Hari ini mau ngepost cerpen. Cerpen asal-asalan demi sahabatku, Jihan. Berhubunga saya memang sangat baik sangat. -_-. -Sebenere ora deng- dengan jurus andalannya, diam. Satu jurus yang mampu melumpuhkan ketegaanku. -_- Lahhh.. Gimana enggak, ngambeknya beneran broo.. Yaudah tak buatin aja. Karena aku sayang. -Uhuk- Yang penting tugas terlaksana, enggak di marahin, enggak di diemin, yang pasti biar dapet es krim gratis. Hahahaha.. Kalau berkenan baca ya alhamdulillah, enggak ya enggak papa. Ceritanya yaaa gitulah. and This is it.. Maaf ancur, typo, ra nyambung -_- Monggo di lihat,,
Mungkin Memang Bukan Di OSN Tapi Di O2SN
Mungkin
ini sangat mendadak. Ya Olimpiade. Dua hari yang lalu, guru memanggil delapan
anak yang dominan berasal dari kelasku. Enggi, Meilita, Putri, Aku, dan empat
anak dari kelas tujuh. Dengan mudahnya guru itu member tahu kami bahwa dua hari
setelah panggilan itu kami mengikuti olimpiade, dan aku mengikuti olimpiade
IPS.
Setelah
pengumuman, kami boleh meminjam buku mata pelajaran yang kami dapat. Sesegera
mungkin aku mengambil buku cetak IPS, dari kelas tujuh sampai kelas delapan.
Sial, aku mendapatkan pelajaran yang banyak menghafal. Tapi, disinilah aku akan
menunjukkannya.
Dua
hari dua malam, aku selalu ada didepan tumpukkan buku tebal itu. Ahya, dalam
cerita ini aku hamper melupakan satu hal, saat itu kami masih mengikuti ulangan
MID semester genap. Jadi, kami harus pintar-pintar membagi waktu antara ulangan
dan olimpiade.
Malam
pertama, kuhabiskan untuk membaca buku IPS kelas tujuh, meskipun sudah pernah
dipelajari, tapi rasanya ini tetap sulit. Apalagi dalam tempo yang sesingkat
ini. Dari awal aku selalu khawatir bagaimana jadinya nanti. Banyak sekali hal
yang harus dihafalkan.
“Han..
Makan dulu gih. Dari tadi kamu belum makan kan ?” panggil ibuku dari ruang
tengah.
“Iya
,bu. Bentar lagi nih. Tanggung.” Jawabku tanpa berpaling dari buku pelajaran.
Yang sore ini aku sudah mulai mempelajari pelajaran kelas delapan.
“Makanlah
dulu, dek. Kalau sakit nanti malah enggak bias ikut olimpiade.” Kata kakakku
menimpali.
Akhirnya
aku bangkit, masih membawa salah satu bukuku ke dapur. “Bu, sendok nasinya
dimana ?” teriakku.
“Hahaha,
dasar kamu. Makanya kalau mau makan ditinggal dulu. Orang udah kamu pegang kok
masih dicari.” Kata kakak perempuanku itu lagi.
“Ihh,
kakak diam dulu.” Kataku kesal. Merka itu tak tau bagaimana rasanya. Kan usaha,
kalau menang juga nanti merka ikutan senang.
***
Akhirnya
hari itu tiba. Pagi-pagi sekali aku bangun, kembali menghadap ke soal-soal
olimpiade tahun kemarin yang diberikan guru IPS padaku. Kulirik jam dinding
yang tergantung disebelah pintu kamarku. Masih pukul empat pagi.
Kulirik
lagi jam itu, dan “Hah ! udah jam enam ?” teriakku sambil berlari dan bangkit
mengambil handuk di pintu kamarku. Ternyata belajar membuatku lupa waktu. Dua
jam terasa seperte dua menit.
Setelah
bersiap-siap aku segera memanaskan motorku, membiarkannya agar tidak mogok.
Bisa bahaya kalau sampai mogok. Sebenarnya jarak antara rumahku dan sekolah
tidak terlalu jauh, tapi lumayan lah.
“Bu.
Jihan berangkat dulu ya. Assalamualaikum” kataku sambil berlari kecil menuju
motorku.
“Iya
nak, hati-hati. Semoga sukses olimpiadenya.” Kata ibuku dari dalam rumah.
Aku
hanya diam di perjalanan, sesekali mengingat hafalan ku. Berdoa dalam hati agar
kesuksesan bersamaku. Aku sangat berharap. Sangat berharap.
Sesampainya
di sekolah, aku sempatkan bertanya soal-soal yang belum kumengerti pada guru
IPS di kelasku. Seperti teman-temanku yang lain. Tapi tak lama setelah itu kami
berangkat.
Aku dan
tujuh temanku bersama bu Ngatini dan pak Legiman mulai meninggalkan sekolah
dengan mobil milik pak Legiman. Sesekali kulihat wajah-wajah teman-temanku.
Tampak tetap tenang, padahal aku melihat kekhawatiran juga di mata mereka.
Pengumuman yang mendadak memang membuat kami tidak siap.
***
Sesampainya
di SMPN Muara Beliti, kami segera mencari ruangannya. Ternyata ruang IPS ada di
ujung belakang. Dekat dengan ruang Fisika.
Bel
tanda pengumuman pun terdengar, dengan mengikuti intruksi dari guru kami
berbari sisepan kantor sekolah yang bagiku sangat luas itu. Sedikit sambutan dan
intruksi diberikan. Aku dan puluhan anak dari sekolah lain hanya mendengarkan
dengan tampang yang cukup cemas.
Ada
satu harapan agar aku bisa mengikuti olimpiade ditingkat yang lebih tinggi
lagi. Ya diingkat Provinsi. Oleh karena itu, aku tak pernah berhenti belajar.
Aku ingin semuanya tercapai.
Selesai
sudah intruksinya, kami semua dipersilahksan masuk ke ruangan masing-masing.
Setelah beberapa menit duduk, ada seorang guru yang asuk kesana. Membagikan
beberapa lembar soal yang terdiri dari lima puluh soal.
“Waktunya
dua jam setengah. Pilih soal yang mudah terlebih dahulu. Kerjakan dengan
hati-hati.” Kata pengawas diruangan itu.
Dua jam
setengah berlalu dengan cepat, dan perlahan semua soal sudah kujawab. Aku mulai
yakun dengan jawabanku. Dan aku putuskan untuk meninggalkan ruangan.
Mengumpulkan lembar jawaban itu.
Saat
keluar, aku segera menuju ke rombongan sekolah kami yang berada di depan ruang
Matematika. Ku lihat semua wajah mereka pucat. Termasuk aku.
“Gimana
soalnya ?” kata temanku.
“Lumayanlah.”
Kataku
Tak
banyak komentar, ya mungkinm karena factor pikiran yang sudah kacau. Kami hanya
mengikuti intruksi dari guru. Tanpa babibu, kami pulang. Meninggalkan sekolah
dengan 21 kelas itu.
***
Hamper
sebulan kemudian. Tak ada tanda-tanda bahwa aku menang. Mulai pesimis. Apalagi
setelah aku tau bahwa adik kelasku yang mengikuti olimpiade biologi mendapatkan
juara pertama. Aku benar-benar kecewa.
Setelah
itu, pak Kasmin membawa lembar peringkat. Dipanggilnya aku dan teman sekelasku
Putri. Ternyata aku mendapat peringkat enam dan Putri mendapat peringkat empat.
Seharusnya sedikit lagi kami bisa mendapat tiga besar. Tapi ya inilah hasilnya.
Puas tak puas.
Tapi
setidaknya, olimpiade itu mengajarkan aku arti berusaha. Tak ada tabf perlu disesali.
Setidaknya beberapa bulan setelah olimpiade itu, aku dan kelompok bolaku
memenangkan O2SN tibgkat provinsi. Atas usaha itu kami mendapat peringkat tiga.
“Mungkin memang bukan di OSN, tapi di O2SN.” Kataku dalam hati.
No comments:
Post a Comment