Sunday, February 2, 2025

New Chapter is unlocked

Hari ini, sambil makan ayam masakanku yang sedikit keasinan, akhirnya kami berdua sepakat menentukan arah. Beberapa hari ini kami sibuk berfikir dan berdiskusi. Setiap kami berdiskusi, lelaki 63 tahun itu mendengarkan dengan tenang seluruh pertimbangan-pertimbangan yang aku sampaikan, selanjutnya giliranku untuk mengizinkan beliau menentukan arah. Sebab selain masalah kesehatan orang-orang di rumah, tugasku satu : sami'na wa atho'na, taat pada keputusan bapak. Tak ada yang perlu diperdebatkan, tak ada yang perlu diegokan, sebab insyaa Allah percayaku penuh pada bapak.

Agak sedih sebenarnya membayangkan perjalanan hidup yang akan kami jalani kedepan. Tapi lagi-lagi, seperti yang selalu diingatkan dalam jamaah, kedudukan syuro sungguh lebih dekat dengan ridho Allah. Maka, dengan keteguhan dan keyakinan pada segala qada-qadar Allah, semoga tetap kutemukan tenang dalam melangkah..

Hidup memang gabisa diprediksi. Tapi insyaa Allah, dengan meyakini takdir-takdir ini diatur langsung oleh Allah, sebaik-baik perencana; aku jadi tenang. Tak ada yg perlu dikhawatirkan. Life must go ono.. Kalo kata bapak : manusia itu yg penting otak dan rasa syukur+sabarnya, nanti dimanapun tinggal, insya Allah bisa disusun lagi satu-satu.

Bismillah.. insya Allah, Allah langsung yang akan jaga bapak, mbak-mbak, dan aku.🫶🏻 Doanya sama seperti biasanya, semoga di surga nanti, Allah pertemukan keluarga kita dalam kondisi saling mengenal dan dalam jiwa yang berbahagia. 


No comments: