Saturday, October 26, 2024

Hari ini aku kembali diingatkan :
"Berangkat ke Tanah suci itu bukan karena Allah memanggil yang mampu, tapi Allah mampukan yang Ia panggil."

Jadi mari ikhtiar sambil terus berdoa. Kalau rasanya jalannya tak tergapai? Biar Allah bantu tunjukkan.

Wednesday, October 23, 2024

Ternyata benar. Kitalah yg butuh Allah. Kitalah yg butuh dakwah. Kitalah yg butuh jamaah.

Sunday, October 20, 2024


“Memang seperti itu dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah”.

“Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yang menempel di tubuh rentamu. Tubuh yang luluh lantak diseret-seret. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari”.

“Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan”.

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu”

(Ust. Rahmat Abdullah)

Monday, October 7, 2024

Sudah 365 hari sejak kejadian 7 Oktober 2023.
Tepat 1 tahun sejak Palestina semakin menakutkan bagi musuh dan semakin dekat dengan orang-orang yang mencintainya.

Satu tahun dan berpuluh-puluh tahun sudah Palestina berjuang.
Sungguh, kematian-kematian dihadapan kita bukanlah satu tahun kekalahan. Bukan.
Satu tahun ini adalah satu tahun menuju kemenangan.

Mereka bertahan, kita kuatkan, Allah menangkan.
Bismillah...

Friday, October 4, 2024

Sudah lama sekali tidak melahap cepat sebuah buku, hari ini ((setelah berbulan-bulan tidak ingin membahas apapun tentang pernikahan dulu karena beberapa prioritas)) akhirnya iseng membaca ulang buku yang random dibeli beberapa tahun lalu; Melangkah Searah. Buku yang ringan. Tak memaksa dan membuat ingin 'buru-buru' menemukan, tapi justru mengingatkan lagi tentang tujuan menikah yang sebenarnya. 

Terutama bagi wanita, yang kelak ridho suamilah yang akan mempermudah langkahnya menuju Surga. Maka proses panjang sebelum melangkah searah justru jadi fase paling penting. Pas banget! Karena kadang jadi perempuan di usia yang menurut lingkungan sudah saatnya menikah, seringkali membuat terjebak pada kondisi diburu-buru untuk segera menikah. Tak salah sebenarnya, mereka pun pasti berharap yang terbaik bagi kita dengan cara-cara yang mereka bisa.

Di usia segini, seringkali usaha dari lingkungan benar-benar menakjubkan. Dalam sebulan, gerakan ibu-ibu bisa membawa beberapa kandidat yang backgroundnya begitu beragam. Dari yang hampir memenuhi seluruh cheklist kriteria, hingga bertemu manusia yang hanya penasaran. Ingin langsung memblokir tawaran, tapi berkali-kali nasehat berdatangan, "Jangan langsung blokir kalau belum mencoba memahami cara ia berfikir."

Jujur prosesnya begitu melelahkan... tapi ya begitulah ketika yang bertamu belum jodoh yang Allah takdirkan. Adaaa saja yang salah, ada saja langkah yang tertahan. Tapi berkali-kali memahamkan pada diri, "Proses taaruf terbaik bukan yang mengantarkan ke pelaminan, tapi yang membuat semua yang terlibat dalam prosesnya lebih beriman."

Salah satu contoh kecil yang sering aku syukuri dari perjalanan ini, "Ohh.. pantesan Allah beri kesempatan ikhtiar dan berdoanya lebih panjang. Ketemu orangnya juga lebih banyak. Ternyata Allah tu cuma mau memastikan apakah benar niatku lurus karena-Nya? Apakah selama ini aku masih bergantung sama manusia? Sudahkah aku bergantung sama Allah saja?"

Maka, ditengah hiruk pikuk ramainya kepala dengan perkenalan-perkenalan ini. Satu kalimat berhasil menenangkan hati dan memastikan langkahku lagi. Kalimat meneduhkan itu berbunyi : 

"Menikahlah dengan seseorang yang juga mau menikahi mimpi-mimpimu. Yang matanya berbinar ketika citamu berbinar. Yang senyumnya ikut terkembang ketika asamu terkembang." - Aji Nur Afifah

Maka tak apa, sungguh tak apa jika perjalanannya lebih seru dari perjalanan yang sebelumnya kita duga, asalkan selama prosesnya ada banyak nilai yang membawa kita jauh lebih dewasa dari sebelumnya. Selamat memilih dan memilah. Sungguh, jodoh bukan tentang salah-benar pun bukan baik-buruk. Tapi tentang kecocokan yang kita sukai dan ketidakcocokan yang paling bisa kita toleransi.

Monday, September 23, 2024

Yang perlu kita pahami, semua manusia akan selalu berfikir-menganalisis-bertindak.
Maka, kita yang terlalu bersandar pada manusia sudah pasti akan kecewa. Kita menganggap ia akan kekal membersamai kita, hingga ketika ia menggeserkan orientasi; kita terjerembab.
 
Lantas siapa yang terluka? Tentu kita.
Siapa yang salah sebab berlebih menaruh harap pada manusia? Tentulah kita juga.

Sunday, September 15, 2024

Karena masuknya kita ke Surga, bukan hasil dari kehebatan kita, pun bukan karena amalan kita yang masih compang-camping itu. Tapi sungguh, masuknya kita ke Surga hanya karena ridho Allah semata.

Saturday, September 14, 2024

PanggilanMu


لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ 
Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah. Aku datang memenuhi panggilan-Mu. Aku datang memenuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu. Aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya pujian dan nikmat adalah milikMu, begitu juga kerajaan, tiada sekutu bagi-Mu.

Usai tawaf, aku terdiam, menatap haru kakbah yang begitu megah. Ibu-ibu berusia 50tahunan itu menyentuh lengan atasku, "ayo kita minum air zam-zam dulu sebelum meninggalkan tanah suci." Aku mengangguk sambil terus menatap kakbah. Meski tak ada tuntunan sama sekali mengenai berjalan mundur menjauhi ka'bah setelah tawaf wada', tapi mataku sungguh tak ingin berhenti menatap kakbah untuk terakhir kalinya.

Kami meminum air zam-zam dalam keheningan. Kami sama-sama faham, hati kami sedang sama-sama biru. Beberapa menit kemudian datang lelaki itu, mengajakku meninggalkan masjidil haram. Tepat sedetik setelah aku melangkah, ku dengar suara khas itu begitu keras. Aku terdiam. Menatap ratap jendela tua di sisi kananku. Langit masih gelap, ku raih telpon genggam di kiriku. Pukul 03.47.  "Ah.. mimpi lagi ya?" 

Tak terasa bulir itu menetes lagi. Aku bingung mendeskripsikan kerinduan ini, "Ya Allah.. tolong panggil aku.. Sungguh, aku bersungguh-sungguh merindukanMu."











Tuesday, September 3, 2024

Beberapa pekan lalu, ditengah dinas IGD RSUD yang lumayan padat, aku sempat diminta mengisi forum annisa oleh salah satu forum di kampus. Alhamdulillah waktunya cocok, kondisinya pun cocok, tak ada alasan apapun untuk menolak. Lalu ku pastikan temanya, adik shalihah itu menjawab dengan segera, "Hijab bagi muslimah kakk, berikut saya kirim TIU/TIKnya juga kak." Setelah kubaca dua ballon berisi 8 baris itu, aku mengangguk, "hoo.. materi dasar, pesertanya pun amah. Insya Allah aman..." 

Besoknya, ku pilih menyiapkan materi ditengah malam, waktu paling santai ditengah dinas IGD. Saat itu pertimbanganku hanya agar tenang, tapi ternyata lewat sepinya malam itu, sambil menyiapkan powerpoint berwarna biru dan ungu itu aku terdiam. Setelah beberapa menit menerawang jauh melewati layar leptop, aku bergumam, "ohhh... ternyata Allah memilih aku menyiapkan dan menyampaikan materi ini bukan karena aku lebih baik, aku lebih shalihah, pun bukan karena aku lebih terjaga dibanding adik-adik yang nanti akan menjadi pendengar. Tapi jauh diatas itu, Allah sedang ingin menegurku yang sejak koas mulai bermudah-mudah dalam hijab." 

Yuu coba sama-sama diingat-ingat, dikoreksi, dievaluasi..
Kapan terakhir ngerasa malu pas jilbab tersingkap atau jadi lebih pendek dari biasanya?
Kapan terakhir ngerasa malu pas ketemu non mahram tanpa kaos kaki atau manset tangan? 
Kapan terakhir ngerasa malu karena santai banget berpunuk unta/baju ketat?
Kadang kita ngerasa baik-baik saja, entah karena tim dinas sudah seperti keluarga, rekan rumah dinas/kos yang setiap hari keluar masuk rumah, atau alasan-alasan lain yang seharusnya tak membuat kita bermudah-mudah..

Yuuu coba sama-sama kita renungkan lagii..
Kapan terakhir ngerasa bersalah ketika chatting atau ngobrol dengan lawan jenis diluar kebutuhan?
Kapan terakhir ngerasa bersalah ketika terlampau berlemah lembut pada non mahram?
Kapan terakhir ngerasa bersalah ketika mata tak sengaja melihat yang bukan hak kita?
Kapan terakhir ngerasa bersalah ketika duduk/berdiri/bercengkerama/berfoto dengan non mahram?
Wahai dirii.. mari perbanyak lagi intropeksi.. Apakah larangan mendekati zina tak cukup membuat kita takut? Apakah keheterogenan dan rasa segan 'biar di dunia kerja tetep punya temen' buat kita terlalu bermudah-mudah?

Aku sedih tapi disatu sisi aku senang. Aku sedih karena merasa terlambat Allah beri rasa bersalah, tapi di satu sisi aku begitu senang sebab Allah masih beri kesempatan sebelum habis waktu untuk berubah.

Hari itu juga aku ingat kesimpulan obrolan kecil dengan Najdah ditengah i'tikaf tahun lalu, "Sholat taubat tu gapapa loh dirutinkan, bagus banget malah. Karena kita sebagai manusia seriiiing banget ngelakuin kesalahan dan sering nya kita ga sadar karena hati dan ilmu kita belum setinggi itu. Kadang Allah juga udah ngingetin kita, Allah udah negur kita, tapi sinyal kita ga baik, akhirnya pesan-pesannya tak sampai, doa-doa kita pun tertahan karena dosa-dosa kita."

Fyuhh... Ku ingat-ingat lagi. Ternyata benar, Allah sengaja menitipkan pesan cinta itu melaluiku -manusia yang paling butuh diingatkan karena terlalu jauh melangkah.

Untuk aku (dan kamu), semoga kita sama-sama Allah bantu beri kesempatan untuk peka terhadap pesan-pesan cintanya. Pun tentang hijab, semoga, meski dunia kerja terasa begitu heterogen, kita masih punya sinyal kuat untuk membentengi diri. Pertahanan yang cukup kokoh untuk membuat Allah ridho.

Ohya... Sebagaimana kita ingin mendapatkan pasangan yang terjaga, pasangan kita (nanti) pun berhak bertemu dengan kita dalam kondisi sebaik-baik dan senetral-netralnya, kan? Hingga lebih mudah ridho untuk mengusahakan sakinah, mawadah, rahmah, wa barakah yang sama-sama kita harapkan. :)