Monday, January 2, 2023

Mbah Marno

Hari ini bertemu dengan orangtua angkat bapak yang kesekian.
Nyatanya beberapa tahun ini 'LDR' begitu membekukan terlalu dalam.
Hari ini, sambil berlutut disamping bapak dan ibu angkatnya, bapak menangis (tanpa suara). Hanya air mata yang tertahan begitu erat, "maturnuwun nggih pak, bu.. menawi riyen mboten bapak ibu sekolahke, kulo mboten ngertos pripun malih.."

---------

Hari ini bapak yang sudah lama tak bercerita panjang akhirnya kembali menumpahkan banyak cerita. -yang sudah lama kami rindukan.
Sepanjang jalan sebelum sampai ke rumah 'kakek' angkatku, bapak memetakan lagi timeline hidupnya yang selalu berhasil membuatku jatuh hati.
Kali ini beliau bercerita masa SMP-nya. 1975-1976.. Dua tahun setengah yang begitu berkesan.
Bapak bilang, di akhir kelas 6 SD wali kelasnya bertanya, "siapa disini yang lanjut sekolah SMP?"
Semua mengangkat tangan, kecuali bapakku.
Kemudian bapak dipanggil dan ditabayyun oleh wali kelasnya, akhirnya bapak mengaku, "mboten wonten dananipun, pak.."
Tak lama wali kelasnya bertanya, "Kalau tak sekolahin, kamu mau?"
"Kulo tanglet bapak kaleh ibu riyen nggih pak.."

Dan beberapa hari kemudian, dipenuhi diskusi yang awalnya ditentang makwo.. Akhirnya bapak, pakwo, dan makwo sepakat, "yaa... kalau bapak mau sekolah, boleh.. semampunya, secukupnya. Kalau tidak sanggup, gakpapa berhenti..

Dan sejak hari itu, akhirnya bapak sah menjadi anak angkat dari wali kelasnya, Mbah Marno. Mbah Marno yang lahir 20 tahun sebelum bapak lahir.

--------

Mbah Marno, mbah yang akhirnya berani mengajak bapak tinggal 24/7 di rumahnya. Memberi bapak makan, tempat tinggal, pendidikan, dan pekerjaan. Mbah Marno yang hingga kini matanya selalu berkaca-kaca setiap bertemu dengan bapak. Mbah Marno yang berkali-kali membuat bapak tersenyum sambil berkaca-kaca, "Aku bangga sama Mas Nardi. Alhamdulillah dengan segala keterbatasannya, sekarang berhasil menjaga diri sendiri dan mengarahkan anak dan keluarganya."

Mbah Marno, lelaki yang hari ini masih gagah dengan ingatan yang masih kuat meski sudah berusia 82. Berkali-kali tersenyum sambil menepuk-nepuk bahu bapak yang berkali-kali memeluknya. Bangga sekali pada lelaki 62 tahun yang berkali-kali mengaku, "aku dari dulu takut sekali sama Pak Marno.. Bukan karena pemarah, tapi karena dalam diamnya Pak Marno penuh degan wibawa."


Hari ini...
Dari berlapis-lapis rahasia yang Allah tampakkan..
Terimakasih ya Allah.. Terimakasih telah mempertemukan bapak dengan mbah lagi.
Terimakasih, akhirnya kami kembali melihat bapak 'bernyawa'.

No comments: