Sunday, June 23, 2024

Jika tak ada rasa takut, bagaimana keyakinan kita akan janji Allah terbukti?
Jika masa depan pasti, bagaimana ikhtiar dan tawakal akan teruji?
Jika hidup tak lelah dijalan-Nya, bagaimana Surga kan mampu jadi tempat istirahat?

(Teh Farah Qoonita, 23 Juni 2024)

Saturday, June 22, 2024

Dear diary... wkwkwk. Dah kayak anak SD gaksi🤏🏻
Bismillah...
Hari ini mau cerita keharuan aku di IGD.
Jadi ada pasien laki-laki, 65 tahun, sekitar 3 minggu yang lalu diantar anak dan istrinya dengan keluhan nyeri perut. Sudah bertahun-tahun berobat dikasi obat lambung terus dan selalu diedukasi kalau ini dispepsia atau sering kita sebut maag. 2 tahun berobat ga sembuh-sembuh. Keluarga sudah mulai capek.

Dua hari lalu nyerinya meningkat, akhirnya diputuskan untuk balik ke IGD lagi. Mereka bertiga tidak terlalu banyak bertanya, tipikal orang jawa yang penyegan dan takut merepotkan orang lain. Akhirnya ketemulah dengan dek icip yang sedang pesimis ini.

Saat anamnesis, aku menemukan beberapa fakta yang mengarah ke nefrolithiasis yang merupakan kondisi terbentuknya batu di ginjal. Aku lanjutkan dengan pemeriksaan CVA, hasilnya positif. Kemudian aku lanjutkan beberapa pertanyaan yang mengerucut ke nefrolithiasis hingga akhirnya dengan sisa-sisa energiku, aku mengedukasi seadanya, menjelaskan penyakit yang beliau derita, kenapa selama ini berobat dan rasanya tidak sembuh-sembuh, dan apa rencana selanjutnya. Setelah itu aku buru-buru meresepkan antinyeri dll, menuliskan surat rujuk balik, dan mengedukasi sedikit mengenai prosedur rujuk ke spesialis. Mereka tersenyum, meminta namaku, lalu berpamitan denganku. Ku balas seadanya, sambil menitipkan doa + mengingatkan bahwa kesembuhan itu dari Allah.

Dan Jumat lalu, tepat saat aku dinas sore, saat sedang absen finger tiba-tiba namaku dipanggil. Ku cari-cari sumber suaranya. Ternyata kutemui anak dan istri beliau. Dengan senyum mereka langsung menyalamiku dan menyampaikan beberapa poin dengan Bahasa Jawa yang jika dirangkum kurang lebih seperti ini, "Dokter Kinaaan. Bener kata dokterrr, setelah di USG ternyata ada batu di ginjal bapak. Alhamdulillah batunya tidak terlalu besar jadi dikasih obat untuk hancurkan batunya. Kami bersyukur dokter periksa suami saya dan menganjurkan kesini. Karena selama ini cuma dibilang maag aja. Dokter spesialisnya bilang sama seperti semua yang dokter jelaskan kemarin. Terimakasih banyak ya dok sudah menemukan penyakit bapak dan mendoakan kesembuhan bapak. Dokter pinter, cara dokter jelaskan seperti spesialis, semoga bisa jadi dokter spesalis ya dokter."

Aku makin erat memegang tangan anak beliau, lantas anak beliau mencium tanganku. Kemudian ostri beliau kembali menyalamiku lagi. Ah, rasanya aku malu sekali. Setelah aku ingat-ingat nama beliau dan kejadian 3 pekan yang lalu, aku malu karena edukasi dan pemeriksaan yang aku kerjakan dengan penuh kemalasan dan seadanya karena sedang merasa kurang baik-baik malah bisa jadi mantra hebat untuk keluarga beliau.

Aku malu sebab harusnya aku bisa lebih empati dan berlembut-lembut dalam melayani manusia. Alhamdulillah kali ini aku bertemu pasien yang sabar mendengarkan edukasi malas-malasanku itu, selanjutnya Allah juga meridhoiku menjadi perantara kesembuhan keluarga mereka. Tapi coba bayangkan jika Allah tak mengizinkan mereka faham karena lisan yang keluar bukan karena Allah, apakah aku tidak akan menyesal sebab lelah-lelahku dinas berlalu begitu saja? Apalagi ketika kudapati fakta ternyata Allah pun jadikan mereka perantara ketenangan diri dan berkurangnya insecure yang akhir-akhir ini sedang berkali-kali aku rasakan.

Memang, Allah menghadirkan orang-orang dalam hidup kita bukan tanpa alasan. Bahkan mereka yang hanya bertemu beberapa menit pun bisa memberi pengaruh besar bagi kita. Makaaa, pleaaassseee... selelah apapun, selemah apapun, se badmood apapun kita, berusahalah berikan sikap terbaik kita. Semogaa, lisan dan perlaku kita bisa menjadi perantara cinta dari-Nya.🥲

Yukk semangat yuuukkkk🫶🏻 gabole lama-lama terombang-ambing sama perasaan sendiri jadi ngerepotin orang lain.

Wednesday, June 19, 2024

Kalau orang lain saja percaya sama kita, masa diri kita sendiri ragu?
Bukankah kita harus lebih yakin sebab telah mengenali diri kita lebih dari siapapun?

Friday, June 14, 2024

Untuk Bapak dan Semua Orang yang Mencintainya.



"Sabar.. Namanya juga perjalanan hidup. Harus kuat."
"Yang penting tetap doa dan usaha."
"Lho, gaperlu diminta, bapak pasti doakan anak-anak bapak."

Kata-kata itu berkali-kali menggema di telinga. Lucu sekali melihat anak kecil ini menangisi satu luka lecet sedang dihadapannya ada lelaki yang sedang berdarah-darah dan tulangnya penuh patah.

Sebelum mulai baca, boleh puter lagu ini dulu biar makin seru :")


---------------------------------------------------------------------------------------------------

Let me introducing my superhero, Bapak Sunardi.
Bapak, tepat 63 tahun lalu lahir di tanah yang terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan. Tumbuh di kota yang selalu ia rindui itu, lantas mendewasa di tepi selatan pulau Sumatra. Amanah demi amanah menghampiri, mengokohkan bahunya. Lalu Allah bantu pertemukan ia pada wanita yang selalu ada di belakang bapak, mendukung serta memastikan bapak tak salah jalan. Beberapa bulan kemudian, lahirlah beban-beban baru yang menambah berat langkah kakinya. Beban-beban yang sudah pasti berat, tapi tak pernah ia keluhkan bahkan ingin selalu ia usahakan.

Bapakku bukan manusia kaya raya, tapi ia selalu mengusahakan istri, anak, adik, keponakan, bahkan cucunya baik-baik saja. Bahkan setelah seluruh anak dan adiknya mulai stabil tegak berdiri, ia tak pernah lelah untuk selalu memastikan : kami baik-baik saja. Ia begitu teliti, bahkan ketika jam dinding  tak lagi berdetak beberapa jam, ia bergegas segera memperbaiki demi memastikan tak ada yang  terlambat menjalankan kewajiban masing-masing.

Aku sering bertanya-tanya, kenapa bapak selalu berusaha begitu keras demi orang lain sedang dirinya sendiri berdarah-darah?

Saat SD aku pernah bertanya, kenapa bapak tak pernah malu menghadapi kehidupan yang begitu lucu? Bayangkan saja, laki-laki ini bercerita berpuluh-puluh kali bahwa ia pernah berkeliling tanpa alas kaki demi menjajakan sapu ijuk yang ia buat sendiri. Ohh.. belum lagi ia pernah makan kulit kacang (sisa orang lain) karena tak mampu beli. Rasanya ingin sekali kuhujani seluruh desa dengan kacang supaya bapak bisa makan kacang sepuasnya, tapi bapak memilih makan 1 atau 2 biji saja, sebab  ia ingin memastikan semua orang di dunia bisa menyicipi kacang yang dulu begitu ia ingini.

Saking tidak tau harus bernadzar menggunakan materi apa lagi, laki-laki ini pernah berjalan kaki dari Bengkulu hingga Tugumulyo, melintasi provinsi karena begitu bahagia bisa menjadi PNS. Sebab ia tau, ketidakpastian masa depan keluarganya begitu berat untuk dipertanggungjawabkan. 

Bahkan setelah jadi guru tetap, bapak tetap mengojek berkeliling mengendarai astra dengan suara yang begitu khas. Saat jadi kepala sekolah, bapak tetap memelihara berbagai jenis hewan yang bisa ia jual. Saat jadi pengawas, ia tetap membuka ladang, memupuk, serta merawat berbagai jenis tanaman. Ah jangankan hal-hal besar seperti itu, perkara masak, ngepel, cuci piring, cuci baju, dll bapak kerjakan dengan ringan hati. Bapak benar-benar tak bisa diam, rasanya pusing sekali jika dipaksa berdiam diri barang sehari.

Ditengah hidupnya yang mulai ajeg, ia harus kehilangan separuh agamanya. Kehilangan wanita yang membersamainya menghadapi lucunya dunia selama 30 tahun. Tak mudah, apalagi tak seorangpun anaknya berada di provinsi yang sama. Beberapa hari saja tanpa mamak, bapak berhasil membuat dua wajan gosong dan beberapa baju bolong. Hingga akhirnya anak-anaknya sepakat, bapak berhak menemukan pendamping masa tuanya. Bapak juga berhak bahagia.

Ia begitu keras kepala dan tak pernah bisa diminta berhenti, hingga Allah langsung yang memaksanya berhenti. 2 tahun lalu bapak serangan pertama stroke, diikuti serangan kedua beberapa bulan setelahnya. Aku begitu cemas, terlebih setelah aku paham ilmunya. Dan bagian paling tak akan aku lupa, ketika stroke itu mengganggu sistem limbiknya. Bayangkan betapa patah hatinya ketika bapak tak lagi mengenali aku yang sudah jauh-jauh 'bolos' saat ujian stase anak demi dia. Berjam-jam aku duduk dan berseliweran dihadapannya, ia menganggapku asing. Hingga beberapa jam kemudian ia menatapku kosong, "ini Putri ya?"

Teruntuk laki-laki keras kepala tapi begitu sabar dan penuh cinta, terimakasih sudah bertahan dan kembali pulih. Walau penuh tanggung jawab dan terlalu baik terkadang malah jadi bola api untuk tak disukai, terimakasih sudah tetap teguh memegang ideologi yang bapak percayai.

Pak, izinkan anak kecilmu ini memohon maaf. Sebab baru ku sadari begitu tak perhatiannya aku hingga sama sekali tak ku ingat apakah tangan dan kakimu pernah bebas dari callus dan lihat! sejak kapan kulitmu begitu berkeriput?

Bertahun-tahun aku kecewa, bertanya-tanya dimana keberadaan bapak ketika aku terluka. Padahal aku yang tak peka pada bahasa cinta yang tak harus selalu sama. Bapak mencintai dengan cara yang tak biasa, cara yang ia rumuskan dan yakini bisa jadi cara terbaik untuk merubah anak bungsunya menjadi manusia seutuhnya. Ia mengizinkan anaknya yang paling perasa ini untuk terluka, lantas membersamai untuk membasuh dan menyembuhkan luka-luka itu. Sebab ia tau, dunia jauh lebih menyakitkan dari yang aku bayangkan. 

Bapak tak pernah memilih untuk menuntun dan menjauhkan kerikil yang harus aku hadapi. Ia memilih mengokohkan kakiku, melapangkan hatiku, meluaskan pemahamanku. Hingga jahatnya dunia tak lagi menakutkan dan tetap bisa kuhadapi meski suatu hari kami tak bisa lagi saling membersamai.

Wahai laki-laki baik hati yang perjalanan hidupnya berkelok-kelok dan berdarah-darah, bolehkan bapak bertahan lebih lama? Seperti bapak yang selalu yakin bahwa aku bisa jadi istri, ibu, dan dokter yang amanah. Maukah bapak tak hanya yakin, tetapi ikut menjadi saksi perjalanan itu?

Dari gadis kecilmu yang paling perasa, penangis dan pengambek,
Putri.

Thursday, June 13, 2024

Hari ini, 7 tahun yang lalu, akhirnya salah satu jalan panjang ini bermula. Allah bantu pilihkan profesi yang (harus) selalu aku syukuri. Sebab kata Bapak, lewat ilmu-ilmu yang tetap coba dipelajari meski sambil berlelah-lelah itu, ada jutaan harap dari pasien dan keluarga. Meski sering tak yakin, pun tak percaya diri, tapi semoga Allah izinkan untuk mampu menjadi perantara kesembuhan dari-Nya.

- dr. Kiinan

Wednesday, June 12, 2024

Akhir-akhir ini begitu banyak hal terjadi.
Kenyataan-kenyataan diluar prediksi.
Takdir-takdir yang tetap coba disyukuri.
Berkali-kali meyakinkan diri, "Allah jauh lebih pahami"

Tiap kepala makin tak berani menengadah dan kaki lambat melangkah.
Rasanya Allah sedang menggenggam erat tubuh lemah yang hampir menyerah.
Tenanglah, sebab kau masih miliki Ia --Pemilik Seluruh Alam.
Mari tetap merenda percaya, "Ia menguji sebab besar percaya bahwa kita bisa hadapi semua."