Saturday, June 22, 2024

Dear diary... wkwkwk. Dah kayak anak SD gaksi🤏🏻
Bismillah...
Hari ini mau cerita keharuan aku di IGD.
Jadi ada pasien laki-laki, 65 tahun, sekitar 3 minggu yang lalu diantar anak dan istrinya dengan keluhan nyeri perut. Sudah bertahun-tahun berobat dikasi obat lambung terus dan selalu diedukasi kalau ini dispepsia atau sering kita sebut maag. 2 tahun berobat ga sembuh-sembuh. Keluarga sudah mulai capek.

Dua hari lalu nyerinya meningkat, akhirnya diputuskan untuk balik ke IGD lagi. Mereka bertiga tidak terlalu banyak bertanya, tipikal orang jawa yang penyegan dan takut merepotkan orang lain. Akhirnya ketemulah dengan dek icip yang sedang pesimis ini.

Saat anamnesis, aku menemukan beberapa fakta yang mengarah ke nefrolithiasis yang merupakan kondisi terbentuknya batu di ginjal. Aku lanjutkan dengan pemeriksaan CVA, hasilnya positif. Kemudian aku lanjutkan beberapa pertanyaan yang mengerucut ke nefrolithiasis hingga akhirnya dengan sisa-sisa energiku, aku mengedukasi seadanya, menjelaskan penyakit yang beliau derita, kenapa selama ini berobat dan rasanya tidak sembuh-sembuh, dan apa rencana selanjutnya. Setelah itu aku buru-buru meresepkan antinyeri dll, menuliskan surat rujuk balik, dan mengedukasi sedikit mengenai prosedur rujuk ke spesialis. Mereka tersenyum, meminta namaku, lalu berpamitan denganku. Ku balas seadanya, sambil menitipkan doa + mengingatkan bahwa kesembuhan itu dari Allah.

Dan Jumat lalu, tepat saat aku dinas sore, saat sedang absen finger tiba-tiba namaku dipanggil. Ku cari-cari sumber suaranya. Ternyata kutemui anak dan istri beliau. Dengan senyum mereka langsung menyalamiku dan menyampaikan beberapa poin dengan Bahasa Jawa yang jika dirangkum kurang lebih seperti ini, "Dokter Kinaaan. Bener kata dokterrr, setelah di USG ternyata ada batu di ginjal bapak. Alhamdulillah batunya tidak terlalu besar jadi dikasih obat untuk hancurkan batunya. Kami bersyukur dokter periksa suami saya dan menganjurkan kesini. Karena selama ini cuma dibilang maag aja. Dokter spesialisnya bilang sama seperti semua yang dokter jelaskan kemarin. Terimakasih banyak ya dok sudah menemukan penyakit bapak dan mendoakan kesembuhan bapak. Dokter pinter, cara dokter jelaskan seperti spesialis, semoga bisa jadi dokter spesalis ya dokter."

Aku makin erat memegang tangan anak beliau, lantas anak beliau mencium tanganku. Kemudian ostri beliau kembali menyalamiku lagi. Ah, rasanya aku malu sekali. Setelah aku ingat-ingat nama beliau dan kejadian 3 pekan yang lalu, aku malu karena edukasi dan pemeriksaan yang aku kerjakan dengan penuh kemalasan dan seadanya karena sedang merasa kurang baik-baik malah bisa jadi mantra hebat untuk keluarga beliau.

Aku malu sebab harusnya aku bisa lebih empati dan berlembut-lembut dalam melayani manusia. Alhamdulillah kali ini aku bertemu pasien yang sabar mendengarkan edukasi malas-malasanku itu, selanjutnya Allah juga meridhoiku menjadi perantara kesembuhan keluarga mereka. Tapi coba bayangkan jika Allah tak mengizinkan mereka faham karena lisan yang keluar bukan karena Allah, apakah aku tidak akan menyesal sebab lelah-lelahku dinas berlalu begitu saja? Apalagi ketika kudapati fakta ternyata Allah pun jadikan mereka perantara ketenangan diri dan berkurangnya insecure yang akhir-akhir ini sedang berkali-kali aku rasakan.

Memang, Allah menghadirkan orang-orang dalam hidup kita bukan tanpa alasan. Bahkan mereka yang hanya bertemu beberapa menit pun bisa memberi pengaruh besar bagi kita. Makaaa, pleaaassseee... selelah apapun, selemah apapun, se badmood apapun kita, berusahalah berikan sikap terbaik kita. Semogaa, lisan dan perlaku kita bisa menjadi perantara cinta dari-Nya.🥲

Yukk semangat yuuukkkk🫶🏻 gabole lama-lama terombang-ambing sama perasaan sendiri jadi ngerepotin orang lain.

No comments: