Monday, January 2, 2023

Cuti

Dua bulan yang lalu, di antara doa-doa yang aku lampungkan, ada satu harap yang malu-malu aku bumbungkan..
"Ya Allah.. tak sampai setahun lagi aku menyelesaikan pendidikan.. Izinkan aku menysun lagi petak-petak impian yang ingin aku gapai. Aku yakin sekali perihal rezeki, jodoh, dan kebahagiaan itu murni dari mu. Jumlahnya selalu pas, tak kurang pun tak berlebihan.. Maka.. setelah aku mencoba mengotak-kotakkannya lagi, tangga pertama yang paling ingin aku lakukan adalah merapikan lagi genggaman di keluarga. Izinkan aku jatuh hati dan terbiasa lagi bertemu dan berdiskusi dengan bapak dan mbak-mbak. Sebab apapun langkahnya nanti, tak ada lagi tempat ternyaman selain bersama mereka.."

Dan tepat 2 hari setelah doa dan harapan panjang yang dilangitkan... Pukul 00.37 pagi Mas Sarimin menelpon.
"Bapak dibawa ke IGD, tadi kejang dan sempat tidak sadar setelah demam tinggi."

Sebelum aku menyadari doa yang pernah aku lambungkan, dengan menurunkan segala ambisiku terhadap pendidikan dan dunia, aku yang sempat punya trauma terhadap kabar buruk mengenai orangtua akhirnya memberanikan diri memohon di diskusi keluarga untuk menyampaikan bahwa, aku akan cuti. Pulang, menemani bapak, menyembuhkan luka bapak -hingga pulih. 

Semuanya berjalan begitu penuh teka-teki. Begitu manis.

9 pekan menunda menyelesaikan pendidikan demi memeluk bapak dengan pelukan yang lebih hangat. 'Bapak berhak atas ilmuku lebih dari siapapun di dunia ini.'

No comments: