Namanya Bu Elizabet, beliau dosen preklinik kami. Dulu beliau mengampu mata kuliah biologi. Orangnya tegas dan baik. Beliau salah satu tetangga kontrakan kami yang begitu rajin ke Masjid. Akhir-akhir ini setiap selesai sholat beliau sering mengeluhkan kakinya yang mulai membengkak, "Menurut Kiinan, kenapa ya kaki ibu bengkak-bengkak? Coba periksa Nak.." Aku ragu-ragu mencoba memeriksa kaki beliau. Salah satu hal terberat adalah memeriksa kondisi guru sendiri, orang yang sudah rutin memberikan ilmu. Beban secara keilmuan yang sering membuat pertanyaan besar di kepala, "Apakah aku sudah pantas mengobati guru-guruku sendiri? Apakah beliau benar-benar percaya dengan ilmu yang masih setetes ini?" Rasanya seperti menghadapi ujian OSCE, lebih mendebarkan karena pasiennya benar-benar beliau.
"Bu.. kayaknya kaki ibu bengkak karena ibu sudah lama kurang aktivitas karena fraktur kemarin bu.. Coba tinggikan kaki dulu, bu.. Ibu ada penyakit komorbid, bu?"
Beliau mengangguk, "Ibu rutin minum Amlodipin, Kiinan."
"Ibu mau coba periksa ke spesialis bu? Kiinan takut salah buu..", kataku sambil tertawa. Takut sekali salah mendiagnosis dan memberi saran kepada salah satu orang yang sudah mentransfer ilmunya ke makhluk remeh temeh ini.
"Iyaa. ibu mau coba ke onkologi dulu karna ada bagian yang kerasa kayak tumor ini."
"Ohya bu, boleh buu.. coba saja dulu ya buu. Semoga aman ya bu.. Sementara ibu jangan banyak kegiatan dulu, bu.. Dikurangi dulu minum airnya ya bu biar berkurang bengkaknya dan kerja jantung dllnya tidak berat."
Ya.. selain beberapa faktor risiko tadi, bengkak di kaki beliau salah satunya kucurigai ke arah pembesaran jantung, terlebih karena akhir-akhir ini beliau ada mengeluhkan sesak ketika beraktivitas juga, tetapi sebagai anak kecil yang takut sekali menambah fikiran dan salah mendiagnosis gurunya, aku hanya bisa mengedukasi sebisaku. Mencari bahasa yang paling ahsan. Berharap kecurigaan itu tidak keluar dari mulutku :")
Hari ini, setelah shalat sunnah rawatib, beliau memanggilku, "Kiinan... ibu tadi sudah jadi ke Onkologi, kata beliau, beliau curiga sakit jantung. Edukasinya sama dengan yang Kiinan sampaikan. Kamis ibu kontrol ke jantung."
Aku memegang tangan beliau, "Ibuu jangan capek-capek ya buu. Semoga nggak beneran sakit jantung ya bu. Ibu sehat-sehat yaa."
Ah kadang aku bingung, bagaimana ya caranya profesional pada sumber-sumber ilmu? Meskipun sebenarnya akupun sudah tahu jawabannya, cara paling hebat adalah belajar untuk terus menambah ilmu. Memberikan kepercayaan dan rasa nyaman agar ilmu yang tak seberapa ini dapat memberi manfaat bagi guru-guru tercinta.
Mohon bantuan doanya semoga beliau sehat-sehat yaaa.
No comments:
Post a Comment