RESENSI
KARYA SASTRA FIKSI
“DAUN YANG JATUH TAK PERNAH MEMBENCI ANGIN”
DISUSUN OLEH :
NAMA :
RIZKI NANDA PUTRI
KELAS :
XI IPA 1
GURU PEMBIMBING :
DIAN YUVITA SARI
SMA NEGERI TUGUMULYO
TAHUN AJARAN 2015/2016
CINTA DARI
POHON LINDEN
Judul buku :Daun yang
Jatuh Tak Pernah Membenci
Angin
Penulis : Tere-Liye
Penerbit : PT Gramedia Pustaka
Utama
Cetakan X : Mei 2013
Kategori : Fiksi, Novel
Tebal Buku : 264 halaman; 20cm
Harga :
Rp.48.000,-
Tere Liye adalah
putra asli Sumatera Selatan, lulusan Fakultas Ekonomi UI jurusan Akuntansi. Nama “Tere Liye” merupakan nama pena seorang penulis
berbakat tanah air yang bernama asli Darwis. Tere Liye sen
diri di ambil dari
bahasa India dan memiliki arti untukmu.
Penyampaiannya
yang unik serta sederhana menjadi nilai tambah bagi tiap novelnya. Justru karena kesederhanaannya, tiap
kita membaca lembaran demi lembaran novelnya, kita serasa melihat di depan mata
apa yang Tere Liye sedang sampaikan. Uniknya kita tidak akan merasa sedang di
gurui meskipun dari tulisan-tulisannya itu tersimpan pesan moral, islam serta
sosial yang penting. kebanyakan
orang menyangka tema novel Tere Liye hanya berkisar masalah keluarga – padahal
ada juga yang temanya tentang Politik dan Roman Pop, selain itu karya Tere Liye biasanya mengetengahkan seputar
pengetahuan, moral dan agama islam.
Berikut 23 buku Tere-Liye:
1.
Pulang
2.
#Aboutlove
3.
Bulan
4.
Rindu
5.
Dikatakan Atau Tidak Dikatakan, Itu
Tetap Cinta
6.
Bumi
7.
Amelia
8.
Eliana, Serial Anak-anak Mamak
9.
Pukat, Serial Anak-anak Mamak
10. Burlian, Serial Anak-anak Mamak
11. Negeri Di Ujung Tanduk
12. Sepotong Hati Yang Baru
13. Negeri Para Bedebah
14. Berjuta Rasanya
15. Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah
16. Sunset Bersama Rosie
17. Kisah Sang Penandai
18. Ayahku (Bukan) Pembohong
19. Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci
Angin
20. Hafalan Shalat Delisa
21. Moga Bunda Disayang Allah
22. Bidadari-Bidadari Surga
23. Rembulan Tenggelam Di Wajahmu
Dari beberapa novel tulisannya tersebut terlihat
sekali kemampuannya dalam membuat novel dengan berbagai genre hingga novelnya selalu
menjadi best seller di pasaran. Demikian pula dengan novel berjudul “Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci
Angin” ini. Novel fiksi dengan tema cinta ini mampu mengajak pembaca
berpetualang di alam khayal yang beliau ciptakan. Berbagai konflik, mulai dari
perekonomian, pendidikan, beda usia, dan yang lainnya terangkum indah dalam
novel ini.
SINOPSIS
Dia bagai malaikat bagi keluarga kami.
Merengkuh aku, adikku, dan Ibu dari kehidupan jalanan yang miskin dan nestapa.
Memberikan makan, tempat berteduh, sekolah, dan janji masa depan yang lebih
baik
Dia sungguh bagai
malaikat bagi keluarga kami. Memberikan kasih sayang, perhatian, dan teladan
tanpa mengharap budi sekali pun. Dan lihatlah, aku membalas itu semua dengan
membiarkan mekar perasaan ini.
Ibu benar, tak
layak aku mencintai malaikat keluarga kami. Tak pantas. Maafkan aku, Ibu.
Perasaan kagum, terpesona, atau entahlah itu muncul tak tertahankan bahkan
sejak rambutku masih di kepang dua.
Sekarang, ketika
aku tahu dia boleh jadi tidak pernah menganggapku lebih dri seorang adik yang
tidak tahu diri, biarlah... Biarlah aku luruh ke bumi seperti sehelai daun...
daun yang tak pernah membenci angin meski harus terenggutkan dari tangkai
pohonnya.
ULASAN
Novel ini mengisahkan kehidupan
kakak beradik Tania dan Dede yang harus putus sekolah dan menjadi pengamen
karena keterbatasan ekonomi keluarga sepeninggal ayah mereka. Mereka berdua
tinggal di rumah kardus dengan ibu mereka yang sakit-sakitan.
Kehidupan mereka berubah setelah
bertemu dengan seorang pria bernama Danar. Danar adalah seorang karyawan yang
juga penulis buku anak-anak. Danar begitu baik sehingga keluarga ini
menganggapnya seperti malaikat. Tania sangat mengagumi Danar karena selain
baik, dia juga punya wajah yang menawan.
Suatu ketika Danar memberikan
bantuan sehingga Tania dan Dede bisa kembali sekolah dan ibunya berjualan kue.
Dengan penghasilan ibunya, akhirnya mereka pun dapat tinggal dikontrakan.
Mereka pun semakin dekat seperti keluarga. Danar pun sering mengajak Tania dan
Dede untuk pergi ke toko buku yang terletak di Jalan Margonda Raya. Toko buku
itu kemudian menjadi tempat favorit mereka karena disana mereka bisa bertukar
cerita, melamun, mengkhayal dan menikmati indahnya malam dari dinding kaca
lantai dua toko buku tersebut.
Suasana agak berubah ketika danar
membawa teman dekatnya yang bernama Ratna. Tania merasa cemburu, ia tidak suka
melihat kedekatan Danar dengan Ratna. Rasa tidak suka itu bukan sekedar
perasaan iri seorang adik tapi Tania kecil belum bisa menerjemahkan apa arti
perasaan itu.
Kebahagiaan mereka berkurang saat
ibu Tania meninggal. Dan demi menepati janji terakhir Tania ke Ibunya, dia
tidak akan menangis demi siapapun lagi, kecuali ‘dia’. Berat sekali bagi Tania
menerima kenyataan bahwa kedua orang tuanya telah tiada dan sekarang ia yang
harus bertanggung jawab menjaga adiknya. Untung saja ada Danar yang selalu
berada di samping mereka.
Tania tumbuh menjadi gadis yang
cantik dan pintar. Ia berhasil mendapatkan beasiswa ke Singapura. Sederet
prestasi berhasil ia raih dalam studinya. Semua pengalaman hidup yang telah
Tania alami menjadikannya lebih dewasa dari gadis-gadis lain seumurannya.
Perasaannya terhadap Danar juga semakin jelas. Lambat laun Tania tahu, perasaan
itu bernama cinta.
Tapi cinta Tania terhadap danar
tidaklah mudah. Bertahun-tahun mereka bersama dalam status kakak adik, terlebih
lagi mereka terpaut usia 14 tahun. Bagi ABG seperti Tania, jatuh cinta kepada
pria yang jauh lebih tua darinya cukup membuatnya pusing. Sisi remajanya
membuatnya ingin mengekspresikan perasaannya meskipun ia tidak tahu apakah
Danar memiliki perasaan yang sama dengannya atau tidak. Keadaan semakin sulit
saat Danar memutuskan untuk menikah dengan Ratna. Tania patah hati. Ia
memutuskan untuk tidak hadir dalam pernikahan mereka meskipun Danar dan Ratna
telah membujuknya.
Beberapa waktu berselang, Tania
tahu bahwa kehidupan rumah tangga Danar dan Ratna tidak bahagia. Ratna
bercerita kepada Tania bahwa Danar telah banyak berubah. Danar menjadi pendiam
dan seringkali tidak berada di rumah. Ratna tahu ada sesuatu yang menghalangi
mereka, ada seseorang di antara ia dan Danar tapi ia tidak pernah tahu siapakah
bayangan itu. Dari cerita Dede akhirnya Tania tahu bahwa Danar juga mencintai
Tania. Danar menuliskan perasaannya dalam novel “Cinta Pohon Linden” yang tidak
pernah selesai ia tulis. Perbedaan usia yang cukup jauh membuat Danar merasa
tidak pantas mencintai Tania. Tidak seharusnya ia mencintai gadis kecil seperti
Tania.
Ketika Tania dan Danar sama-sama
tahu perasaan mereka masing-masing, semua sudah terlambat. Biar bagaimanapun
Danar telah menikah dengan Ratna. Akhirnya Tania kembali ke Singapura dan
memutuskan untuk meninggalkan semua cerita cintanya.
Ada salah satu kalimat yang
sangat saya suka dalam novel ini, dikutip dari halaman 196, “Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang
indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus
memahami, pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian,
dan pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan
menyakitkan”
Entah akhir yang bahagia, atau
sedih. Itu tergantung pada persepsi pembaca. Yang jelas, memang cinta selalu
menang. Cinta akan selalu menang, walau cinta tidak harus memiliki. Cinta yang
menerima setulusnya, cinta yang tidak egois, cinta yang tidak mencoba
berbahagia di atas perih orang lain. Cinta yang sempurna? Tidak mungkin, karena
cinta sempurna hanya dimiliki oleh Sang Pemilik Cinta...
KEUGGULAN BUKU
Sudut pandang orang pertama yang digunakan
oleh Tere Liye dalam novel ini membuat emosi dan penyampaian melalui sudut
pandang Tania menjadi cukup baik dan dapat dinikmati pembaca. Alur maju-mundur
yang penulis ingin coba sampaikan dalam bercerita sama sekali tidak
membingungkan pembaca. Sang penulis sangat baik dalam merangkai sebuah cerita
hingga menemukan benang merahnya. novel ini memberikan pelajaran. Terutama filosofi
“daun yang jatuh tak pernah membenci angin”. Apapun yang kita alami, jangan
pernah menyalahkan keadaan.
KELEMAHAN
BUKU
Menurut saya ceritanya klise,
agak mirip sinetron. Cerita dalam novel ini terlalu mudah ditebak. Karya Tere
Liye yang lainnya selalu bisa membuat saya betah membaca tanpa ada
keinginan untuk melompati masing-masing bagian cerita. Tapi ketika membaca
novel ini, berkali-kali saya lewatkan bagian-bagian yang terasa membosankan.
Berbeda dengan karya Tere Liye yang lain, yang meskipun sederhana tapi bisa
terasa istimewa lewat penuturannya yang apa adanya. Karakter Danar yang saya
rasa kurang terlihat dan melekat di dalam cerita. Mungkin karena di dalam novel
ini, Tania seolah bercerita mengenai dirinya dan perasaan cintanya, juga ia
menceritakan tokoh Danar dari sudut pandangnya.
RUMUSAN
KERANGKA BUKU
Pukul 20.00 : Saat Semuanya Berawal
Pukul 20.15 : Pertama Kali Aku Mengenal
Perasaan Itu
Pukul 20.21 : Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
Pukul 20.26 : Setelah Ibu Pergi
Pukul 20.32 : Sweet
Seventeen yang Indah
Pukul 20.37 : Liontin Seribu Pertanyaan
Pukul 20.45 : Izinkan Aku Menangis Demi Dia, Ibu!
Pukul 20.50 : Hari-Hari Menyakitkan
Pukul 21.02 : Masa-Masa Berdamai!
Pukul 21.10 : Potongan Teka-Teki Pertama
Pukul 21.15 : Semuanya Berubah Teramat Cepat
Pukul 21.17 : Ketika Semua Potongan Lengkap
Pukul 09.00 (Keesokan Pagi) : Kembali
TINJAUAN
BAHASA
Bahasanya sederhana, meskipun beberapa kali
penulis menggunakan bahasa yang syarat akan majas, namun
tetap mudah dipahami. Penulis menggunakan bahasa yang dapat dimengerti oleh semua
level pembaca, baik itu remaja, dewasa, dan yang lainnya.
Sudut pandang orang pertama yang digunakan oleh Tere Liye dalam novel ini
membuat emosi dan penyampaian melalui sudut pandang Tania menjadi cukup baik
dan dapat dinikmati pembaca.
PENUTUP
Saya rasa, novel ini pantas untuk dibaca oleh
semua kalangan. Sebab, cerita dalam novel ini cukup menginspiratif dan
memberikan pelajaran tentang keikhlasan yang sebenarnya. Serta tak diragukan
lagi, penulis buku ini merupakan penulis terkenal yang hampir semua bukunya digemari
oleh penikmatnya.
“…. Daun yang jatuh tak pernah
membenci angin…. Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan.
Mengikhlaskan semuanya….”
(DIA)

No comments:
Post a Comment