Bibirnya bergetar, rasanya puluhan meter tali telah mengikat erat thoraxnya.
Sesak.
Sejak sembilan belas juni lebih dari tujuh ratus hari yang lalu, dia berikrar pada bayangan di cermin, "Untuk hal ini alasan terbesarnya adalah satu."
Biarkan saja.
Biar tetesan itu menghujam deras meninggalkan embun tipis di kacamatanya.
Detik itu juga ku ingin peluk dia yang mulai menggigit pelan mukosa bibir bawahnya. Lama.
Bibirnya baik, tapi gumpalan dalam dadanya tidak.
Ada gemuruh yang tak bisa dijelaskan.
Kata seseorang, perihal ini bukan masalah besar.
Kata yang lain persoalan dunia macam ini tak ada apa-apanya.
Tapi bagi manusia yang hatinya pernah luka, kecewa pada dirinya adalah bencana.
No comments:
Post a Comment