Saturday, September 14, 2024

PanggilanMu


لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ 
Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah. Aku datang memenuhi panggilan-Mu. Aku datang memenuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu. Aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya pujian dan nikmat adalah milikMu, begitu juga kerajaan, tiada sekutu bagi-Mu.

Usai tawaf, aku terdiam, menatap haru kakbah yang begitu megah. Ibu-ibu berusia 50tahunan itu menyentuh lengan atasku, "ayo kita minum air zam-zam dulu sebelum meninggalkan tanah suci." Aku mengangguk sambil terus menatap kakbah. Meski tak ada tuntunan sama sekali mengenai berjalan mundur menjauhi ka'bah setelah tawaf wada', tapi mataku sungguh tak ingin berhenti menatap kakbah untuk terakhir kalinya.

Kami meminum air zam-zam dalam keheningan. Kami sama-sama faham, hati kami sedang sama-sama biru. Beberapa menit kemudian datang lelaki itu, mengajakku meninggalkan masjidil haram. Tepat sedetik setelah aku melangkah, ku dengar suara khas itu begitu keras. Aku terdiam. Menatap ratap jendela tua di sisi kananku. Langit masih gelap, ku raih telpon genggam di kiriku. Pukul 03.47.  "Ah.. mimpi lagi ya?" 

Tak terasa bulir itu menetes lagi. Aku bingung mendeskripsikan kerinduan ini, "Ya Allah.. tolong panggil aku.. Sungguh, aku bersungguh-sungguh merindukanMu."











No comments: