Beberapa pekan lalu, ditengah dinas IGD RSUD yang lumayan padat, aku sempat diminta mengisi forum annisa oleh salah satu forum di kampus. Alhamdulillah waktunya cocok, kondisinya pun cocok, tak ada alasan apapun untuk menolak. Lalu ku pastikan temanya, adik shalihah itu menjawab dengan segera, "Hijab bagi muslimah kakk, berikut saya kirim TIU/TIKnya juga kak." Setelah kubaca dua ballon berisi 8 baris itu, aku mengangguk, "hoo.. materi dasar, pesertanya pun amah. Insya Allah aman..."
Besoknya, ku pilih menyiapkan materi ditengah malam, waktu paling santai ditengah dinas IGD. Saat itu pertimbanganku hanya agar tenang, tapi ternyata lewat sepinya malam itu, sambil menyiapkan powerpoint berwarna biru dan ungu itu aku terdiam. Setelah beberapa menit menerawang jauh melewati layar leptop, aku bergumam, "ohhh... ternyata Allah memilih aku menyiapkan dan menyampaikan materi ini bukan karena aku lebih baik, aku lebih shalihah, pun bukan karena aku lebih terjaga dibanding adik-adik yang nanti akan menjadi pendengar. Tapi jauh diatas itu, Allah sedang ingin menegurku yang sejak koas mulai bermudah-mudah dalam hijab."
Yuu coba sama-sama diingat-ingat, dikoreksi, dievaluasi..
Kapan terakhir ngerasa malu pas jilbab tersingkap atau jadi lebih pendek dari biasanya?
Kapan terakhir ngerasa malu pas ketemu non mahram tanpa kaos kaki atau manset tangan?
Kapan terakhir ngerasa malu karena santai banget berpunuk unta/baju ketat?
Kadang kita ngerasa baik-baik saja, entah karena tim dinas sudah seperti keluarga, rekan rumah dinas/kos yang setiap hari keluar masuk rumah, atau alasan-alasan lain yang seharusnya tak membuat kita bermudah-mudah..
Yuuu coba sama-sama kita renungkan lagii..
Kapan terakhir ngerasa bersalah ketika chatting atau ngobrol dengan lawan jenis diluar kebutuhan?
Kapan terakhir ngerasa bersalah ketika terlampau berlemah lembut pada non mahram?
Kapan terakhir ngerasa bersalah ketika mata tak sengaja melihat yang bukan hak kita?
Kapan terakhir ngerasa bersalah ketika duduk/berdiri/bercengkerama/berfoto dengan non mahram?
Wahai dirii.. mari perbanyak lagi intropeksi.. Apakah larangan mendekati zina tak cukup membuat kita takut? Apakah keheterogenan dan rasa segan 'biar di dunia kerja tetep punya temen' buat kita terlalu bermudah-mudah?
Aku sedih tapi disatu sisi aku senang. Aku sedih karena merasa terlambat Allah beri rasa bersalah, tapi di satu sisi aku begitu senang sebab Allah masih beri kesempatan sebelum habis waktu untuk berubah.
Hari itu juga aku ingat kesimpulan obrolan kecil dengan Najdah ditengah i'tikaf tahun lalu, "Sholat taubat tu gapapa loh dirutinkan, bagus banget malah. Karena kita sebagai manusia seriiiing banget ngelakuin kesalahan dan sering nya kita ga sadar karena hati dan ilmu kita belum setinggi itu. Kadang Allah juga udah ngingetin kita, Allah udah negur kita, tapi sinyal kita ga baik, akhirnya pesan-pesannya tak sampai, doa-doa kita pun tertahan karena dosa-dosa kita."
Fyuhh... Ku ingat-ingat lagi. Ternyata benar, Allah sengaja menitipkan pesan cinta itu melaluiku -manusia yang paling butuh diingatkan karena terlalu jauh melangkah.
Untuk aku (dan kamu), semoga kita sama-sama Allah bantu beri kesempatan untuk peka terhadap pesan-pesan cintanya. Pun tentang hijab, semoga, meski dunia kerja terasa begitu heterogen, kita masih punya sinyal kuat untuk membentengi diri. Pertahanan yang cukup kokoh untuk membuat Allah ridho.
Ohya... Sebagaimana kita ingin mendapatkan pasangan yang terjaga, pasangan kita (nanti) pun berhak bertemu dengan kita dalam kondisi sebaik-baik dan senetral-netralnya, kan? Hingga lebih mudah ridho untuk mengusahakan sakinah, mawadah, rahmah, wa barakah yang sama-sama kita harapkan. :)
No comments:
Post a Comment