Selasa lalu, setelah Isya tiba-tiba mellow. Semalaman cemas dan kepikiran karena sorenya terakhir bimbingan dari kampus, artinya setelah itu kita akan dilepas di alam bebas. Menghadapi ujian kompetensi dan kehidupan sesungguhnya. Ditengah teman-teman yang persiapannya lebih lama, lebih matang, dan enjoy belajar dalam tim, ngerasa minder banget sampai belajar sambil sesak. Merasa gak siap, takut tertinggal, dan gak kompeten jadi dokter.
Aku yang selalu meyakinkan diri bahwa dokter adalah alat yang kuat untuk dakwah, alat yang tajam untuk melepaskan tali-tali morbiditas dan mortalitas atas izin Allah, aku yang selalu optimis tiba-tiba merasa tak pantas. Takut sekali di hari terakhir mendapat bimbingan tetapi ternyata ilmuku belum cukup kokoh menjadi perpanjangan tangan Allah untuk menolong orang lain.
Pukul 02.00 dini hari, ketika seluruh manusia di rumah mulai lelap. Keheningan yang akhirnya membuat semakin 'sesak'.
Akhirnya aku letakkan leptop di ujung kasur, menatap lekat-lekat langit kamar. Rasanya ingin sekali menyerah, tapi tak mungkin. Sebab sudah 6 tahun sejak perjuangan itu dimulai, apakah rela menyerah hanya karena itu?
Akhirnya dalam segala kecemasan, aku memilih membuka Al-Quran di handphone, lalu membaca ulang terjemahan dari target tilawah hari itu : Juz 26.
Di awal juz langsung masuk ke surah Al-Ahqaf. Allah kokohkan kepercayaan dengan 3 ayat yang manis sekali :
Allah tegaskan, Allah langsung yang menciptakan kitab ini, selanjutnya Allah tidak menciptakan apa yang ada di langit dan bumi dan diantara keduanya melainkan dengan tujuan yang benar dalam waktu yang ditentukan. Deg. Akhirnya buncah sudah, pecah ruah.
Selanjutnya dengan segala patah hati yang terasa sebab seakan lupa bahwa kita ini hanya miliknya, aku berhenti dan berulang-ulang di ayat ke 13 dan 14.
Aallaah..
Kenapa aku pusing, kenapa aku cemas, kenapa aku sedih, kenapa aku khawatir? Sedangkan kita tahu, "Tuhan kami adalah Allah,"
Dan orang-orang yang yakin penuh dengan Allah, maka cara yang mereka pilih jelas, 'istiqomah'.
Tak hanya janji untuk menghilangkan khwatir dan sedih, tapi Allah langsung jamin mereka akan menjadi penghuni surga dan kekal di dalamnya.
Selanjutnya dengan sangat luar biasanya, di hari Rabu, dari akun youtube Temani, Teh Qoonit dan teh Nabila menotice ayat yang benar-benar sama. Podcast yang bagian penutupnya aku ulang sampai 3x dalam beberapa hari ini. Dengan penyampaian Teh Qoonit yang meneduhkan, beliau menambahkan ayat dengan bunyi senada : Q.S Fussilat : 30
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
اِنَّ الَّذِيْنَ قَا لُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَا مُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰٓئِكَةُ اَ لَّا تَخَا فُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَ بْشِرُوْا بِا لْجَـنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ
Sesungguhnya orang-orang yang berkata, "Tuhan kami adalah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu."
Jadi, apa lagi yang perlu dikhawatirkan?
No comments:
Post a Comment