” Kataku sedikit
berteriak. Agar yakin dia dapat mendengarnya. Mengagetkan Vati yang masih
mencoba kacamataku. Melepasnya dengan cepat, menoleh kebelakang.
Lelaki itu, bersepeda dengan
jaket abi-abunya. Berjalan menuju kami, tersenyum. Dibalas senyum oleh Vati.
Membawa bungkusan, Es Krim!
Kami berempat duduk ditangga
disebelah jembatan. Memakan es krim itu. Berbicara secukupnya, tertawa
secukupnya, bahkan kepanasan sepuasnya. Ya, panas lagi. Menyebalkan.
Selebihnya aku hanya bermain
dengan Rizki, enggan mengganggu mereka. Ya bagiku lebih menyenangkan bersama
anak kecil, dari dulu aku selalu bilang “Gede itu gak seru. Serius mulu.”, tapi
aku juga nggak tau, kenapa sekarang aku malah pengen dewasa. Terlalu
kekanak-kanakan itu aneh juga.
“Eh, Rizki. Mbak mau ngomong
bentar.” Kata Vati sambil membisiki Rizki. Rizki hanya mengangguk, Vati
tertawa.
“Apa Vati ?” tanyaku.
“Aku tadi tanya, kakak itu
ganteng nggak. Kata rizki iya. Hahaha” bisik Vati.
“Haha, katanya anak kecil itu gak
bohong.” Jawabku.
“Apa sih ?” tanya Akhyar
penasaran.
“Enggaaakk” kataku dan Vati
bersamaan.
Kami tertawa lagi. Akhyar Diam,
memilih bermain bersama Rizki.
***
Ku lirik arlojiku lagi, 15.00.
Rizki mulai sibuk. Kehausan katanya. Vati masih enggan pulang. Ya aku tau
mengapa.
“Nda, mau gak temenin Rizki ke
warung depan?” bujuk Vati.
“Yah, aku sendiri ?” kataku
enggan bergerak.
“Kan sama Rizki, kasian dia mau
minum”
“Mbak nya siapa eh. Kok aku”
jawabku lagi, masih enggan.
“Ayolah, sekali. Kasihan Rizki”
“Okelah”. Kataku demi melihatnya
tersenyum. Ya, aku memang tipe orang yang nggak bisaan. Apalagi kalau yang
minta itu orang-orang yang ku saying. Apa saja yang penting dia bias tersenyum.
Ku gandeng Rizki, kuhidupkan beat
putih itu. Meninggaklkan mereka berdua. “Dek Rizki mau air mineral atau yang
lain?”
“Mau dua-duanya. Hehe” kata
Rizki.
“Jiah. Ya deh. Mau yang mana ?
Kalau banyak-banyak ntar Rizki mbak jual dulu baru beli minum kita.”
“Enggak mau! Yan anti aqua sama
kopi aja mbak”
“Okelah…”
Sesampainya di warung yang
berjarak hamper 400 meter dari dam itu kuambil satu botol air mineral dan satu
gelas kopi dingin dari lemari es di warung itu. Setelah hendak naik motor, aku
turun lagi. “Mbak, kopinya satu lagi ya” teriakku pada mbak-mbak yang menjaga
warung itu.
“Mbak Nanda pengen juga. Haha”
kata Rizki.
“Biarin. Wekkk” Kataku sambil
menjulurkan lidah pada Rizki. Menerima satu gelas kopi dingin itu. Membayarnya.
Tersenyum, “Makasih mbak” kataku. Rizki masih tertawa.
***
Kejadian-kejadian selanjutnya sih
nggak terlalu penting. Langsung skip ke kejadian sok romantic versi kami
berempat. Eh, Rizki enggak! Saat itu dia malah sibuk minta di gosok badannya.
Gatal. Bagaimana tidak, dari tadi dia tiduran, meluncur di rumput. Anak-anak.
Vati mulai diam, memegang tangan
Akhyar, menutupi wajahnya dengan jaket Akhyar. Kami bertiga tepat memandang
langit. Tidur, ya lagi-lagi tidak dengan Rizki. Sekarang dia sinbuk dengan air
mineralnya.
“Eh, hitung berapa burung itu!”
kata Akhyar.
Aku diam, tetapi menghitung.
Beberapa menit diam.
“39!” kata Akhyar.
“Yah, aku belum selesai !”
kataku.
“Lah, pantesan kalian diam.
Ternyata ngitung burung.” Kata Vati, terganggu.
Kami diam lagi. Damai.
“….. Nyanyikan lagu indah,
sebelum ku pergi dan mungkin tak kembali. Nyanyikan lagu indah, tuk melepasku
pergi dan tak kembali……” Perlahan suara deru air dan nyanyian dari lagu Lyla
itu menguasai sore itu. Kurang lebih pukul 17.00. Tak sempat ku lirik arloji.
“Nanti, kalau aku sudah di Jawa,
kalian gak boleh kangen ya” kata Vati memcahkan menit-menit itu.
“Kamu yakin VAti ?” tanyaku
sambil mencoba melihat matanya. Meyakinkan bahwa dia bohong.
“Iya, nanti aku SMA di Jawa. Aku
pasti rindum kalian.” Katanya lagi.
Aku dan Akhyar hanya diam.
“Nanti, setiap aku pulang. Aku
pengen kita kesini. Bertiga lagi.” Katanya lagi.
Aku hanya diam, membiarkan deru
air, lagu itu, langit senja, burung-burung, dan air mata yang diam-diam menetes
tanpa permisi.
“Eh, aku suka banget kayak gini.
Benar-benar free. Damai. Haha” kataku mencoba membuat suasana lebih
menyenangkan.
“Iya, tapi kamu ajak Putra ya
Nda!” kata Akhyar.
“Haha, gampang.” Kataku.
Diam lagi, dan inilah saat yang
paling indah. Mungkin bagi Akhyar dan Vati ini lebih indah. Disinilah, saat langit mulai menjingga.
Burung-burung mulai beranjak kembali kesangkarnya, sesekali suaranya sampai ke bumi.
Saat mentari perlahan mulai meninggalkan
bagian kita..
Terdengar lagi air sungai yang
perlahan mengalunkan kedamaian bersama dengan detak jantungku yang ku tahu
sedang memanggil indah namamu. Saat nafasku mulai tak beraturan, mengingat kita
akan berpisah.
Sekarang, aku bias menghitung
setiap denyut nadimu, denyut nadi yang bergerak bersamaan dengan setiap
hembusan nafasku..
Saat inilah, aku terdiam.
Disampingmu, menghilangkan air mata yang tanpa ampun terus menetes tanpa
seorangpun tau..
Saat ini, bahkan denting arlojiku
terasa menyakitkan. Aku hanya ingin mengehentikannya. Memastikan waktu tak
berjalan. Aku tak ingin saat itu tiba..
Aku terlalu menikmati saat-saat
ini. Senja bersamamu.
Aku tau, mungkin engkau dan
Akhyar merasakan apa yang kurasa. Bahkan lebih indah. Bahkan lebih sakit.
Karena cinta itu..
Senja ini aku bersama kalian..
Lagi-lagi bayanganku menginginkan
lelaki itu disini, aku malu jika harus menangis didepan Akhyar dan Vati. Aku
ingin mengatakan pada bayangan itu bahwa aku tak ingin kehilangan sahabatku.
Aku ingin disini, bersama bayangan itu dan bersama sahabat-sahabatku. Aku ingin
berempat disini.
Merekalah.. Sahabat terhebat.. Kekasih
terhebat..
Merekalah, orang-orang yang mampu
membuatku menghargai tiap hembusan nafasku..
Mereka itulah, orang-orang yang
berarti..
Orang-orang yang tak perlu ku
sebut namanya, tapi sangat berharga.
***
“Mbak, pulang yuk! Udah sore.
Ntar mama marah” kata Rizki menghentikan semuanya.
“Ayo, sebelum hujan,” kata Vati.
Kami pulang, bersama tetes hujan
yang perlahan mulai menghujam bumi. Bersama dengan hatiku yang masih enggan
kehilangan.
“Vati, aku menyayangimu. Sahabat terbaikku. Aku ingin selamanya seperti
ini. Meski aku tau, dengan berpisah aku akan mengerti apa artinya merindukanmu.
Aku hanya ingin meyakinkan pada hati ini. Esok, saat aku mengirimkan SMS
seperti biasanya, kamu masih bisa dating kerumahku dalam hitungan menit. Aku
terlalu tau rasa sakit saat jauh darimu. Aku mengerti, ini adalah keinginan dan
cita-citamu. Hanya karena itulah aku merelakanmu. Tapi, aku masih ingin disini
bersamamu. Melihatmu tersenyum, melihatmu tersipu saat ku sebut nama Akhyar.
Dan.. aku masih ingin, menangis bersamamu di pelukanmu. Meskipun, aku tau kau
sering menggangguku. Aku pasti merindukanmu.” Kataku dalam hati membiarkan
air hujan itu mentes membuat air mata itu tak terlihat. Aku selamanya ingin kau
mengingatku sebagai sahabat.
_END_
________________________________ Pesan _____________________
1. Kejadian awal gak separah itu sebenernya. AKu
gak gila. (melindungi image ku Haha)
2. Maaf Akhyarrr.. KAmunya dikit. Malah keliatan
curhat akune. :D
3.Maaf Buat vati, banyak yang gak sesuai :D
4.Maaf dedek Rizkii.. Mbak Nanda kebanyakan
ngebully Rizki. Hahaha.
5.
Maaf buat pembaca, kalau ceritanya jelek :D
6.
Buat yang puisi tentang senja itu, sebenernya
bukan buat kejadian ini. Tapi tak buat sebelum kejadian. Berhubung cocok. Tak
masukin deh. Makanya kalau isinya agak maksa ya gakpapa.. Hehehe :D
7.
Semoga Akhyar suka, dan nggak ngebully waktu
saya masuk SMA. (pembaca bantu doa yaaa)

No comments:
Post a Comment