Tadi malam saya merenung sedikit lebih lama setelah membaca membaca thread tentang pemotongan anggaran versi kabinet sekarang. Bisa dibaca di tautan berikut : https://x.com/BetaEpsilonPhi/status/1884086676416520333 . Di thread tersebut sebenarnya saya banyak melewatkan informasi karena banyak istilah baru dan sudut pandang keahlian yang berbeda. Tapi ada satu balasan yang menarik perhatian dari akun dengan username @nowyoucatchme yang melampirkan foto berikut dengan caption : Semua itu dilakukan untuk program yg katanya gratis..... Bahkan pendidikan & kesehatan masuk di prioritas pendukung. Sehat sehat untuk kita semua ❤❤
Saya segera membaca perlahan informasi di foto tersebut. Sebuah salindia dengan judul Arah Kebijakan BPP tahun anggaran 2026, mendukung program prioritas presiden. Setelah saya coba cari tahu, BPP (Bendahara Pengeluaran Pembantu) adalah pejabat fungsional yang ditunjuk menerima, menyimpan, membayarkan, menata-usahakan dan mempertanggung-jawabkan uang untuk keperluan belanja daerah dalam rangka pelaksanaan APBD pada unit kerja SKPD. Pada salindia ini, ada 3 prioritas anggaran yang dibuat : prioritas utama, prioritas Pendukung, dan sinkronisasi program. Dan, apa yang menarik perhatian? Yaaa.. tabel berwarna merah muda dengan judul 'Prioritas Pendukung' yang berisi dua poin : pendidikan dan kesehatan.
Jujur, begitu membaca poin ini, saya menarik nafas panjang sambil banyak-banyak istighfar. Dua bidang yang menurut saya sangat fundamental bagi setiap aspek kehidupan, mulai dari individu hingga ke tahap internasional. Apalagi kalau boleh sedikit 'baper', secara personal saya 'tersinggung' karena memang dua bidang tersebut begitu erat dengan keluarga kami. (Seperti kebanyakan keluarga), keluarga besar kami pun begitu memprioritaskan kedua bidang tersebut, bahkan karena keyakinan terhadap nilai-nilai tersebut, sebagian memilih berkarir di antara kedua bidang tersebut. Yaaa.. meskipun ini baru anggaran tahun 2026, tapi kita jadi mengerti dan paham kenapa akhirnya keresahan-keresahan nakes, dosen, guru, dll rasanya seperti angin lalu saja di negara ini.
Setelah berita ini naik, secara umum akan ada dua hal yang terjadi. Pertama, anggaran tetap berlanjut. Kedua, seperti biasa, kekuatan media sosial membuat pemerintah merevisi kembali dan mengatur alternatif lain. Mari tetap berisik dengan cara yang kita bisa. Selanjutnya kita titip ke Allah saja, apapun hasilnya nanti, sebagai individu (yang tidak dapat lepas dari negara) tentu kita harus mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Tak lupa untuk terus meluruskan dan meniatkan karir kedepannya untuk kebermanfaatan. Sebab, makin kesini kita semakin sadar, jika dua bidang ini memang bukan kolam terbaik untuk 'mengeruk' sebanyak-banyaknya rezeki dalam bentuk materi. Kecuali memang kita berpintar-pintar cari peluang sebaik-baiknya lewat cara-cara yang halal.
BTW, sekarang saya sedang mengetik di meja ini. Sambil menulis ini, beberapa kali saya berhenti dan menatap satu-satu buku yang tersusun diatas saya. Yaa, walaupun dua bidang favorit saya jadi prioritas pendamping di anggaran negara, tak apa. Sungguh tak apa. Kita hanya harus tetap semangat menguatkan keduanya, sebab sama seperti tumpukan buku-buku yang mulai 'melengkungkan' rak di meja saya, seperti itu jugalah nantinya ilmu dan kesehatan dapat mempengaruhi keputusan-keputusan besar di Indonesia. Meski 'barangkali' pemerintah sengaja menjauhkan kesehatan dan pendidikan dari masyarakatnya, kita harus tetap optimis menghasilkan orang-orang sehat dan cerdas untuk menjadi pemimpin Indonesia di masa depan. Fyuhhh.. Bismillah aja dulu.. Meskipun 'agak' pasrah, tapi semoga Allah buka hati pemimpin-pemimpin kita hingga mereka bisa menjadi pemimpin yang adil dan cerdas. Aamiin..
No comments:
Post a Comment