Monday, September 18, 2023

"Kak.. kalau ada yg mau join kelompok kita boleh, kak? Aku pengen ajak temenku kak. Soalnya kalau aku denger sesuatu yg aku suka, aku pengen orang-orang denger juga kak.."

Jadi kepikiran, Surga dipenuhi apa yang kita suka kan ya. Berarti Surga juga ya dek? :")

Friday, September 15, 2023

Sambel Teri Terong


        Pertama kali belajar masak sekitar 4 tahun silam karena kangen masakan mamak dan mulai bosan sama masakan Minang yang kuat banget rasanya. Akhirnya memberanikan diri nembung ke bapak buat beli kompor pake uang tabungan. Masakan pertama waktu itu sayur kangkung sama telur dadar. Inget banget masak 2 itu aja udah riweuh banget. Motong bawang seupil aja ga selesai-selesai wkwk. Akhirnya karena merasa lebih gampang jajan, keinginan masak naik turun.

        Sekitar 3 bulan setelahnya mulai pindah kos ke tempat yang dapurnya lebih nyaman, jadi jauh lebih sering masak. Jadi lebih sering masak menu yang rutin mamak masak dulu. Tapi ada satu masakan yang gak pernah berani aku masak, sambel teri terong. Masakan yang paling aku suka dari seluruh masakan mamak. Aku takut cita rasa yang selama ini aku kenang rusak karena tanganku yang masak telur aja masih gosong.

        Dan hari ini, setelah hampir 4 tahun belajar masak, meskipun dengan cabe yang gak murni buatanku karena setengahnya dari sambel ayam bawang, aku beranikan untuk memasak menu yang hampir selalu ada tiap pekan di rumah dulu. Dan alhamdulillah, ternyata rasanya hampir mirip masakan mamak :") 

        Rasanya bener-bener kayak balik jaman SD dulu. Inget banget pulang sekolah, berkeringat-keringat, rambut dah berantakan, sampai rumah masuk lewat warung. Pas ketemu mamak, mamak langsung bilang, "Mamak masak sambel teri." Kalo versi anime pasti udah auto zoom, mata membesar, badan melayang-layang menuju meja makan. Dan habislah sudah nasi 3 piring sendirian wkwk. Ah, kangen yaaaa. Hangatt banget rasanya, sampe sekarang pun, jam 10 pagi aku udah habis 3 piring setelah masak sebelum subuh tadi wkwk. Wes, rencana diet biar baju wisuda gak kekecilan batal sudah wkwkwk.


        Jadi makin yakin, ibu adalah karir yang paling penting dan mulia. Karir yang tidak bisa digantikan oleh siapapun dengan sempurna. Karir yang balasannya Surga. Sebab meski hanya sesederhana menggoreng telur, jika telur tersebut dibuat dengan cinta dan doa agar energi yang nanti dihasilkan dari telur tersebut dapat menjadi penguat langkah suami dan anak-anak untuk berdakwah, belajar, dan membela agama Allah, maka ia akan menjadi amalan yang luar biasa.

        Bismillah.. Semoga jika nanti Allah beri rezeki dan amanah untuk memiliki anak, semoga kita tetap bisa punya prinsip yang kokoh untuk memberi asupan yang sehat dan enak sebab didalamnya penuh dengan cinta dan doa bahkan pada setiap potongan bawangnya. Cemangat calon ummik2 di dunia inii hihi.

Aku setelah makan sop/sayur bening yang
dibuat mirip sama masakan mamak pas lagi sakit.
Masi sakit dan sedih, tapi ada 'hangat' yang gabisa dijelasin.


Tuesday, September 12, 2023

Membawa Kehangatan Padang ke Negeri Dingin

Alhamdulillah, akhirnya tanggal 9 dan 10 kemarin jadi juga 'pulang kampung' sekaligus rihlah. Tapi di tulisan ini kita mau ngomongin edisi jalan-jalannya aja ya, karena tulisannya akan berbeda dan lebih panjang wkwk. 

Jadi, perjalanan ini sudah direncanakan jauh-jauh hari sebagai 'hadiah' menyelesaikan perjalanan panjang persiapan UKMPPD. Setelah berkali-kali rapat, akhirnya Tour de Sumbar menjadi pilihan kami, selain karena tujuan utama adalah pulang kampung untuk meminta doa, restu, dan tentu saja menjag silaturahmi, tentu saja perjalanan ini jauh lebih aman untuk kami ber-10 yang seluruhanya perempuan. Sempat beberapa kali berbeda pendapat sampai sedetik sebelu perjalanan mengenai tujuan. Tapi alhamdulillah all of us are happy! Pada perjalanan kali ini akhirnya berlabuh pada beberapa tujuan : Rumah Amah - Danau Kembar, Alahan Panjang - Rumah Caau - Rumah Sabi - Danau Singkarak - Puncak Lawang - Padang Panjang - Pariaman.

Semoga, lewat perjalanan ini kami semakin mengagumi ciptaan dan takdir-takdir Allah.
Semoga bersama perjalanan ini, lelah dan nikmat perjuangan UKMPPD yang kemarin kami rasakan semakin nikmat dan dapat dikenang dengan semanis-manisnya ingatan.
Dan yang tak kalah penting, semoga perjalanan ini kian menyatukan hati-hati kami dalam ikatan yang jauh lebih erat.

Kiinan dan kabut Puncak Lawang yang diedit dikit biar warnanya
lebih biru. Sejak nonton Petualangan Sherina belasan tahun silam,
jadi suka banget sama hutan dan kabut. Semoga kedepannya dikasih kesempatan
naik ke tempat-tempat tinggi lainnya dengan kondisi menyejukkan lagi yaa! >3<

Kami bersepuluh, saling memeluk, menjaga agar kehangatan
yang sudah dijaga dari Padang tetap terasa meskipun
diantara dinginnya Puncak Lawang. wkwk.

Kami bersepuluh, foto dibelakang si Gadis dengan hp diatas Si Boy.
Makasih ya Boy dan Gadis sudah kuat dan tangguh
membawa kami mengelilingi Sumbar! Jadi selanjutnya kemana?

Foto di depan Masjid Ummi bersama calon ummi-ummi luar biasa.
Btw, ini jadi salah satu masjid yang aku suka. Selain view Danau Kembar
yang menenangkan, kondisinya yang bersih, dan airnya yang sejukkkk sekali begitu kuat
tertanam di memori. Semoga semua pihak yang mengurus dan berkontribusi
terhadap masjid ini mendapatkan amalan jariyah yang tak putus-putus! Aamiin...

Kami dan view Danau Kembar yang akan dirindukan.

Bonus foto ibu-ibu dengan dresscode secara gak sengaja sanga globe sekali,
alias biru-hijau. (Minus Urfa berbaju biru yang gatau kemana wkwk)

Sebenarnya perjalanan ini jauuuuh lebih panjang dari ini. Tapi kalo semua foto diupload, nanti jadinya album wkwk. See u di perjalanan-perjalanan selanjutnya yang semoga muaranya adalah perjalanan menuju Surga-Nya. :")

Thursday, September 7, 2023

Akhirnya satu persatu manusia di rumah ini mulai berkemas. Memilah yang perlu dibawa dan ditinggalkan. Tapi yang pasti, semoga seluruh kenangan manis di dalamnya tetap kekal dan jadi alasan kita kembali bertemu di tempat-tempat menarik selanjutnya, bermuara bersama di Surga-Nya. :")

Wednesday, September 6, 2023

Percaya

Beberapa pekan yang lalu, setelah mengajukan proposal bantuan dana ke Bapak dan Mba karena  kebutuhan akhir kuliah sulit sekali terback up. Akhirnya bapak mengirim uang ke rekening 3x lipat dari yang aku sampaikan. Buru-buru nelpon bapak dan hanya dijawab, "Gak papa, kan udah lama gak dikirimin. Pokoknya kalo masalah pendidikan kabari kalau kurang. Nanti sisanya ditabung ya buat modal usaha." 

Aku tertawa dan bersyukur, "bagusnya usaha apa ya pak?" Bapak menanggapi dengan santai, "Ya kalau jaman sekarang kan Putri yang lebih faham kondisinya. Masa mau ikut-ikut usaha bapak? Nanti gak cocok.." Aku mengangguk meng-iya-kan. Lalu mulai iseng bertanya, "Emang bapak percaya? Nanti Putri pake untuk foya-foya boleh gak? Beli hapeee.. Beli baju wisudaaa.. Beli makanan yang enak-enakk"

Lalu bapak dengan jelas berkata, "Kalau HP bisa jadi modal bergerak, berprestasi, dan meguntungkan, monggo. Beli yang paling bagus sekalian boleh. Kalau buat modal les, ngaji, atau nambah ilmu lainnya pun monggo. Ilmu memang mahal kan? Tapi kalau baju wisuda dan makanan kan itu cuma sementara. Enak boleh, tapi targetnya kan kenyang dan sehat? Bapak percaya sama Putri."

Ya, bahasa cinta itu begitu banyak bentuknya. Memang tak seluruhnya akan terasa tepat untuk kita, tapi percayalah seluruhnya benar nyata. Beberapa akan menyampaikan cinta lewat kata krtika sebagian lain akan menunjukkannya lewat percaya.

Meski hingga kini tak semua gelas cinta kita terasa penuh, semoga kita bisa memenuhi gelas-gelas cinta orangtua dan anak-anak kita ya..

Monday, September 4, 2023

Merawat Sumber Ilmu

Namanya Bu Elizabet, beliau dosen preklinik kami. Dulu beliau mengampu mata kuliah biologi. Orangnya tegas dan baik. Beliau salah satu tetangga kontrakan kami yang begitu rajin ke Masjid. Akhir-akhir ini setiap selesai sholat beliau sering mengeluhkan kakinya yang mulai membengkak, "Menurut Kiinan, kenapa ya kaki ibu bengkak-bengkak? Coba periksa Nak.." Aku ragu-ragu mencoba memeriksa kaki beliau. Salah satu hal terberat adalah memeriksa kondisi guru sendiri, orang yang sudah rutin memberikan ilmu. Beban secara keilmuan yang sering membuat pertanyaan besar di kepala, "Apakah aku sudah pantas mengobati guru-guruku sendiri? Apakah beliau benar-benar percaya dengan ilmu yang masih setetes ini?" Rasanya seperti menghadapi ujian OSCE, lebih mendebarkan karena pasiennya benar-benar beliau.

"Bu.. kayaknya kaki ibu bengkak karena ibu sudah lama kurang aktivitas karena fraktur kemarin bu.. Coba tinggikan kaki dulu, bu.. Ibu ada penyakit komorbid, bu?"

Beliau mengangguk, "Ibu rutin minum Amlodipin, Kiinan."

"Ibu mau coba periksa ke spesialis bu? Kiinan takut salah buu..", kataku sambil tertawa. Takut sekali salah mendiagnosis dan memberi saran kepada salah satu orang yang sudah mentransfer ilmunya ke makhluk remeh temeh ini.

"Iyaa. ibu mau coba ke onkologi dulu karna ada bagian yang kerasa kayak tumor ini."

"Ohya bu, boleh buu.. coba saja dulu ya buu. Semoga aman ya bu.. Sementara ibu jangan banyak kegiatan dulu, bu.. Dikurangi dulu minum airnya ya bu biar berkurang bengkaknya dan kerja jantung dllnya tidak berat."

Ya.. selain beberapa faktor risiko tadi, bengkak di kaki beliau salah satunya kucurigai ke arah pembesaran jantung, terlebih karena akhir-akhir ini beliau ada mengeluhkan sesak ketika beraktivitas juga, tetapi sebagai anak kecil yang takut sekali menambah fikiran dan salah mendiagnosis gurunya, aku hanya bisa mengedukasi sebisaku. Mencari bahasa yang paling ahsan. Berharap kecurigaan itu tidak keluar dari mulutku :")

Hari ini, setelah shalat sunnah rawatib, beliau memanggilku, "Kiinan... ibu tadi sudah jadi ke Onkologi, kata beliau, beliau curiga sakit jantung. Edukasinya sama dengan yang Kiinan sampaikan. Kamis ibu kontrol ke jantung."

Aku memegang tangan beliau, "Ibuu jangan capek-capek ya buu. Semoga nggak beneran sakit jantung ya bu. Ibu sehat-sehat yaa."

Ah kadang aku bingung, bagaimana ya caranya profesional pada sumber-sumber ilmu? Meskipun sebenarnya akupun sudah tahu jawabannya, cara paling hebat adalah belajar untuk terus menambah ilmu. Memberikan kepercayaan dan rasa nyaman agar ilmu yang tak seberapa ini dapat memberi manfaat bagi guru-guru tercinta.

Mohon bantuan doanya semoga beliau sehat-sehat yaaa.

Bu Wir

Akhir-akhir ini alhamdulillah diberi waktu lapang, setelah ngobrol sama tetangga-tetangga kontrakan, akhirnya merasa semangat akhir-akhir ini memang benar-benar duniaa banget.  Jadi tetangga samping kanan kami namanya Bu Wir, awalnya aku panggil Nenek, tetapi beliau lebih suka dipanggil ibu karena rasanya 80 tahun baginya masih 'muda' wkwk. Alhamdulillah she looks healthy.

Awal akrab sama beliau sejak Ramadhan tahun lalu, beliau salah satu dari belasan ibu-ibu yang rutin sholat dan tilawah di Masjid kami. Sejauh ini, nampaknya  beliau adalah jamaah tertua di masjid kami. Dengan tubuhnya yang sudah kifosis, semangatnya luar biasa sekali untuk tetap menuntut ilmu, selain rutin berjamaah dan tilawah di masjid, beliau juga rajin mengikuti kelas tahsin 2 x per pekan. Bahkan beliau ikut kegiatan rihlah ke luar kota. "Ya kalau ibu kan udah tua ya nak, tinggal ke masjid aja lagii. Kalau masih muda kayak Kiinan mah banyak aktivitasnya." Aku tertawa, "Lahh.. masa tenaga kinan kalah sama ibu, buu.. Kiinan gamau kalah lah sama ibu. Masa ibu di masjid kiinan jamaahnya di rumah terus wkwk." Beliau tertawa renyah, "Abis Kiinan ujian kita rutinkan sholat di masjid sama-sama ya Kiinan.." Ah.. teduh sekali. 

Alhasil, beberapa hari terakhir, beliau yang paling semangat menyebarkan ke semua jamaah, "Ini namanya Kiinan, anak kos sebelah rumah ibuk. Anak kedokteran." Aku hanya tersenyum, ikut menyapa sambil menghafal nama ibu-ibu disana. Beliau juga yang paling keras bilang ke ibu-ibu yang belum mengenaliku, "Kiinan ni ada kok ke masjid sebelum inii.. Udah berapa Ramadan ini, tapi pas masih kuliah jarang dan cuma sebentar-sebentar aja." wkwk. Sayang banget kan yaa? Belum lagi setiap selesai sholat, beliau akan mengenalkan dan mengulang nama ibu-ibu disana satu persatu, "Yang itu ibunya dulu perawat di M. Djamil, nah yang itu anaknya 2 di kedokteran, kalo yang itu orang Palembang. Siapa tau nanti Kinan prakteknya di Padang, tetap jadi tetangga ibu ya." Rasanya pengen aku peluk sambil cubit-cubit saking gemasnya, tapi ya gak sopan ya bun? wkwk. Jazakillah khairan katsiran ibuu..

Apalagi malam ini, dibawah hujan yang mulai deras, selesai sholat sunnah beliau langsung memanggil namaku, "Kinan mau ngaji dulu apa pulang sama ibuu? ibu bawa payung..." Tentu saja, setelah mendengar hujan yang prognosisnya akan malam, maka aku memutuskan untuk ikut Bu Wir, berduaan di bawah payung beliau. Sesekali tertawa sambil berlari kecil.

Mohon bantu doakan beliau agar selalu diberi kesehatan, kelapangan, dan kelak akan kembali ke Surga-Nya. Beliau lembut sekali, sabar, tenang. Terimakasih ya bu, doakan cucumu yang nakal ini, semoga bisa dewasa, beradab, dan bersemangat seperti ibu. :")

With love,
Tetangga yang sudah dan akan sering merepotkan ibu, tapi suka sekali ke masjid dan jalan pagi keliling komplek sama ibu.
Kiinan.

Saturday, September 2, 2023

Approved

Beberapa hari ini, kegiatan akademik benar-benar 'nol'. Les yang sudah direncanakan belum mulai. Alhasil hanya berkutat pada agenda rutin dan menjadi research assistant dari dua dosen dan satu residen. Begitu banyak waktu kosong yang takuttt banget malah keisi sama hal-hal sia-sia :")

Setelah ngobrol sama Anggi R yang banyak idenya wkwk. Akhirnya aku ikut-ikutan Anggi daftar shutterstock. Jadi inget dulu waktu SMP pengen juga tapi gajadi-jadi padahal Ani udah sering ngajakin wkwk. Setelah daftar, aku langsung mengupload beberapa hasil kamera Samsung A50ku. Sehari dua hari berlalu, akhirnya di hari ke 3 satu gambar ditolak. Agak sedih, tapi masih ada belasan foto lain yang belum di review. Akhirnya 'nitip' ke Allah, " Ya Allahh.. aku mau coba jualan gambar aja Ya Allah. Daripada hobi moto ini cuma mengendap di hp, siapa tau bisa bermanfaat buat orang-orang yang lagi butuh. Meskipun kwalitasnya biasa saja, siapa tau ada beberapa foto yang bisa dipake perusahaan-perusahaan diluar dan bermanfaat."

Akhirnya 2 hari setelah penolakan itu, 16 foto lainnya diapprove. Ya, dari 1 gambar yang di tolak, 16 lainnya diterima. Meskipun belum laku wkwk. Tapi alhamdulillah, I'm so happy. Selamat bertualang di shutterstock anak-anakku..

Peristiwa ditolak dan diterima ini sebenarnya hal yang sudah jadi peristiwa rutin dalam hidup kita. Sering kali kita kecewa pada penolakan, padahal banyak juga penerimaan yang tak jarang akan membawa kita ke perjalanan panjang yang begitu penuh perjuangan.

Dan kemarin, Allah menunjukkan satu ketentuan besar lagi. 'Penerimaan' dari Allah yang betul-betul tak ada daya dan upaya selain memang Allah langsung yang memilih. Perjalanan panjang yang tak nampak ujungnya, perjalnan panjang yang katanya akan jauh lebih berat dari tahap-tahap sebelumnya, perjalanan panjang yang berkali-kali menimbulkan tanya, "Apakah aku cukup pantas memberikan kontribusiku yang lemah ini?"

Pertanyaan-pertanyaan yang akhirnya akan selalu berhenti pada muara yang sama, "Ya, Allah yang memilih, Allah yang merasa kita pantas atau kalaupun kita memang tidak pantas, maka Allah dengan kasih sayang-Nya lah yang akan membantu dan menemani kita dalam perjalanan memantaskan diri."

Yang diterima belum tentu lebih baik dari yang tertolak, tapi pilihan-Nya pasti ketentuan yang terbaik.

Perjalanan cinta ini akan lebih panjang dan meminta segalanya. Tapi, segala cinta yang jalan ini minta pasti tak akan pernah bisa melebihi besarnya cinta dari-Nya.

Padang, 1 September 2023
Dari salah satu ruangan di lantai dua
Dengan hati yang bertanya-tanya
Mari kita mulai perjalanan-perjalanan selanjutnya