Sunday, December 8, 2024

Merenda Tawakal

Beberapa hari ini sedang sering jadi tempat curhat. Alhamdulillah jadi banyak belajar dan makin yakin dengan pertolongan Allah.

Salah satu cerita menarik datang dari salah satu kawan yg sedang proses menuju pernikahan (sudah izin yang bersangkutan untuk bawa cerita ke blog dengan menyamarkan banyak hal). Alhamdulillah baru tau juga kalau beliau sedang masa perkenalan. Sejauh ini, masa pertukaran CV sampai nadzor berlangsung sangat lancar. Dari banyaknya keraguan, alhamdulillah selalu Allah bantu dengan keyakinan dan solusi-solusi yang bisa diterima kedua belah pihak.

Masalahnya malah ketika hampir khitbah. Qodarullah salah satu orangtua calon beliau sakit, dan qodarullah berdasarkan banyak study disampaikan bahwa sakitnya termasuk sakit berat yang peluang diturunkan secara genetiknya tinggi sekali. Mendengar hal tersebut, akhirnya beliau menghubungiku. Berharap ada penjelasan yang lebih jelas dari sudut pandang kedokteran. Sebab saat ini, dia, keluarga, dan calon sedang benar-benar pasrah dengan keadaan tersebut.

Sebagai dokter, sejujurnya aku kurang nyaman ketika harus menangani kasus dari orang-orang yang aku kenal. Rasanya sulit sekali untuk profesional. Terlebih jika berhubungan dengan keputusan-keputusan besar seperti pernikahan ini. Aku takut sekali jika ilmuku yang sungguh terbatas ini berbuah keputusan yang salah.

Akhirnya aku izin menunda jawaban. Aku memilih belajar ulang kasus tersebut sambil mencoba menjaga keimanan dan kejernihan hati (karena jujur beberapa bulan ini rasanya keimananku tidak sedang dalam kondisi sebaik-baiknya). Sudah 24 jam aku mengendapkan hal tersebut, tapi nyatanya airnya tak juga jernih. Akhirnya kuputuskan menghubungi senior yang lebih faham bidang tersebut (+punya keimanan yang kelihatannya lebih baik daripada aku).

Setelah berdiskusi dalam belasan bubble chat, ada beberapa poin yang akhirnya tak hanya menjadi solusi permasalahan temanku, tapi juga jadi jawaban dari keresahanku beberapa hari ini.

Sudut Pandang Kedokteran
Kalau dari study, sebagai dokter sebenarnya kami pasti sudah faham bagaimana kemungkinan penyakit tersebut diturunkan. Tapi ingat lagi, di lapangan kita tak bisa benar-benar putih atau hitam. Sebab setiap kita adalah abu-abu.

Dari beberapa artikel yg kubaca, kemungkinan penyakit tersebut diturunkan pada anak sekitar 5-10%. Aku langsung ingat lagi bagan teori H.L. Blum tentang derajat kesehatan seseorang. Meski teori ini sudah sangat tua, tapi masih relevan hingga kini.


Jadi derajat kesehatan seseorang dipengaruhi oleh 4 faktor. Faktor paling besar adalah lingkungan (fisik, kimia, biologi) dan perilaku. Sedang genetik jadi faktor dengan pengaruh paling kecil. Jadi jika dikaitkan dengan peluang, sebenarnya yaaa kemungkinan orang tersebut langsung menurunkan penyakit tersebut masih kecil, terlebih jika selama hidup dia dapat menjaga faktor perilaku dan lingkungan, serta sadar untuk mengakses pelayanan kesehatan (baik untuk screening maupun yang lain).

Kajian spesifik menganai pemyakitnya tentu gak bisa aku jelaskan secara detail disini demi menjaga keamniyahan dari cerita yang bersangkutan. Tapi kurang lebih penyakitnya lumayan sering diturunkan ke keluarga, cukup mengganggu pekerjaan dan sosial bagi penderita serta keluarga.

Sudut Pandang Agama
Nah.. pada bidang ini sebenarnya aku harus banyak belajar. Tp bismillah, mari kita coba uraikan juga.
1. Iman terhadap qada dan qadar Allah.
Jika selama proses sebelumnya yang bersangkutan (selanjutnya disingkat : ybs) merasa semua prosesnya terjaga dan Allah yakinkan. Barangkali sekarang adalah ujian pertama sebelum pernikahan. Barangkali masalah ini adalah salah satu ujian falam rangka meningkatkan tingkat tawakal ybs dalam menghadapi segala qada dan qadar Allah.

Sebenarnya ada beberapa poin plus dari calon ybs yang bisa dipetik dari masalah ini :
- keterbukaan dan kejujuran akan kondisi diri dan keluarga. Ini mahal sekali, sebab tak semua orang siap jujur, apalagi jika risikonya adalah kehilangan.
- calon izin untuk menunda proses sementara karena ingin mengurus ortu. Semoga hal tsb ikhlas dilakukan dan jadi bukti birrul walidain beliau.
- Calon menyampaikan jika beliau ridho jika memang pihak ybs membatalkan proses dengan alasan ini --> yaa semoga ini jadi bukti tawakal beliau akan takdir Allah, serta kebijakan/kedewasaan beliau dalam menghadapi masalah.

2. Sekali lagi tentang tawakal. 
Sengaja diulang karena nyatanya poin ini harus benar-benar ditekankan. Sebab sebagai manusia, apalagi baru mengenal calon pasangan, tentu pengetahuan kita terhadap calon sangat amat terbatas. Maka, mengandalkan kemampuan diri sendiri untuk mempertimbangkan hal besar seperti ini bukanlah hal yang tepat. Mari kita coba renungkan lagi terjemahan dari doa istikharah yang sering kita langitkan :

"Ya Allah, sesungguhnya aku beristikharah pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghoib. 
 
Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. 
 
Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku (baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, takdirkanlah yang terbaik bagiku di mana pun itu sehingga aku pun ridho dengannya.”

Maka, kita akan sadar bahwa muara dari semua ikhtiar dunia yang sudah dilakukan adalah tawakal. Tawakal terhadap seluruh qada-qadar Allah, hingga meningkat keimanan kita bahwa segala yang Allah pilihkan pasti yang terbaik. Kalau memang akhirnya pernikahan itu tetap terjadi, insya Allah nanti Allah yang menjamin akan selalu ada kemudahan bersamaan dengan ujian2 yang ada. Pun, kalaupun akhir dari istikharah ini adalah keputusan untuk menghentikan proses tersebut, maka tak ada kegagalan ta'aruf, sebab selama proses kita benar-benar menitipkan semuanya kepada Allah. Semoga prosesnya bisa jadi peningkat keimanan dan kedewasaan bagi siapapun yang terlibat (termasuk aku sebagai slaah satu tempat curhat).

Maka, dari 2 sudut pandang tadi, ada beberapa hal yang dapat dilakukan dalam waktu dekat :
  • Ikhtiar sebaik-baiknya untuk kesembuhan ortu calon.
  • Jika kondisi sudah stabil, calon sudah siap untuk berproses lagi, dengan komunikasi yang baik, coba tawarkan untuk medical check up dengan lebih detail. Tak hanya calon, tapi ybs juga. Hingga memudahkan solusi jika memang ditemukan kelainan2 lain.
  • Mengkondisikan agar sehat secara fisik, psikologis, dan sosial sesegera mungkin. Hingga ybs maupun calon bisa sama2 mencegah risiko timbulnya penyakit tersebut.
  • Istikharah setiap hari. Diikuti ibadah2 lain untuk membersihkan hati. Harapannya bisa lebih peka terhadap sinyal-sinyal Allah hingga dapat menentukan keputusan dengan bijak. Ohya, selain itu, sementara kurangi menceritakan kasus ini dengan terlalu banyak orang (terutama jika secara keilmuan tidak relate) karena hanya akan menambah overthinking akibat info-info yang tidak valid.
  • Jika proses berlanjut, sepakati untuk aware terhadap kondisi diri dan jika bisa, rutinkan medical check up. Kemudian saling jujur dan terbuka mengenai kondisi masing-masing.

Barangkali itu saja cerita kita hari ini. Jujur, aku pun ikut terciprat keberkahan proses beliau berdua, sebab meningkat pula keyakinan pada Allah akibat cerita tersebut. Mari kita bantu doakan agar keputusan-keputusan berikutnya selalu dalam penjagaan Allah. Bismillah... insyaa Allah, Allah sebaik-baik penolong.

Ohya bonus : ada satu kelebihan taaruf yang bisa kita tangkap dari cerita ini. Taaruf (yang aku yakini) merupakan prosedur terbaik untuk menemukan pasangan dengan cara yang semoga Allah ridhoi. Selama proses, masing-masing akan didampingi perantara dan 'harusnya' dikondisikan untuk seobjektif mungkin dalam pengambilan setiap keputusan. Karena mengutamakan keobjektifan dan logika, maka harapannya kita bisa mempertimbangkan setiap keputusan tanpa terikat dengan perasaan yang bisa mengacaukan logika. Pun dalam setiap prosesnya, masing-masing akan terus didampingi agar tetap ada dalam koridor batasan interaksi, harapannya Allah pun dapat ridho dan memberi berkah dari setiap prosesnya. 

No comments: