Monday, December 23, 2024
Tabungan Spesialis?
Tuesday, December 17, 2024
Sunday, December 15, 2024
Maksimalkan Ikhtiar, Sempurnakan Tawakkal
Tuesday, December 10, 2024
Sunday, December 8, 2024
Merenda Tawakal
"Ya Allah, sesungguhnya aku beristikharah pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghoib.
Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku.
Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku (baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, takdirkanlah yang terbaik bagiku di mana pun itu sehingga aku pun ridho dengannya.”
- Ikhtiar sebaik-baiknya untuk kesembuhan ortu calon.
- Jika kondisi sudah stabil, calon sudah siap untuk berproses lagi, dengan komunikasi yang baik, coba tawarkan untuk medical check up dengan lebih detail. Tak hanya calon, tapi ybs juga. Hingga memudahkan solusi jika memang ditemukan kelainan2 lain.
- Mengkondisikan agar sehat secara fisik, psikologis, dan sosial sesegera mungkin. Hingga ybs maupun calon bisa sama2 mencegah risiko timbulnya penyakit tersebut.
- Istikharah setiap hari. Diikuti ibadah2 lain untuk membersihkan hati. Harapannya bisa lebih peka terhadap sinyal-sinyal Allah hingga dapat menentukan keputusan dengan bijak. Ohya, selain itu, sementara kurangi menceritakan kasus ini dengan terlalu banyak orang (terutama jika secara keilmuan tidak relate) karena hanya akan menambah overthinking akibat info-info yang tidak valid.
- Jika proses berlanjut, sepakati untuk aware terhadap kondisi diri dan jika bisa, rutinkan medical check up. Kemudian saling jujur dan terbuka mengenai kondisi masing-masing.
Friday, December 6, 2024
Cinta Habis di Masa Lalu
- ...Dan hanya kepada Allahlah hendaknya kita bergantung dan berharap.
Pada poin pertama ini, saking banyaknya Allah sampaikan langsung dalam Qur'an, aku sengaja tak menuliskan sumbernya. Hal ini terlihat mudah untuk dibaca dan aku yakin sebenarnya kita semua sudah faham betul konsepnya, tapi ternyata pengamalan di lapangannya beraattt. Sering kita menganggap manusia-manusia yang kita percaya bisa menjadi penyembuh dari berbagai masalah dalam hidup kita. Tapi nyatanya, Allah benar, berharap kepada selain-Nya hanya akan menciptakan kecewa.
Maka sahabat, jika memang sudah saatnya bagi kita menyiapkan diri menuju pernikahan, mari bulatkan niat, pernikahan yang nantinya akan terjadi merupakan sarana ibadah yang memiliki banyak keutamaan. Maka ketika hati kita sudah lurus dalam berazzam, semoga perbaikan-perbaikan yang kita lakukan dalam mempersiapkan diri juga terjadi bukan karena mengharap kita bisa bersanding dengan manusia yang kita punya kecenderungan padanya. Tapi murni karena kita sedang berjuang menggapai ridho Allah melalui pernikahan.
- Pasangan kita bukan pelampiasan.
Sebenernya agak kurang nyaman untuk membahas hal ini. Tapi kalau aku boleh jujur berbicara denganmu, plissss jangan pernah memilih seseorang demi niat-niat selain Allah. Apalagi jika alasannya adalah ingin membuktikan bahwa tanpa orang lama, kau bisa memiliki kehidupan yang 'terlihat' baik-baik saja.
Lagi-lagi sama sepertimu, setiap manusia ingin dipilih karena memang dia adalah orang yang saat itu kau anggap tepat untuk menemani segala cita-citamu, bukan sebagai pilihan nomor sekian yang engkau pilih karena tak berhasil mendapatkan prioritas pilihan sesuai keinginanmu.
Maka mulailah setiap perkenalan dengan sungguh-sungguh, dengan kondisi hati sebersih-bersihnya, dengan keyakinan penuh pada Allah. Hingga ketika kamu setuju untuk melanjutkan proses, kamu bisa menjawab dengan mantap, "Dialah manusia yang setelah aku pertimbangkan dengan sungguh-sungguh lewat ikhtiar dan doa berhasil membuatku yakin bahwa dia adalah teman perjalanan yang Allah siapkan untukku."
- Yang ditakdirkan untukmu tak akan melewatkanmu.
Sahabat, tak jarang aku mendengar beberapa dari kita masih berharap pada sosok-sosok yang tak ditakdirkan bagi kita. Apalagi setelah menikah, sesuai janjinya, setan akan berlomba-lomba untuk mendapatkan juara bergengsi : memisahkan pasangan suami-istri.Jika ternyata biidznillah, setan melihat kesempatan untuk mengganggu lewat masalalu kita/pasangan. Dewasalah dalam berfikir dan bertindak.Waswisu setan pasti akan selalu datang lewat lubang manapun dalam diri kita. Maka, jika tiba-tiba ada keraguan atas pasangan kita nanti, coba yakini lagi : wanita/lelaki yang sekarang mendampingi kita adalah takdir yang Allah persiapkan untuk kita. Tak salah, tak tertukar. Selanjutnya kita tutup lubang-lubang kesempatan syaitan dengan kalimat-kalimat thayyibah. Semoga Allah bantu agar mata, telinga, dan hati kita jernih sehingga dapat melihat kebaikan-kebaikan pasangan kita.
- Kecenderungan terhadap lawan jenis menandakan kita normal.
Alhamdulillah.. mari kita bersyukur sebab kita pernah diberi kesempatan untuk memiliki kecenderungan terhadap lawan jenis. Kenapa? Sebab di zaman yang serba mengerikan ini, tak jarang kita jumpai teman-teman yang qadarullah memiliki kecenderungan terhadap selain tersebut. Wajar sekali, apalagi di usia-usia pubertas. Maka langkah selanjutnya yang kita pilih adalah bukti kedewasaan dalam mengontrol ego kita.
- Hadapai kecemburuan dengan dewasa.
Kembali ke cerita seorang sahabat tadi, ternyata perasaan cemburu karena pasangan belum selesai dengan masa lalunya begitu tak menyenangkan.Terlebih ketika wanita harus mendengar lelakinya berucap, "ketika laki-laki pernah mencintai satu wanita dan tak berhasil memilikinya, maka hubungan dengan wanita selanjutnya hanyalah kelanjutan dari tanggungjawabnya saja. Perasaan sebelumnya tak akan pernah benar-benar hilang."Amboi.. sebagai manusia yang 'cukup posesif', aku ikut retak. Tidakkah kita ingat bagaimana respon Rasulullah ketika istrinya, Aisyah, sedang cemburu buta pada Khadijah maupun istri Rasulullah yang lain? Sungguh, perasaan cemburu hadir karena ada cinta tulus dari seorang manusia. Ingatkah? Rasulullah yang paham betul dengan kondisi Aisyah tak pernah menyalahkan kecemburuannya. Tapi Rasulullah menenangkan dan memberi kesempatan untuk Aisyah mengungkapkan kecemburuan dulu. Lantas selanjutnya, Rasul tetap memanggil dengan lembut, yaa humairaa..Sekali lagi, kecemburuan istri atau suami (menurutku) adalah respon normal. Malah aneh sekali ketika perasaan itu hilang. Kita jadi bertanya-tanya, apakah memang rasa cinta keduanya sudah hilang? Lantas dari Rasulullah kita perlu belajar, respon dalam menanggapi itulah yang jadi poin kedewasaan kita. Mari kita sambut kecemburuan itu dengan syukur, alhamdulillah pasangan kita masih mencintai kita. Kalaupun kita sendiri yang sedang cemburu, maka cemburulah dengan elegan, dengan dewasa. Sehingga pasangan kita tak sibuk menduga-duga terhadap apa yang dirasa.
- Seperti dirimu, pasangan kita nanti pun berhak bertemu dengan diri kita yang selesai dengan masa lalunya.
Sahabat, rasanya bukan hanya aku yang selalu berdoa agar kelak dipertemukan dengan manusia yang hatinya tak terikat dengan wanita-wanita lain, kan?Entahlah, sebenarnya setelah banyak berdiskusi, hal ini debat-able. Beberapa orang tak mempermasalahkan masa lalu. Tapi bagiku, rasanya kurang adil ketika harus menghadapi seseorang yang punya pembanding terhadap apapun yang kita miliki. Kenapa aku berfikir demikian? Karena akupun pernah menggantungkan harap pada satu nama. Duluuu sekali, ketika aku mendoakan satu nama, aku seperti mendoktrin bahwa pasangan ideal itu dia, kalau memang bukan dia, minimal seperti dia. Aduh.. kalian harus tau bahwa itu mengganggu sekali. Sebab setelahnya, jika kita tak segera menyudahi hal tersebut dengan sadar penuh, alam bawah sadar kita tetap akan menjadikan sosok tersebut sebagai sosok ideal kita.Padahal ternyata terikat pada sosok tertentu membuat kita bingung. Aku ingat betul, beberapa tahun setelah mencoba ikhlas pun, aku harus berkali-kali memaksa logikaku melepas ikatan tersebut ketika harus ta'aruf dengan sosok baru. Tips dariku : Jangan pernah coba membuka hati sebelum kita benar-benar tuntas dengan diri kita. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengenali kelebihan, kekurangan, dan kebutuhan diri. Outputnya nanti, ketika kita jujur dalam mengevaluasi adalah kita akan faham, selama ini kita jatuh hati pada sosok lama karena memang kebetulan dia memiliki apa yang kita inginkan/butuhkan. Dan, percayalah bahwa sosok yang memiliki hal tersebut tak hanya dia. Insya Allah, jika kita percaya pada Allah, kita pasti akan menemukan versi terbaik untuk kita di orang yang tepat. Maka bukalah hati, lepaskan yang selama ini mengikat kaki kita. Mari bergerak dengan gagah sebab kepercayaan kita pada takdir Allah.
Sebenarnya rasanya pembahasan ini bisa jadi pembahasan yang sangat panjang, tapi sementara saya cukupkan. Bismillah.. Semangat memperbaiki diri sehingga nanti dipertemukan dengan orang yang tepat dalam kondisi sebaik-baiknya. Setenang-tenangnya. Aamiin ya Rabb..
Jangan lupa poin nomor satu : ..Dan hanya kepada Allahlah hendaknya kita bergantung dan berharap.