Tuesday, January 17, 2023

Sebab, membangun impian bersama-sama ternyata memang berbeda. Betapa luas ego yang sebenarnya ingin sekali kita pupuk, tetapi ada hati-hati lain yang perlu kita jaga dan ada pemikiran-pemikiran lain yang harus kita hargai.

Lewat diskusi-diskusi ringan hingga penuh tangisan, terimakasih sudah menggenapkan beribu paham ganjil ini.

Sungguh, ridha Allah bersamaan dengan hasil keputusan-keputusan kita bersama. Bukan hanya keputusanmu pun keputusanku semata.

Thursday, January 12, 2023

Bagi bungsu sepertiku, membersamai anak-anak begitu menyenangkan.
Ya, sejak sekolah dasar, mendampingi tumbuh kembang anak adalah hal yang paling aku suka.
Mereka begitu luarbiasa, makhluk yang benar-benar diciptakan Allah spesial dalam setiap periode kehidupannya. Menarik sekali!

Sahabat kecil pertamaku bernama Aisyah!
Ya.. saat menulis ini usianya sudah 15 tahun.
Hampir selama itu pula aku mengenalnya. Ia yang pertama kali mengajarkan bahwa anak-anak bukan dewasa kecil. Darinya aku belajar bahwa setiap milestone begitu menyenangkan untuk dilalui bersama. 
Terlebih saat pertama kali langkah pertamanya berhasil ia lalui. Aku berjanji pada diri sendiri, ‘aku akan membersami banyak langkah kecil lainnya di masa depan.’ Hingga di kelas 10 aku beranikan menuliskan cita-citaku, “spesialis anak”

Setelah 9 tahun berjanji pada diri sendiri, betapa bahagianya akhirnya aku benar-benar satu langkah lebih dekat dengan cita-cita itu. Di semester kedua masa preklinikku, dengan begitu bersemangat aku menyambut blok ilmu kesehatan anak.  Pada perkenalan blok, aku ingat betul slide pertama mengingatkan lagi kenyataan bahwa ‘anak bukan dewasa kecil’.Ya, fakta yang selalu aku ulang-ulang. Terlebih di pekan pertama kami spesifik mempelajari tentang tumbuh kembang anak. Topik yang begitu menyenangkan untuk dilalui. Ya, karena mereka spesial.. Tak pernah sama.

Dan tahun ini, di tahun ke 15 impian itu mulai berani aku tanam benihnya..
Lewat beberapa doa yang aku lambungkan, Allah beri dengan kesempatan berharga, menemani tumbuh kembang keponakanku. Yang meskipun saat ini tak lama, semoga nanti, satu-dua tahun lagi, ada yang mengizinkanku tetap di kota ini, melanjutkan impianku untuk terus mencintai anak-anak dan menjaganya agar dapat tumbuh-berkembang seoptimal mungkin, mendeklarasikan dan membantu ribuan bahkan jutaan ibu agar anak-anaknya sehat, kuat, cerdas, dan dapat menjadi pemimpin yang luarbiasa. Semoga, morbiditas dan mortalitas dapat ditekan begitu rendah. Minimal dari rumah orang-orang yang aku cintai.

Semoga Allah sampaikan..
Semoga Allah beri kesempatan..

Monday, January 2, 2023

Cuti

Dua bulan yang lalu, di antara doa-doa yang aku lampungkan, ada satu harap yang malu-malu aku bumbungkan..
"Ya Allah.. tak sampai setahun lagi aku menyelesaikan pendidikan.. Izinkan aku menysun lagi petak-petak impian yang ingin aku gapai. Aku yakin sekali perihal rezeki, jodoh, dan kebahagiaan itu murni dari mu. Jumlahnya selalu pas, tak kurang pun tak berlebihan.. Maka.. setelah aku mencoba mengotak-kotakkannya lagi, tangga pertama yang paling ingin aku lakukan adalah merapikan lagi genggaman di keluarga. Izinkan aku jatuh hati dan terbiasa lagi bertemu dan berdiskusi dengan bapak dan mbak-mbak. Sebab apapun langkahnya nanti, tak ada lagi tempat ternyaman selain bersama mereka.."

Dan tepat 2 hari setelah doa dan harapan panjang yang dilangitkan... Pukul 00.37 pagi Mas Sarimin menelpon.
"Bapak dibawa ke IGD, tadi kejang dan sempat tidak sadar setelah demam tinggi."

Sebelum aku menyadari doa yang pernah aku lambungkan, dengan menurunkan segala ambisiku terhadap pendidikan dan dunia, aku yang sempat punya trauma terhadap kabar buruk mengenai orangtua akhirnya memberanikan diri memohon di diskusi keluarga untuk menyampaikan bahwa, aku akan cuti. Pulang, menemani bapak, menyembuhkan luka bapak -hingga pulih. 

Semuanya berjalan begitu penuh teka-teki. Begitu manis.

9 pekan menunda menyelesaikan pendidikan demi memeluk bapak dengan pelukan yang lebih hangat. 'Bapak berhak atas ilmuku lebih dari siapapun di dunia ini.'

Mbah Marno

Hari ini bertemu dengan orangtua angkat bapak yang kesekian.
Nyatanya beberapa tahun ini 'LDR' begitu membekukan terlalu dalam.
Hari ini, sambil berlutut disamping bapak dan ibu angkatnya, bapak menangis (tanpa suara). Hanya air mata yang tertahan begitu erat, "maturnuwun nggih pak, bu.. menawi riyen mboten bapak ibu sekolahke, kulo mboten ngertos pripun malih.."

---------

Hari ini bapak yang sudah lama tak bercerita panjang akhirnya kembali menumpahkan banyak cerita. -yang sudah lama kami rindukan.
Sepanjang jalan sebelum sampai ke rumah 'kakek' angkatku, bapak memetakan lagi timeline hidupnya yang selalu berhasil membuatku jatuh hati.
Kali ini beliau bercerita masa SMP-nya. 1975-1976.. Dua tahun setengah yang begitu berkesan.
Bapak bilang, di akhir kelas 6 SD wali kelasnya bertanya, "siapa disini yang lanjut sekolah SMP?"
Semua mengangkat tangan, kecuali bapakku.
Kemudian bapak dipanggil dan ditabayyun oleh wali kelasnya, akhirnya bapak mengaku, "mboten wonten dananipun, pak.."
Tak lama wali kelasnya bertanya, "Kalau tak sekolahin, kamu mau?"
"Kulo tanglet bapak kaleh ibu riyen nggih pak.."

Dan beberapa hari kemudian, dipenuhi diskusi yang awalnya ditentang makwo.. Akhirnya bapak, pakwo, dan makwo sepakat, "yaa... kalau bapak mau sekolah, boleh.. semampunya, secukupnya. Kalau tidak sanggup, gakpapa berhenti..

Dan sejak hari itu, akhirnya bapak sah menjadi anak angkat dari wali kelasnya, Mbah Marno. Mbah Marno yang lahir 20 tahun sebelum bapak lahir.

--------

Mbah Marno, mbah yang akhirnya berani mengajak bapak tinggal 24/7 di rumahnya. Memberi bapak makan, tempat tinggal, pendidikan, dan pekerjaan. Mbah Marno yang hingga kini matanya selalu berkaca-kaca setiap bertemu dengan bapak. Mbah Marno yang berkali-kali membuat bapak tersenyum sambil berkaca-kaca, "Aku bangga sama Mas Nardi. Alhamdulillah dengan segala keterbatasannya, sekarang berhasil menjaga diri sendiri dan mengarahkan anak dan keluarganya."

Mbah Marno, lelaki yang hari ini masih gagah dengan ingatan yang masih kuat meski sudah berusia 82. Berkali-kali tersenyum sambil menepuk-nepuk bahu bapak yang berkali-kali memeluknya. Bangga sekali pada lelaki 62 tahun yang berkali-kali mengaku, "aku dari dulu takut sekali sama Pak Marno.. Bukan karena pemarah, tapi karena dalam diamnya Pak Marno penuh degan wibawa."


Hari ini...
Dari berlapis-lapis rahasia yang Allah tampakkan..
Terimakasih ya Allah.. Terimakasih telah mempertemukan bapak dengan mbah lagi.
Terimakasih, akhirnya kami kembali melihat bapak 'bernyawa'.