Tuesday, November 5, 2024

Sindrom Pasca Kampus

Beberapa bulan lalu aku ngerasa keteteran banget di hampir semua deadline. Akhirnya semua dikerjain sambil kejar-kejaran sampe mual sendiri. Setelah muhasabah dan tafakkur sedikit lebih lama, kemungkinan etiloginya satu : waktu luang yang dihabiskan pada hal-hal ga berguna.

Sebagai catatan untuk diri sendiri, mari kita coba uraikan hasil tafakkur beberapa bulan terakhir. Serta sedikit usaha yang aku rasa worth it untuk memperbaikinya.

1. Amalan Yaumi
Amalan yaumi dan keimanan seperti dua sisi koin yang sulit sekali dipisahkan. Keduanya saling berikatan dan saling mmebri dampak. Sungguh, manusiawi jika terkadang terasa fluktuatif. Tapi sungguh, membiarkan mereka naik-turun terlalu ekstrem dapat memperburuk prognosis kehidupan selanjutnya. Hingga sangat wajar jika akhirnya kita jumpai hati dalam kondisi jauh dari ketenangan.

Tips : 
  • Mulai lagi, paksa lagi. Pokoknya kudu dilawan! Malu lah sama Allah kalo kalah sama setan --dan kemalasan.
  • evaluasi dan tata ulang target kita. Yaaa hari-hari melewati sindrom pasca kampus lumayan butuh adaptasi buat aku. Tak jarang aku merasa berjuang sendiri (hahah lemah :"), makanya evaluasi berkala mengenai kondisi terkini jadi penting banget biar adaptasinya lebih cepat. Tatalaksana hanya akan tepat jika kita faham betul sumber masalahnya dimana.
  • Cari teman yg masih sefikrah, sevisi, dan semisi. Sebab, berjalan sendiri seperti seekor domba diantara gerombolan harimau. Berkomunikasi dan terus bersosial menurutku pentingg bangeettt. Apalagi buat aku yg emang cenderung extrovert dan pengen cerita semua hal yang terjadi.

2. Beban Akademis dan Keilmuan
Sejak tak ada lagi beban akademis secara formal, aku baru merasa : ternyata aku belum mandiri-mandiri banget untuk menetapkan target belajar akademis. Aku merasa beruntung karena Alhamdulillah masih Allah beri kesempatan jadi mentor preklinik di Medclass. Jadi tiap pekan minimal aku harus bikin bahan dan ngajar 3-5 subtopik. Terus belajar dan merasa belum paham benar-benar harus jadi mindset untuk menghindari rasa sombong dan cukup terhadap ilmu. Selain itu, pasien berhak ditangani oleh dokter yang cerdas --dan bertaqwa kepada Allah.

Tips :
  • Luruskan niat. Cari ridho Allah lewat ilmu
  • Jika memang keilmuan hendak diupayakan menjadi prioritas. Maka tegas dengan diri sendiri adalah solusi. Buat target serta disiplin terhadap jadwal yang sudah kita tentukan.
  • Cari guru. Miliki wadah untuk tetap aktif bertukar ilmu. Hindari persepsi satu arah.
  • Yakinkan diri bahwa salah satu warisan yang kebermanfaatannya tak terbatas adalah ilmu. Bagikanlah lewat pintu-pintu yang terbuka.

3. Perubahan Pola Jamaah dan Dakwah
Setiap pindah ke tempat baru, tentu beban utama yang harus kita selesaikan adalah adaptasi. Begitupun dalam ranah dakwah.

Sebenernya, kita akan selalu punya ribuan stok alasan untuk mundur dari jalan dakwah, tapi yang harus kita ingat, selagi kita masih yakin sama gerakan ini, minimal kita masih punya 3 alasan untuk tetap berjuang : berbalas budi pada gerakan yang sudah mendewasakan kita, malu pada Rasulullah yang perjuangannya jauh lebih berat, dan yang utama : mencari Ridho Allah swt.

4. Kebanyakan Waktu Luang Berakhir Scrolling Media Sosial
Ini PR banget buat aku. Banyak penelitian bilang, scrolling sosmed bikin otak jadi kurang fokus karena biasa dikasih 'makanan instan'. Akibatnya otak jadi males diajak buat mikir yang serius. Akhirnya dibawa tilawah udah pengen buru-buru selesai, diajak baca buku juga ga kelar-kelar, diminta buat mikirin beban-beban lain apalagi? Belum lagi, gak semua konten yang kita lihat bisa kita filter. Meskipun sudah berhati-hati ketika follow, like, comment, atau chat orang. Tapi ga jarang setan bikin salfok. Apalagi di dunia maya khalwat, ikhtilat, dan dosa-dosa mata lainnya kadang terasa kabur. Fyuhhh. PR BGT!

tips : Jauh2 dari hp. sekarang kemana-mana harus bawa Al-Quran, leptop, atau buku bacaan biar kita punya opsi buat melakukan aktivitas selain scrolling doang. Selain itu momen kritis aku untuk scroll adalah pagi hari setelah subuh dan petang sambil menunggu maghrib/Isya. Untuk itu, biasanya aku coba paksain untuk olahraga sambil dengerin almatsurat. Biasanya kalau di masa kritis itu berhasil aku lewati, waktu scrolling harianku akan berkurang drastis.

5. Tiba-Tiba Lebih Sering Sosialisasi sama Generasi Baby Boomers dan Millenial.
Selama ini ternyata sosialisasiku kurang banget, aku merasa kedewasaanku melambat karena lingkungan yg selama ini hampir selalu homogen. Setelah masuk di dunia pasca kampus, aku baru dihujani fakta bahwa di dunia kerja, dakwah, bahkan keluarga, aku harus bersosialisasi dengan orang-orang yang mayoritas lebih tua dari aku. Awalnya lumayan tricky, tak jarang akselerasi yg telampau cepat terkadang bikin aku ngerasa overwhelmed. Tp ternyata ini bentar doang sih di akuuu. Semakin kesini aku malah sering bersyukur tiap menyadari bahwa hubungan tersebut penting untuk menstimulasi kedewasaan diri. 

Udah dehh itu dulu curhatan kita hari ini. Doain aku yaaa semoga aman terus dari roller coaster keimanan ini. Dahhh.. Yuk-yuk bismillah.. semoga Allah bantu kita untuk tetap teguh diatas agamaNya.

No comments: