Friday, December 6, 2024

Cinta Habis di Masa Lalu

Beberapa hari lalu seorsng sahabat yang sudah menikah curhat. Sebenernya agak kurang pas karena curhatnya ke jomblo yang rasanya belum berhak komen perihal pernikahan. Tapi karena sempat jadi saksi perjalanan beliau, maka dengan bekal ilmu seuprit ini, aku coba seobjektif mungkin menanggapi.

Kenapa publish cerita ini? Karena qodarullah, aku gak hanya denger dari satu orang, tapi beberapa teman sempat membahasnya. Maka di tulisan ini aku akan bahas sedikit sudut pandang aku (tanpa menjabarkan permasalahan personal). Semoga di case teman-temanku, hal ini hanya jadi konflik kecil yang membuat mereka makin dewasa dalam mencintai. Aamiin.

Cinta habis di masa lalu.
Siapa yang pernah denger kalimat ini? Kayaknya beberapa bulan lalu sempet rame deh di sosmed perihal ini. Jujur aku pribadi kurang setuju dengan kalimat tersebut. 
Why? Karena yang aku tau (dan rasakan), cinta itu 'hanya' kata kerja. Sama seperti makan, minum, berjalan, dll. Maka kita sebagai subjek (dengan izin Allah) punya kekuatan besar untuk menentukan apakah kapan kata kerja tersebut harus tumbuh dan berhenti.

Dalam setiap aktivitas dan interaksi mental kita, setiap kita pasti memiliki kesatuan proses berisi id, ego, dan superego. Mereka adalah konsep terpisah yang saling berinteraksi.

Apa hubungannya dengan proses jatuh cinta? 
Yaa.. jatuh cinta menjadi salah satu proses kata kerja yang ketika hadir, ia akan diproses pula oleh sistem psikologis kita. Kematangan berfikir membuat ego kita 'adil' dalam melayani id, superego, dan dunia luar. Hingga secara sadar kita dapat mengontrol perasaan yang hadir dalam tubuh kita. Tak hanya mengikuti id, tetapi juga mempertimbangkan nilai-nilai yang kita percayai.

Lantas bagaimana dengan cinta habis di masa lalu?
Sebagai salah satu alumni manusia yang pernah menggantungkan hati pada makhluk, aku tau betul bahwa teori yang aku sampaikan sebelumnya terasa 'menyebalkan' dan tidak relate dengan emosi yang sedang teman-teman rasakan. Tenang... bertahun-tahun yang lalu aku juga pernah kok menangisi manusia. Terlebih ketika harus melihat manusia tersebut memilih melanjutkan hidup dalam ikatan yang Allah ridhoi bersama perempuan yang ternyata bukan aku. Aku tau betul ketidaknyamanan itu. Tapi percayalah, sebagai manusia, setiap kita dikaruniai kemampuan luar biasa untuk dewasa dalam menghadapi hal-hal tersebut. Maka kali ini aku ingin sedikit membagikan beberapa hal yang akhirnya aku sadari setelah pernah patah karena terlalu bergantung pada makhluk :

  • ...Dan hanya kepada Allahlah hendaknya kita bergantung dan berharap.
Pada poin pertama ini, saking banyaknya Allah sampaikan langsung dalam Qur'an, aku sengaja tak menuliskan sumbernya. Hal ini terlihat mudah untuk dibaca dan aku yakin sebenarnya kita semua sudah faham betul konsepnya, tapi ternyata pengamalan di lapangannya beraattt. Sering kita menganggap manusia-manusia yang kita percaya bisa menjadi penyembuh dari berbagai masalah dalam hidup kita. Tapi nyatanya, Allah benar, berharap kepada selain-Nya hanya akan menciptakan kecewa.

Maka sahabat, jika memang sudah saatnya bagi kita menyiapkan diri menuju pernikahan, mari bulatkan niat, pernikahan yang nantinya akan terjadi merupakan sarana ibadah yang memiliki banyak keutamaan. Maka ketika hati kita sudah lurus dalam berazzam, semoga perbaikan-perbaikan yang kita lakukan dalam mempersiapkan diri juga terjadi bukan karena mengharap kita bisa bersanding dengan manusia yang kita punya kecenderungan padanya. Tapi murni karena kita sedang berjuang menggapai ridho Allah melalui pernikahan.

  • Pasangan kita bukan pelampiasan.
Sebenernya agak kurang nyaman untuk membahas hal ini. Tapi kalau aku boleh jujur berbicara denganmu, plissss jangan pernah memilih seseorang demi niat-niat selain Allah. Apalagi jika alasannya adalah ingin membuktikan bahwa tanpa orang lama, kau bisa memiliki kehidupan yang 'terlihat' baik-baik saja.

Lagi-lagi sama sepertimu, setiap manusia ingin dipilih karena memang dia adalah orang yang saat itu kau anggap tepat untuk menemani segala cita-citamu, bukan sebagai pilihan nomor sekian yang engkau pilih karena tak berhasil  mendapatkan prioritas pilihan sesuai keinginanmu.

Maka mulailah setiap perkenalan dengan sungguh-sungguh, dengan kondisi hati sebersih-bersihnya, dengan keyakinan penuh pada Allah. Hingga ketika kamu setuju untuk melanjutkan proses, kamu bisa menjawab dengan mantap, "Dialah manusia yang setelah aku pertimbangkan dengan sungguh-sungguh lewat ikhtiar dan doa berhasil membuatku yakin bahwa dia adalah teman perjalanan yang Allah siapkan untukku."

  • Yang ditakdirkan untukmu tak akan melewatkanmu.
Sahabat, tak jarang aku mendengar beberapa dari kita masih berharap pada sosok-sosok yang tak ditakdirkan bagi kita. Apalagi setelah menikah, sesuai janjinya, setan akan berlomba-lomba untuk mendapatkan juara bergengsi : memisahkan pasangan suami-istri.

Jika ternyata biidznillah, setan melihat kesempatan untuk mengganggu lewat masalalu kita/pasangan. Dewasalah dalam berfikir dan bertindak.

Waswisu setan pasti akan selalu datang lewat lubang manapun dalam diri kita. Maka, jika tiba-tiba ada keraguan atas pasangan kita nanti, coba yakini lagi : wanita/lelaki yang sekarang mendampingi kita adalah takdir yang Allah persiapkan untuk kita. Tak salah, tak tertukar. Selanjutnya kita tutup lubang-lubang kesempatan syaitan dengan kalimat-kalimat thayyibah. Semoga Allah bantu agar mata, telinga, dan hati kita jernih sehingga dapat melihat kebaikan-kebaikan pasangan kita.

  • Kecenderungan terhadap lawan jenis menandakan kita normal.
Alhamdulillah.. mari kita bersyukur sebab kita pernah diberi kesempatan untuk memiliki kecenderungan terhadap lawan jenis. Kenapa? Sebab di zaman yang serba mengerikan ini, tak jarang kita jumpai teman-teman yang qadarullah memiliki kecenderungan terhadap selain tersebut. Wajar sekali, apalagi di usia-usia pubertas. Maka langkah selanjutnya yang kita pilih adalah bukti kedewasaan dalam mengontrol ego kita.

  • Hadapai kecemburuan dengan dewasa.
Kembali ke cerita seorang sahabat tadi, ternyata perasaan cemburu karena pasangan belum selesai dengan masa lalunya begitu tak menyenangkan.Terlebih ketika wanita harus mendengar lelakinya berucap, "ketika laki-laki pernah mencintai satu wanita dan tak berhasil memilikinya, maka hubungan dengan wanita selanjutnya hanyalah kelanjutan dari tanggungjawabnya saja. Perasaan sebelumnya tak akan pernah benar-benar hilang."

Amboi.. sebagai manusia yang 'cukup posesif', aku ikut retak. Tidakkah kita ingat bagaimana respon Rasulullah ketika istrinya, Aisyah, sedang cemburu buta pada Khadijah maupun istri Rasulullah yang lain? Sungguh, perasaan cemburu hadir karena ada cinta tulus dari seorang manusia. Ingatkah? Rasulullah yang paham betul dengan kondisi Aisyah tak pernah menyalahkan kecemburuannya. Tapi Rasulullah menenangkan dan memberi kesempatan untuk Aisyah mengungkapkan kecemburuan dulu. Lantas selanjutnya, Rasul tetap memanggil dengan lembut, yaa humairaa..

Sekali lagi, kecemburuan istri atau suami (menurutku) adalah respon normal. Malah aneh sekali ketika perasaan itu hilang. Kita jadi bertanya-tanya, apakah memang rasa cinta keduanya sudah hilang? Lantas dari Rasulullah kita perlu belajar, respon dalam menanggapi itulah yang jadi poin kedewasaan kita. Mari kita sambut kecemburuan itu dengan syukur, alhamdulillah pasangan kita masih mencintai kita. Kalaupun kita sendiri yang sedang cemburu, maka cemburulah dengan elegan, dengan dewasa. Sehingga pasangan kita tak sibuk menduga-duga terhadap apa yang dirasa.

  • Seperti dirimu, pasangan kita nanti pun berhak bertemu dengan diri kita yang selesai dengan masa lalunya.
Sahabat, rasanya bukan hanya aku yang selalu berdoa agar kelak dipertemukan dengan manusia yang hatinya tak terikat dengan wanita-wanita lain, kan?

Entahlah, sebenarnya setelah banyak berdiskusi, hal ini debat-able. Beberapa orang tak mempermasalahkan masa lalu. Tapi bagiku, rasanya kurang adil ketika harus menghadapi seseorang yang punya pembanding terhadap apapun yang kita miliki. Kenapa aku berfikir demikian? Karena akupun pernah menggantungkan harap pada satu nama. Duluuu sekali, ketika aku mendoakan satu nama, aku seperti mendoktrin bahwa pasangan ideal itu dia, kalau memang bukan dia, minimal seperti dia. Aduh.. kalian harus tau bahwa itu mengganggu sekali. Sebab setelahnya, jika kita tak segera menyudahi hal tersebut dengan sadar penuh, alam bawah sadar kita tetap akan menjadikan sosok tersebut sebagai sosok ideal kita. 

Padahal ternyata terikat pada sosok tertentu membuat kita bingung. Aku ingat betul, beberapa tahun setelah mencoba ikhlas pun, aku harus berkali-kali memaksa logikaku melepas ikatan tersebut ketika harus ta'aruf dengan sosok baru. Tips dariku : Jangan pernah coba membuka hati sebelum kita benar-benar tuntas dengan diri kita. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengenali kelebihan, kekurangan, dan kebutuhan diri. Outputnya nanti, ketika kita jujur dalam mengevaluasi adalah kita akan faham, selama ini kita jatuh hati pada sosok lama karena memang kebetulan dia memiliki apa yang kita inginkan/butuhkan. Dan, percayalah bahwa sosok yang memiliki hal tersebut tak hanya dia. Insya Allah, jika kita percaya pada Allah, kita pasti akan menemukan versi terbaik untuk kita di orang yang tepat. Maka bukalah hati, lepaskan yang selama ini mengikat kaki kita. Mari bergerak dengan gagah sebab kepercayaan kita pada takdir Allah.


Sebenarnya rasanya pembahasan ini bisa jadi pembahasan yang sangat panjang, tapi sementara saya cukupkan. Bismillah.. Semangat memperbaiki diri sehingga nanti dipertemukan dengan orang yang tepat dalam kondisi sebaik-baiknya. Setenang-tenangnya. Aamiin ya Rabb..

Jangan lupa poin nomor satu : ..Dan hanya kepada Allahlah hendaknya kita bergantung dan berharap.

No comments: