Assalamu'alaikum warrahmatullah wabarakatuh sobat..
Akhir-akhir ini aku sering banget denger atau baca betapa sulitnya menyentuh hati seseorang. Sebab hidayah hanya dari-Nya.
Seperti kisah Abu Thalib yang selama hidup iselalu mendukung dakwah Rasulullah. Beliau pun mengakui kenabian Rasulullah melalui syair yang artinya : Aku yakin bahwa agama Muhammad adalah agama terbaik umat manusia yang pernah ada. Namun nyatanya keimanan lewat hati dan perbuatannya sampai akhir hayat tak jua membawa beliau untuk mengimani secara lisan lewat syahadat yang akhirnya membuat beliau masuk ke neraka dengan siksaan teringan, yaitu menggunakandua sandal yang sampai mendidihkan otaknya.
Atau kisah tentang Nabi Yunus yang akhirnya meninggalkan wilayah Ninawa dengan kapal karena tak seorangpun di wilayah itu yang menggubris dakwahnya. Tanpa persetujuan dari Allah, Yunus meninggalkan Ninawa dengan kapal yang pada akhirnya membuat ia di tenggelamkan ke laut dan di telan paus kurang lebih dua minggu hingga dia sadar akan keslahan-kesalahannya hingga Allah menolongnya. Seperti cerita dalam Al-Quran Surah Al-Anbiya' : 87-88
وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ (87) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ (88)
Artinya: “Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Nabi Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan, dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (Q.S. Al-Anbiya’ [21]: 87-88)
Atau seperti satu kisah dalam Surah Hud yang turun untuk menguatkan Nabi Muhammad yang lelah dalam menghadapi kaumnya, yaitu tentang Nabi Nuh. Kisah yang malam ini aku dengarkan lewat murottal Syaikh Mishary Rashid Al-Afasy yang emosinya sampai terngiang-ngiang di malam-malam menjelang ujian blokku. Cerita betapa besar usaha Nabi Nuh meyakinkan kaumnya untuk ikut beliau naik keatas kapal untuk menghindari air bah, tetapi pada kenyataanya bahkan anak yang ia cintai pun tak menerima ajakan beliau.
Bukankah kisah-kisah tersebut sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa perjalanan menyentuh hati ini sangat jauh dari kata mudah?
Mengutip beberapa kalimat di buku Fiqh Dakwah jilid 1dari Syaikh Mushthafa Masyur tentang tabiat jalan dakwah yang menjelaskan bahwa :
Jalan dakwah tidak ditaburi bunga-bunga yang harum, tetapi merupakan jalan sukar dan panjang. Dakwah memerlukan kesabaran dan ketekunan memikul beban berat. Dakwah memerlukan kemurahan hati, pemberian, dan pengorbanan tanpa mengharapkan hasil yang segera, tanpa putus asa, tanpa putus harap. Yang diperlukan ialah usaha dan kerja yang terus menerus dan hasilnya kita serahkan kepada Allah sesuai waktu yang dikehendaki-Nya.
Bismillah.
Padamu, terimakasih telah bertahan dan tidak menyerah mengetuk lebih banyak lagi hati.

No comments:
Post a Comment