"Sabar.. Namanya juga perjalanan hidup. Harus kuat."
"Yang penting tetap doa dan usaha."
"Lho, gaperlu diminta, bapak pasti doakan anak-anak bapak."
Kata-kata itu berkali-kali menggema di telinga. Lucu sekali melihat anak kecil ini menangisi satu luka lecet sedang dihadapannya ada lelaki yang sedang berdarah-darah dan tulangnya penuh patah.
Sebelum mulai baca, boleh puter lagu ini dulu biar makin seru :")
---------------------------------------------------------------------------------------------------
Let me introducing my superhero, Bapak Sunardi.
Bapak, tepat 63 tahun lalu lahir di tanah yang terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan. Tumbuh di kota yang selalu ia rindui itu, lantas mendewasa di tepi selatan pulau Sumatra. Amanah demi amanah menghampiri, mengokohkan bahunya. Lalu Allah bantu pertemukan ia pada wanita yang selalu ada di belakang bapak, mendukung serta memastikan bapak tak salah jalan. Beberapa bulan kemudian, lahirlah beban-beban baru yang menambah berat langkah kakinya. Beban-beban yang sudah pasti berat, tapi tak pernah ia keluhkan bahkan ingin selalu ia usahakan.
Bapakku bukan manusia kaya raya, tapi ia selalu mengusahakan istri, anak, adik, keponakan, bahkan cucunya baik-baik saja. Bahkan setelah seluruh anak dan adiknya mulai stabil tegak berdiri, ia tak pernah lelah untuk selalu memastikan : kami baik-baik saja. Ia begitu teliti, bahkan ketika jam dinding tak lagi berdetak beberapa jam, ia bergegas segera memperbaiki demi memastikan tak ada yang terlambat menjalankan kewajiban masing-masing.
Aku sering bertanya-tanya, kenapa bapak selalu berusaha begitu keras demi orang lain sedang dirinya sendiri berdarah-darah?
Saat SD aku pernah bertanya, kenapa bapak tak pernah malu menghadapi kehidupan yang begitu lucu? Bayangkan saja, laki-laki ini bercerita berpuluh-puluh kali bahwa ia pernah berkeliling tanpa alas kaki demi menjajakan sapu ijuk yang ia buat sendiri. Ohh.. belum lagi ia pernah makan kulit kacang (sisa orang lain) karena tak mampu beli. Rasanya ingin sekali kuhujani seluruh desa dengan kacang supaya bapak bisa makan kacang sepuasnya, tapi bapak memilih makan 1 atau 2 biji saja, sebab ia ingin memastikan semua orang di dunia bisa menyicipi kacang yang dulu begitu ia ingini.
Saking tidak tau harus bernadzar menggunakan materi apa lagi, laki-laki ini pernah berjalan kaki dari Bengkulu hingga Tugumulyo, melintasi provinsi karena begitu bahagia bisa menjadi PNS. Sebab ia tau, ketidakpastian masa depan keluarganya begitu berat untuk dipertanggungjawabkan.
Bahkan setelah jadi guru tetap, bapak tetap mengojek berkeliling mengendarai astra dengan suara yang begitu khas. Saat jadi kepala sekolah, bapak tetap memelihara berbagai jenis hewan yang bisa ia jual. Saat jadi pengawas, ia tetap membuka ladang, memupuk, serta merawat berbagai jenis tanaman. Ah jangankan hal-hal besar seperti itu, perkara masak, ngepel, cuci piring, cuci baju, dll bapak kerjakan dengan ringan hati. Bapak benar-benar tak bisa diam, rasanya pusing sekali jika dipaksa berdiam diri barang sehari.
Ditengah hidupnya yang mulai ajeg, ia harus kehilangan separuh agamanya. Kehilangan wanita yang membersamainya menghadapi lucunya dunia selama 30 tahun. Tak mudah, apalagi tak seorangpun anaknya berada di provinsi yang sama. Beberapa hari saja tanpa mamak, bapak berhasil membuat dua wajan gosong dan beberapa baju bolong. Hingga akhirnya anak-anaknya sepakat, bapak berhak menemukan pendamping masa tuanya. Bapak juga berhak bahagia.
Ia begitu keras kepala dan tak pernah bisa diminta berhenti, hingga Allah langsung yang memaksanya berhenti. 2 tahun lalu bapak serangan pertama stroke, diikuti serangan kedua beberapa bulan setelahnya. Aku begitu cemas, terlebih setelah aku paham ilmunya. Dan bagian paling tak akan aku lupa, ketika stroke itu mengganggu sistem limbiknya. Bayangkan betapa patah hatinya ketika bapak tak lagi mengenali aku yang sudah jauh-jauh 'bolos' saat ujian stase anak demi dia. Berjam-jam aku duduk dan berseliweran dihadapannya, ia menganggapku asing. Hingga beberapa jam kemudian ia menatapku kosong, "ini Putri ya?"
Teruntuk laki-laki keras kepala tapi begitu sabar dan penuh cinta, terimakasih sudah bertahan dan kembali pulih. Walau penuh tanggung jawab dan terlalu baik terkadang malah jadi bola api untuk tak disukai, terimakasih sudah tetap teguh memegang ideologi yang bapak percayai.
Pak, izinkan anak kecilmu ini memohon maaf. Sebab baru ku sadari begitu tak perhatiannya aku hingga sama sekali tak ku ingat apakah tangan dan kakimu pernah bebas dari callus dan lihat! sejak kapan kulitmu begitu berkeriput?
Bertahun-tahun aku kecewa, bertanya-tanya dimana keberadaan bapak ketika aku terluka. Padahal aku yang tak peka pada bahasa cinta yang tak harus selalu sama. Bapak mencintai dengan cara yang tak biasa, cara yang ia rumuskan dan yakini bisa jadi cara terbaik untuk merubah anak bungsunya menjadi manusia seutuhnya. Ia mengizinkan anaknya yang paling perasa ini untuk terluka, lantas membersamai untuk membasuh dan menyembuhkan luka-luka itu. Sebab ia tau, dunia jauh lebih menyakitkan dari yang aku bayangkan.
Bapak tak pernah memilih untuk menuntun dan menjauhkan kerikil yang harus aku hadapi. Ia memilih mengokohkan kakiku, melapangkan hatiku, meluaskan pemahamanku. Hingga jahatnya dunia tak lagi menakutkan dan tetap bisa kuhadapi meski suatu hari kami tak bisa lagi saling membersamai.
Wahai laki-laki baik hati yang perjalanan hidupnya berkelok-kelok dan berdarah-darah, bolehkan bapak bertahan lebih lama? Seperti bapak yang selalu yakin bahwa aku bisa jadi istri, ibu, dan dokter yang amanah. Maukah bapak tak hanya yakin, tetapi ikut menjadi saksi perjalanan itu?
Dari gadis kecilmu yang paling perasa, penangis dan pengambek,
Putri.

No comments:
Post a Comment