Monday, December 23, 2024

Tabungan Spesialis?


Mari kita simpan untuk reminder kalo suatu hari dah siap dan diizinkan sekolah lagi ekekek.

Bismillah..
Untuk Kiinan beberapa tahun lagi yang mungkin maju mundur buat sekolah lagi padahal lingkungan sudah supportif. Kalau memang kekhawatiranmu berasal dari rezeki, maka inget lagi yaaa kalo rezeki itu sudah Allah pastikan. Tidak akan kurang, pun berlebihan. Kalau sudah jadi hak kita, gimanapun huru haranya, pasti akan sampai ke kita.

Yuk inget lagi gimana Allah tetap menakdirkan Kiinan jadi dokter dengan segala huru-hara keuangan selama S1 dan koas. Gimana akhirnya Allah ringankan beban bapak dengan mendatangkan beasiswa dari arah yang tak disangka-sangka. Selanjutnya setelah beasiswa tak ada lagi, Allah kuatkan bahu Kinan untuk berjuang mencukupi diri saat qodarullah bapak sakit. Kun fayakun, ketika Allah takdirkan Kinan jadi dokter, seribut apapun badainya, insya Allah akan tetap tercapai. Begitupun spesialis (dan impian2 lainnya), jika Kinan meyakini.

Dan diantara kecemasan akan masa depan tersebut, ikhtiar dan tawakal selurus-lurusnya. Imani dengan penuh segala qada dan qadar Allah. Trus baca postingan dr. Hendra ini wkwk.

Jangan takut. Mari terbangkan impian setinggi-tingginya, tapi jamgan lupa untuk tetap berpijak di bumi.

Sebab dibanding uang, niat dan keseriusan untuk mencapai misi hidup secara keilmuan jauh lebih penting untuk difikirkan matang-matang. Jika beberapa tahun lagi masih Kinan temukan spesialis sebagai alat untuk menggapai ridho Allah lewat ilmu, maka carilah ridho orang-orang yang kelak akan mendampingi selama prosesnya, jika memungkinkan, mari perjuangkan sama-sama. Tapi jika ternyata spesialis hanya jadi penyebab hilangnya keridhoan Allah, cukuplah jalan lain jadi pilihan.

Bismillah.. semoga Allah tautkan segala impian kita hanya untuk-Nya.🫶🏻

Tuesday, December 17, 2024

Beruntunglah sebab Allah rahasiakan masa depan dengan begitu rapat. Hingga tiap hari kita terus merasa bahwa segala sesuatu berasal-diatur-hingga diberhentikan hanya atas izin-Nya saja. Kita hanya perlu ikhtiar dengan sebaik-baiknya, lantas setelahnya kita bumbungkan tawakkal dengan selurus-lurusnya. Semoga rasa harap dan takut bisa menjadi penguat keimanan kita selamanya. Bismillah..

Sunday, December 15, 2024

Maksimalkan Ikhtiar, Sempurnakan Tawakkal

Hayo siapa yg sering ngerasa perjalanannya stuck dan bingung mau pilih celah mana karna pengetahuannya terbatas? Jangan minta nasehat ke aku karna akupun demikian wkwk. Salah satu kelemahan manusia-manusia yang apa-apa harus pake planning dan pertimbangan panjang tu ya ini, angel nek di kon setel kendo wkwk.

Dan postingan Mbak Dewi inilah kumpulan nasehat2 yang sebenernya dah sering didapetin pas minta nasehat ke keluarga/org sekitar/dll. Emang belajar tu nggak ada habisnya ya, karena di lapangan ternyata gak semudah teori wkwk🤏🏻 Termasuk implementasi dari nasihat-nasihat ini. Kadang kalo ga diingetin, ada fasenya bertanya-tanya lagi. Padahal yaaaa udah tau teorinya wkwkwkk. Yuk kita baca sama-sama..



Bismillah... Mari kita maksimalkan ikhtiar dan sempurnakan tawakkal.
Semoga nasihat ini bisa jadi reminder buat kita semua. Gaperlu cemas sama apa yang ada didepan mata. Inget bahwa Allah ga nilai hasil tapi Allah menilai bagaimana perjuangan kita dalam menjalani prosesnya. Kalau cemas, inget Qur'an surah Ar-Ra'ad: 28, "ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.." 

Bismillah for everything.. Lets do our best and let Allah do the rest.. 🫶🏻

Tuesday, December 10, 2024


Maka, semoga dengan belajar dengan sungguh-sungguh pada keduanya bisa menjadi salah satu jalan ikhtiar dalam memuliakan ilmu.
Mau curhat dikit (tp agak emosyenel) karna semua keterkejutan duniawi ya guys wkwk.🤣👀

Beberapa pekan ini lagi jadi WO kawan yang insya Allah segera baralek. Karna lumayan sering searching2 konsep nikah, jadi iklan dan konten di IG, tiktok, dan shopee jadi pernak-pernik nikah juga.

Sambil browsing, tiap liat harga paket2an gitu selalu langsung ngerutin dahi. Aku sebagai makhluk2 yang dikepanitiaan selalu dapet acara/pubdok/dekor auto respon : hah gini doang harganya segini? Ini mah aku bisa bikin sendiri.🙃 

Sebenernya ya emang sih ya, kayak dekor/hantaran/mahar hias/undangan fisik/undangan digital/dll emang kerjaan seni yang gabisa dibatasin harganya. Tt-tt-tapi untuk aku yg masih belajar hidup dan serba mendang-mending ini semua jadi gak masuk akal🥲 hemat 1-3 juta aja kalo dipikir2 dah bisa dipake buat beli mesin cuci atau kulkas yang sangat2 mengurangi beban kehidupan setelah menikah wkwkk.

Kayak undangan web aja dehhh yaa, kalo pesen online tu mulai dari 99k-500k. Dannn.. aku bisa wei bikin juga pake canva/blogspot biar gratis wkwk. Uangnya bisa dipake buat beli kompor + gasnya 👀 Begitupun design undangan cetak ternyata bisa pake canva tu nanti di print online di shopee biar murce🤏🏻 wkwk. Ya Allah, mau request satu yang keluarganya ridho kalo anaknya nikah sama aku intimate aja biar uangnya bisa buat modal hidup jangka panjang🤏🏻 wkwk.

Tapi yaaaaaa prinsip dan niat orang beda-beda yaaa. menikahkan anak kan untuk sebagian orang jadi momen jamuan orangtua untuk sahabat2 dan keluarganya. Sebagian yang lain pun demi menyenangkan diri sendiri dll. Gak salah, pun kalau keluarga ndak keberatan dan mampu ya gak papa banget. Memuliakan tamu kan juga termasuk adab yang kita pelajari dari Rasulullah dan sahabiyyah. Kebetulan aja prinsip ini kurang cocok sama prinsip hidup manusia perintis dan suka yang simple2 aja kayak aku. Malah jadi kepikiran, apa nanti bisnis WO/bikin undangan digital/hantaran yaa? Wkwk 

Jadi kepikiran obrolan sama bapak tahun lalu, seberat-beratnya persiapan nikah perempuan dan keluarga, sebenernya pasti jauh lebih berat persiapan laki-laki (terutama dalam 'urf Jawa dan Islam). Karena biasanya baik untuk acara maupun kehidupan setelah pernikahan, pihak laki-lakilah yang akan lebih banyak memberi/menanggung sebagai bentuk tanggung jawab dan nafkah (khusus utk mahar dan perintilan setelah pernikahan). Perkara nafkah aja pasti bagi sebagian orang perlu keikhlasan yang luas, jadi make sense kenapa sebagai perempuan juga harus belajar manajemen keuangan untuk menghargai dan meningkatkan syukur atas semua nafkah dari suami. Itu baru nafkah, belum perkara dosa-dosa istri yang juga diambil alih sama suami. Fyuhhh. Makin kesini, makin faham kenapa kawan-kawan cowo seangkatan banyak yang menimbang-nimbang ulang untuk nikah wkwk. Semangat dehh buat semua temen2 aku yang sedang mempersiapkan biduk-biduk rumah tangga. Bismillah banyak-banyak. Insya Allah kalo niatnya baik, Allah akan bantu memfasilitasinya. 🫶🏻

Sunday, December 8, 2024

Merenda Tawakal

Beberapa hari ini sedang sering jadi tempat curhat. Alhamdulillah jadi banyak belajar dan makin yakin dengan pertolongan Allah.

Salah satu cerita menarik datang dari salah satu kawan yg sedang proses menuju pernikahan (sudah izin yang bersangkutan untuk bawa cerita ke blog dengan menyamarkan banyak hal). Alhamdulillah baru tau juga kalau beliau sedang masa perkenalan. Sejauh ini, masa pertukaran CV sampai nadzor berlangsung sangat lancar. Dari banyaknya keraguan, alhamdulillah selalu Allah bantu dengan keyakinan dan solusi-solusi yang bisa diterima kedua belah pihak.

Masalahnya malah ketika hampir khitbah. Qodarullah salah satu orangtua calon beliau sakit, dan qodarullah berdasarkan banyak study disampaikan bahwa sakitnya termasuk sakit berat yang peluang diturunkan secara genetiknya tinggi sekali. Mendengar hal tersebut, akhirnya beliau menghubungiku. Berharap ada penjelasan yang lebih jelas dari sudut pandang kedokteran. Sebab saat ini, dia, keluarga, dan calon sedang benar-benar pasrah dengan keadaan tersebut.

Sebagai dokter, sejujurnya aku kurang nyaman ketika harus menangani kasus dari orang-orang yang aku kenal. Rasanya sulit sekali untuk profesional. Terlebih jika berhubungan dengan keputusan-keputusan besar seperti pernikahan ini. Aku takut sekali jika ilmuku yang sungguh terbatas ini berbuah keputusan yang salah.

Akhirnya aku izin menunda jawaban. Aku memilih belajar ulang kasus tersebut sambil mencoba menjaga keimanan dan kejernihan hati (karena jujur beberapa bulan ini rasanya keimananku tidak sedang dalam kondisi sebaik-baiknya). Sudah 24 jam aku mengendapkan hal tersebut, tapi nyatanya airnya tak juga jernih. Akhirnya kuputuskan menghubungi senior yang lebih faham bidang tersebut (+punya keimanan yang kelihatannya lebih baik daripada aku).

Setelah berdiskusi dalam belasan bubble chat, ada beberapa poin yang akhirnya tak hanya menjadi solusi permasalahan temanku, tapi juga jadi jawaban dari keresahanku beberapa hari ini.

Sudut Pandang Kedokteran
Kalau dari study, sebagai dokter sebenarnya kami pasti sudah faham bagaimana kemungkinan penyakit tersebut diturunkan. Tapi ingat lagi, di lapangan kita tak bisa benar-benar putih atau hitam. Sebab setiap kita adalah abu-abu.

Dari beberapa artikel yg kubaca, kemungkinan penyakit tersebut diturunkan pada anak sekitar 5-10%. Aku langsung ingat lagi bagan teori H.L. Blum tentang derajat kesehatan seseorang. Meski teori ini sudah sangat tua, tapi masih relevan hingga kini.


Jadi derajat kesehatan seseorang dipengaruhi oleh 4 faktor. Faktor paling besar adalah lingkungan (fisik, kimia, biologi) dan perilaku. Sedang genetik jadi faktor dengan pengaruh paling kecil. Jadi jika dikaitkan dengan peluang, sebenarnya yaaa kemungkinan orang tersebut langsung menurunkan penyakit tersebut masih kecil, terlebih jika selama hidup dia dapat menjaga faktor perilaku dan lingkungan, serta sadar untuk mengakses pelayanan kesehatan (baik untuk screening maupun yang lain).

Kajian spesifik menganai pemyakitnya tentu gak bisa aku jelaskan secara detail disini demi menjaga keamniyahan dari cerita yang bersangkutan. Tapi kurang lebih penyakitnya lumayan sering diturunkan ke keluarga, cukup mengganggu pekerjaan dan sosial bagi penderita serta keluarga.

Sudut Pandang Agama
Nah.. pada bidang ini sebenarnya aku harus banyak belajar. Tp bismillah, mari kita coba uraikan juga.
1. Iman terhadap qada dan qadar Allah.
Jika selama proses sebelumnya yang bersangkutan (selanjutnya disingkat : ybs) merasa semua prosesnya terjaga dan Allah yakinkan. Barangkali sekarang adalah ujian pertama sebelum pernikahan. Barangkali masalah ini adalah salah satu ujian falam rangka meningkatkan tingkat tawakal ybs dalam menghadapi segala qada dan qadar Allah.

Sebenarnya ada beberapa poin plus dari calon ybs yang bisa dipetik dari masalah ini :
- keterbukaan dan kejujuran akan kondisi diri dan keluarga. Ini mahal sekali, sebab tak semua orang siap jujur, apalagi jika risikonya adalah kehilangan.
- calon izin untuk menunda proses sementara karena ingin mengurus ortu. Semoga hal tsb ikhlas dilakukan dan jadi bukti birrul walidain beliau.
- Calon menyampaikan jika beliau ridho jika memang pihak ybs membatalkan proses dengan alasan ini --> yaa semoga ini jadi bukti tawakal beliau akan takdir Allah, serta kebijakan/kedewasaan beliau dalam menghadapi masalah.

2. Sekali lagi tentang tawakal. 
Sengaja diulang karena nyatanya poin ini harus benar-benar ditekankan. Sebab sebagai manusia, apalagi baru mengenal calon pasangan, tentu pengetahuan kita terhadap calon sangat amat terbatas. Maka, mengandalkan kemampuan diri sendiri untuk mempertimbangkan hal besar seperti ini bukanlah hal yang tepat. Mari kita coba renungkan lagi terjemahan dari doa istikharah yang sering kita langitkan :

"Ya Allah, sesungguhnya aku beristikharah pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghoib. 
 
Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. 
 
Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku (baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, takdirkanlah yang terbaik bagiku di mana pun itu sehingga aku pun ridho dengannya.”

Maka, kita akan sadar bahwa muara dari semua ikhtiar dunia yang sudah dilakukan adalah tawakal. Tawakal terhadap seluruh qada-qadar Allah, hingga meningkat keimanan kita bahwa segala yang Allah pilihkan pasti yang terbaik. Kalau memang akhirnya pernikahan itu tetap terjadi, insya Allah nanti Allah yang menjamin akan selalu ada kemudahan bersamaan dengan ujian2 yang ada. Pun, kalaupun akhir dari istikharah ini adalah keputusan untuk menghentikan proses tersebut, maka tak ada kegagalan ta'aruf, sebab selama proses kita benar-benar menitipkan semuanya kepada Allah. Semoga prosesnya bisa jadi peningkat keimanan dan kedewasaan bagi siapapun yang terlibat (termasuk aku sebagai slaah satu tempat curhat).

Maka, dari 2 sudut pandang tadi, ada beberapa hal yang dapat dilakukan dalam waktu dekat :
  • Ikhtiar sebaik-baiknya untuk kesembuhan ortu calon.
  • Jika kondisi sudah stabil, calon sudah siap untuk berproses lagi, dengan komunikasi yang baik, coba tawarkan untuk medical check up dengan lebih detail. Tak hanya calon, tapi ybs juga. Hingga memudahkan solusi jika memang ditemukan kelainan2 lain.
  • Mengkondisikan agar sehat secara fisik, psikologis, dan sosial sesegera mungkin. Hingga ybs maupun calon bisa sama2 mencegah risiko timbulnya penyakit tersebut.
  • Istikharah setiap hari. Diikuti ibadah2 lain untuk membersihkan hati. Harapannya bisa lebih peka terhadap sinyal-sinyal Allah hingga dapat menentukan keputusan dengan bijak. Ohya, selain itu, sementara kurangi menceritakan kasus ini dengan terlalu banyak orang (terutama jika secara keilmuan tidak relate) karena hanya akan menambah overthinking akibat info-info yang tidak valid.
  • Jika proses berlanjut, sepakati untuk aware terhadap kondisi diri dan jika bisa, rutinkan medical check up. Kemudian saling jujur dan terbuka mengenai kondisi masing-masing.

Barangkali itu saja cerita kita hari ini. Jujur, aku pun ikut terciprat keberkahan proses beliau berdua, sebab meningkat pula keyakinan pada Allah akibat cerita tersebut. Mari kita bantu doakan agar keputusan-keputusan berikutnya selalu dalam penjagaan Allah. Bismillah... insyaa Allah, Allah sebaik-baik penolong.

Ohya bonus : ada satu kelebihan taaruf yang bisa kita tangkap dari cerita ini. Taaruf (yang aku yakini) merupakan prosedur terbaik untuk menemukan pasangan dengan cara yang semoga Allah ridhoi. Selama proses, masing-masing akan didampingi perantara dan 'harusnya' dikondisikan untuk seobjektif mungkin dalam pengambilan setiap keputusan. Karena mengutamakan keobjektifan dan logika, maka harapannya kita bisa mempertimbangkan setiap keputusan tanpa terikat dengan perasaan yang bisa mengacaukan logika. Pun dalam setiap prosesnya, masing-masing akan terus didampingi agar tetap ada dalam koridor batasan interaksi, harapannya Allah pun dapat ridho dan memberi berkah dari setiap prosesnya. 

Friday, December 6, 2024

Cinta Habis di Masa Lalu

Beberapa hari lalu seorsng sahabat yang sudah menikah curhat. Sebenernya agak kurang pas karena curhatnya ke jomblo yang rasanya belum berhak komen perihal pernikahan. Tapi karena sempat jadi saksi perjalanan beliau, maka dengan bekal ilmu seuprit ini, aku coba seobjektif mungkin menanggapi.

Kenapa publish cerita ini? Karena qodarullah, aku gak hanya denger dari satu orang, tapi beberapa teman sempat membahasnya. Maka di tulisan ini aku akan bahas sedikit sudut pandang aku (tanpa menjabarkan permasalahan personal). Semoga di case teman-temanku, hal ini hanya jadi konflik kecil yang membuat mereka makin dewasa dalam mencintai. Aamiin.

Cinta habis di masa lalu.
Siapa yang pernah denger kalimat ini? Kayaknya beberapa bulan lalu sempet rame deh di sosmed perihal ini. Jujur aku pribadi kurang setuju dengan kalimat tersebut. 
Why? Karena yang aku tau (dan rasakan), cinta itu 'hanya' kata kerja. Sama seperti makan, minum, berjalan, dll. Maka kita sebagai subjek (dengan izin Allah) punya kekuatan besar untuk menentukan apakah kapan kata kerja tersebut harus tumbuh dan berhenti.

Dalam setiap aktivitas dan interaksi mental kita, setiap kita pasti memiliki kesatuan proses berisi id, ego, dan superego. Mereka adalah konsep terpisah yang saling berinteraksi.

Apa hubungannya dengan proses jatuh cinta? 
Yaa.. jatuh cinta menjadi salah satu proses kata kerja yang ketika hadir, ia akan diproses pula oleh sistem psikologis kita. Kematangan berfikir membuat ego kita 'adil' dalam melayani id, superego, dan dunia luar. Hingga secara sadar kita dapat mengontrol perasaan yang hadir dalam tubuh kita. Tak hanya mengikuti id, tetapi juga mempertimbangkan nilai-nilai yang kita percayai.

Lantas bagaimana dengan cinta habis di masa lalu?
Sebagai salah satu alumni manusia yang pernah menggantungkan hati pada makhluk, aku tau betul bahwa teori yang aku sampaikan sebelumnya terasa 'menyebalkan' dan tidak relate dengan emosi yang sedang teman-teman rasakan. Tenang... bertahun-tahun yang lalu aku juga pernah kok menangisi manusia. Terlebih ketika harus melihat manusia tersebut memilih melanjutkan hidup dalam ikatan yang Allah ridhoi bersama perempuan yang ternyata bukan aku. Aku tau betul ketidaknyamanan itu. Tapi percayalah, sebagai manusia, setiap kita dikaruniai kemampuan luar biasa untuk dewasa dalam menghadapi hal-hal tersebut. Maka kali ini aku ingin sedikit membagikan beberapa hal yang akhirnya aku sadari setelah pernah patah karena terlalu bergantung pada makhluk :

  • ...Dan hanya kepada Allahlah hendaknya kita bergantung dan berharap.
Pada poin pertama ini, saking banyaknya Allah sampaikan langsung dalam Qur'an, aku sengaja tak menuliskan sumbernya. Hal ini terlihat mudah untuk dibaca dan aku yakin sebenarnya kita semua sudah faham betul konsepnya, tapi ternyata pengamalan di lapangannya beraattt. Sering kita menganggap manusia-manusia yang kita percaya bisa menjadi penyembuh dari berbagai masalah dalam hidup kita. Tapi nyatanya, Allah benar, berharap kepada selain-Nya hanya akan menciptakan kecewa.

Maka sahabat, jika memang sudah saatnya bagi kita menyiapkan diri menuju pernikahan, mari bulatkan niat, pernikahan yang nantinya akan terjadi merupakan sarana ibadah yang memiliki banyak keutamaan. Maka ketika hati kita sudah lurus dalam berazzam, semoga perbaikan-perbaikan yang kita lakukan dalam mempersiapkan diri juga terjadi bukan karena mengharap kita bisa bersanding dengan manusia yang kita punya kecenderungan padanya. Tapi murni karena kita sedang berjuang menggapai ridho Allah melalui pernikahan.

  • Pasangan kita bukan pelampiasan.
Sebenernya agak kurang nyaman untuk membahas hal ini. Tapi kalau aku boleh jujur berbicara denganmu, plissss jangan pernah memilih seseorang demi niat-niat selain Allah. Apalagi jika alasannya adalah ingin membuktikan bahwa tanpa orang lama, kau bisa memiliki kehidupan yang 'terlihat' baik-baik saja.

Lagi-lagi sama sepertimu, setiap manusia ingin dipilih karena memang dia adalah orang yang saat itu kau anggap tepat untuk menemani segala cita-citamu, bukan sebagai pilihan nomor sekian yang engkau pilih karena tak berhasil  mendapatkan prioritas pilihan sesuai keinginanmu.

Maka mulailah setiap perkenalan dengan sungguh-sungguh, dengan kondisi hati sebersih-bersihnya, dengan keyakinan penuh pada Allah. Hingga ketika kamu setuju untuk melanjutkan proses, kamu bisa menjawab dengan mantap, "Dialah manusia yang setelah aku pertimbangkan dengan sungguh-sungguh lewat ikhtiar dan doa berhasil membuatku yakin bahwa dia adalah teman perjalanan yang Allah siapkan untukku."

  • Yang ditakdirkan untukmu tak akan melewatkanmu.
Sahabat, tak jarang aku mendengar beberapa dari kita masih berharap pada sosok-sosok yang tak ditakdirkan bagi kita. Apalagi setelah menikah, sesuai janjinya, setan akan berlomba-lomba untuk mendapatkan juara bergengsi : memisahkan pasangan suami-istri.

Jika ternyata biidznillah, setan melihat kesempatan untuk mengganggu lewat masalalu kita/pasangan. Dewasalah dalam berfikir dan bertindak.

Waswisu setan pasti akan selalu datang lewat lubang manapun dalam diri kita. Maka, jika tiba-tiba ada keraguan atas pasangan kita nanti, coba yakini lagi : wanita/lelaki yang sekarang mendampingi kita adalah takdir yang Allah persiapkan untuk kita. Tak salah, tak tertukar. Selanjutnya kita tutup lubang-lubang kesempatan syaitan dengan kalimat-kalimat thayyibah. Semoga Allah bantu agar mata, telinga, dan hati kita jernih sehingga dapat melihat kebaikan-kebaikan pasangan kita.

  • Kecenderungan terhadap lawan jenis menandakan kita normal.
Alhamdulillah.. mari kita bersyukur sebab kita pernah diberi kesempatan untuk memiliki kecenderungan terhadap lawan jenis. Kenapa? Sebab di zaman yang serba mengerikan ini, tak jarang kita jumpai teman-teman yang qadarullah memiliki kecenderungan terhadap selain tersebut. Wajar sekali, apalagi di usia-usia pubertas. Maka langkah selanjutnya yang kita pilih adalah bukti kedewasaan dalam mengontrol ego kita.

  • Hadapai kecemburuan dengan dewasa.
Kembali ke cerita seorang sahabat tadi, ternyata perasaan cemburu karena pasangan belum selesai dengan masa lalunya begitu tak menyenangkan.Terlebih ketika wanita harus mendengar lelakinya berucap, "ketika laki-laki pernah mencintai satu wanita dan tak berhasil memilikinya, maka hubungan dengan wanita selanjutnya hanyalah kelanjutan dari tanggungjawabnya saja. Perasaan sebelumnya tak akan pernah benar-benar hilang."

Amboi.. sebagai manusia yang 'cukup posesif', aku ikut retak. Tidakkah kita ingat bagaimana respon Rasulullah ketika istrinya, Aisyah, sedang cemburu buta pada Khadijah maupun istri Rasulullah yang lain? Sungguh, perasaan cemburu hadir karena ada cinta tulus dari seorang manusia. Ingatkah? Rasulullah yang paham betul dengan kondisi Aisyah tak pernah menyalahkan kecemburuannya. Tapi Rasulullah menenangkan dan memberi kesempatan untuk Aisyah mengungkapkan kecemburuan dulu. Lantas selanjutnya, Rasul tetap memanggil dengan lembut, yaa humairaa..

Sekali lagi, kecemburuan istri atau suami (menurutku) adalah respon normal. Malah aneh sekali ketika perasaan itu hilang. Kita jadi bertanya-tanya, apakah memang rasa cinta keduanya sudah hilang? Lantas dari Rasulullah kita perlu belajar, respon dalam menanggapi itulah yang jadi poin kedewasaan kita. Mari kita sambut kecemburuan itu dengan syukur, alhamdulillah pasangan kita masih mencintai kita. Kalaupun kita sendiri yang sedang cemburu, maka cemburulah dengan elegan, dengan dewasa. Sehingga pasangan kita tak sibuk menduga-duga terhadap apa yang dirasa.

  • Seperti dirimu, pasangan kita nanti pun berhak bertemu dengan diri kita yang selesai dengan masa lalunya.
Sahabat, rasanya bukan hanya aku yang selalu berdoa agar kelak dipertemukan dengan manusia yang hatinya tak terikat dengan wanita-wanita lain, kan?

Entahlah, sebenarnya setelah banyak berdiskusi, hal ini debat-able. Beberapa orang tak mempermasalahkan masa lalu. Tapi bagiku, rasanya kurang adil ketika harus menghadapi seseorang yang punya pembanding terhadap apapun yang kita miliki. Kenapa aku berfikir demikian? Karena akupun pernah menggantungkan harap pada satu nama. Duluuu sekali, ketika aku mendoakan satu nama, aku seperti mendoktrin bahwa pasangan ideal itu dia, kalau memang bukan dia, minimal seperti dia. Aduh.. kalian harus tau bahwa itu mengganggu sekali. Sebab setelahnya, jika kita tak segera menyudahi hal tersebut dengan sadar penuh, alam bawah sadar kita tetap akan menjadikan sosok tersebut sebagai sosok ideal kita. 

Padahal ternyata terikat pada sosok tertentu membuat kita bingung. Aku ingat betul, beberapa tahun setelah mencoba ikhlas pun, aku harus berkali-kali memaksa logikaku melepas ikatan tersebut ketika harus ta'aruf dengan sosok baru. Tips dariku : Jangan pernah coba membuka hati sebelum kita benar-benar tuntas dengan diri kita. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengenali kelebihan, kekurangan, dan kebutuhan diri. Outputnya nanti, ketika kita jujur dalam mengevaluasi adalah kita akan faham, selama ini kita jatuh hati pada sosok lama karena memang kebetulan dia memiliki apa yang kita inginkan/butuhkan. Dan, percayalah bahwa sosok yang memiliki hal tersebut tak hanya dia. Insya Allah, jika kita percaya pada Allah, kita pasti akan menemukan versi terbaik untuk kita di orang yang tepat. Maka bukalah hati, lepaskan yang selama ini mengikat kaki kita. Mari bergerak dengan gagah sebab kepercayaan kita pada takdir Allah.


Sebenarnya rasanya pembahasan ini bisa jadi pembahasan yang sangat panjang, tapi sementara saya cukupkan. Bismillah.. Semangat memperbaiki diri sehingga nanti dipertemukan dengan orang yang tepat dalam kondisi sebaik-baiknya. Setenang-tenangnya. Aamiin ya Rabb..

Jangan lupa poin nomor satu : ..Dan hanya kepada Allahlah hendaknya kita bergantung dan berharap.