Thursday, August 17, 2023

Harga Keberkahan Ilmu

Sejak sekitar 3 bulan yang lalu, aku benar-benar galau perkara sumber belajar halal. Sebenarnya permasalahan ini harusnya sudah tuntas, tapi ditengah persiapan UKMPPD, berseliweran begitu banyak bahan dan pembahasan soal yang beredar. Ada yang sumbernya dengan jelas memperbolehkan distribusinya, hingga yang mengecam hingga passwordnya pun mengerikan : DosaMembajakSebelumUjian. jleb.... Benar, pemilik soal yang sudah membayar barangkali sudah ridho, tetapi bagaimana jika pemilik bimbel tetap berat hati?

Dan hari ini, akhirnya aku putuskan untuk menuliskannya, bukan karena ilmuku yang sudah mantap sebab akupun bukan fuqaha, tetapi semoga tulisan ini bisa menjadi pembuka nasihat dari teman-teman yang lebih faham dan menjadi media pengungkapan keraguan sebab bingung ingin bercerita pada siapa. Bismillah..

Benar-benar dilematika yang berulang sejak awal kuliah. Kebutuhan akan bahan bacaan membuat garis abu-abu yang makin jelas. Setelah bertanya ke beberapa ustadz/ah dan membaca dari beberapa buku fiqh, sebagian mengizinkan sedangkan sebagian lagi dengan tegas mengharamkan. Dan aku... bahkan sampai sekarang ada beberapa bahan, baik e-book ataupun video pembahasan yang dengan sengaja masih tersebar dari tanganku. Kenapa sih rasanya sulit sekali lepas dari lingkaran ini? Ternyata ketidaktegasanku berakumulasi dengan rasa FOMO atau Fear Of Missing Out, takut tertinggal dari yang lain jika tak ikut juga membahas itu. Bahkan, diawal kuliah aku sempat pula bisnis menjajakan buku-buku bajakan, tentu sangat menarik sebab harganya bisa <30% dari harga aslinya. Astaghfirullah.. :")

Jadi timbul sebuah pertanyaan besar, "Apakah sebenarnya aku sudah memiliki niat yang kuat di hati untuk berikhtiar mencari sumber ilmu yang halal?" dan "Apakah aku pernah sudah benar-benar meninggalkan sesuatu yang Rasulullah ajarkan untuk menghindari sesuatu yang abu-abu, atau kita sebut sebagai syubhat?", hingga bermuaralah pada puncak pertanyaan, "Apakah ilmu yang selama ini aku pelajari berkah?"

Rasanya tidak adil, ketika kita sangat berhati-hati untuk memastikan segala makanan yang masuk ke pencernaan kita tetap halal sedangkan kita terus memberi makan otak kita dengan sesuatu yang kita sendiri pun ragu kehalalannya.

Ditengah resah dan rasa tidak nyaman, terlebih soal-soal tersebut yang sedang sering dibahas di kelompok belajar. Akhirnya mengkhususkan doa, bercerita berdasarkan keilmuanNya sebab saat itu rasanya begitu berat jika harus membeli sendiri paket soal yang sampai berjuta-juta rupiah. Dan... Ya, selalu, Allah Maha Pendengar. Sekitar 2 bulan sebelum ujian, seorang senior baik hati di Puskesmas tempatku belajar dengan sangat baik mengizinkan aku mengakses begitu banyak soal dari akun berbayarnya. Masya Allah.. Meskipun berkali-kali isu Pengen nangis saat itu juga sebab begitu manis dan baiknya Allah dalam menenangkan segala gelisah yang aku rasakan.

Sejak kejadian itu aku jadi berulang kali berfikir, kenapa sih kita khawatir dan gamang untuk menghindari apa yang syubhat? Jika kita ragu, hindarilah. Tugas kita sederhana : meminta petunjuk dari Dia berdasarkan keilmuan-Nya. Jika kita merasa tak mampu untuk mencari kehalalan ilmu sebab mahalnya harga yang ahrus dibayar, apakah kita lupa bahwa kita adalah makhluk dari Pemilik Yang Maha Kaya?

Ohya sebenarnya dalam perjalanan menuntut ilmu ini, ada beberapa nama teman dan kakak tingkat yang sudah kokoh dan berhati-hati dalam menghindari ke-syubhat-an ini. Dan alhamdulillah.. Meskipun tak selalu menjadi yang 'ter' dalam hasil berupa angka, tapi dari pemahaman keilmuan yang nampak, mereka tampak baik-baik saja.

Ya, demikianlah kebisingan yang akhirnya aku suarakan lewat tulisan. Bahkan sampai sekarang aku masih sering ragu untuk menyampaikan lewat lisan segala keraguan ini. Padahal sudah jelas :

Haram is haram, even if everyone is doing it.
Halal is halal, even if you are the only one who is doing it.

Bismillah...
Semoga Allah kokohkan tekad kita dan makmurkan finansial kita sehingga kita bisa mencari sumber-sumber ilmu yang Allah berkahi. Aamiin..

Padang, 3 hari menuju MCQ UKMPPD
Rizki Nanda Putri

No comments: