Hari ini, karena sedang Allah beri kesempatan cuti dari ibadah-ibadah tertentu. Waktuku jadi lumayan lapang. Maka, mari kita coba salurkan lagi berisiknya kepala lewat tulisan.
Mari kita mulai dengan story Ummu Alila, istri Ustadz Felix yang masyaa Allah itu~
Setelah aku pikir-pikir, kadang aku ngerasa kalau sebenernya aku tu aslinya 2 orang. Yg satu ambis banget pengen ini itu, yg satu lagi pengen jadi ibu rumah tangga yg stay di rumah ajaaa. Padahal, kalo belajar sirah dan lihat ummahat kece abad ini, mereka ga milih diantara keduanya. Tapi, mereka memilih untuk memaksimalkan umur yg Allah beri dengan menjalankan semua amanah-amanah tanpa meninggalkan yang harusnya diprioritaskan.
Apakah ummahat yang kita lihat berkilauan itu terbebas dari ujian? Tentu saja tidak. Mereka tetap manusia biasa yang Allah uji sebab ingin hambaNya semakin kuat. Dengan keteguhan hati mereka, Allah beri kelebihan berupa rasa tenang-ikhlas-ridho untuk menghadapi semuanya.
Jadi inget materi zoom pagi ini, judulnya tentang 'Work Life Balance saat Ramadan' dari Teh Rifa Fauziyah. Slidenya ga banyak. Hampir seluruh materi membahas satu slide ini : The Daily Routine of Prophet Muhammad'.
Setelah aku ingat-ingat lagi materi hari ini sambil menghubungkannya dengan ingatan-ingatan sirahku yang sangat minim ini, aku jadi berfikir... Betapa anehnya jika kita tak merasa beruntung sebab kita mendapat contoh luar biasa dari Allah dalam sosok manusia. Allah beri panutan melalui manusia luar biasa yang amanahnya menumpuk-numpuk tinggi sekali. Apakah beliau pernah lelah? Pasti. Apakah Beliau pernah sedih? Tentu saja. Tapi apakah Beliau menyerah? Atas izin Allah, diantara jutaan ujian yang beliau hadapi, Allah bantu kuatkan hingga dakwah dan cinta beliau bisa kita rasakan hingga saat ini.
Sebagai ummat Nabi Muhammad, jika diambil rata-rata, maka umur kita barangkali sudah hampir menyentuh ½ dari jatah yang kita punya. Rugi gak sih kalau menit-menitnya berlalu begitu saja? Sedang Rasulullah, yang sudah Allah jamin Surga pun, tetap sholat malam hingga kaki-nya bengkak-bengkak. Dan ketika istrinya dengan lembut menegur, “Mengapa engkau membebani dirimu, padahal Allah telah mengampuni dosamu yang lalu dan yang akan datang?” Beliau menjawab, “Bukankah seharusnya aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?.” (HR. Muslim).
Belum lagi ketika melihat rutinitas harian beliau. Masyaa Allah.. Teori 'work-life balance' mana yang bisa mengalahkan pola hidup beliau yg rapi itu? Beliau berlelah-lelah, tapi lelahnya selalu dijadikan bukti cinta pada Rabb-Nya.
Sungguh, kita tidak sedang berkejaran dengan siapapun di dunia ini. Kita hanya sedang mencoba tetap berlari menuju ridho Allah dengan apa-apa yang kita bisa. Kita hanya bisa memaksimalkan potensi, sebab ingin menjadi ummat yang senantiasa bersyukur atas semua kenikmatan yang Allah berikan di dunia --sebagaimana yang Rasulullah contohkan.
Diantara dunia yang sibuk, diantara amanah dan cobaan yang berpilin-pilin, sungguh kita tak akan mendapat apa-apa jika orientasi kita hanya soal harta-tahta-atau hal duniawi lain yang remeh itu. Kita hanya perlu ingat bahwa di dunia yang singkat ini, kita hanya butuh cinta Allah agar kita senantiasa tetap 'hidup'. Sebab 'keberkahan waktu (dan keberkahan2 lain) adalah milik Allah (saja)."
Untuk Kiinan (dan kamu yang tiba-tiba baca tulisan ini sampai akhir), kalau dunia terasa melelahkan, gapapaa.. Lelah itu bukti bahwa kita sedang bergerak. Yang pelru kita khawatirkan sebenarnya adalah kemana arah pergerakan yamg membuat kita lelah tadi. Apakah lelah itu membawa kita kepada apa-apa yg Allah suka, atau hanya menjadi kelelahan tak berujung yang tak berarti apa-apa dihadapan-Nya?
Semangat yaaaa. Ummat Nabi Muhammad insya Allah kuat-kuat hihi. Cheers!π₯
No comments:
Post a Comment