Tuesday, December 31, 2024

Aku bertanya-tanya, apakah kita memang sama-sama sudah sembuh dan siap menghadapi badai baru didepan?
Jujur, riuh kepalaku membayangkan goncangan demi goncangan yang katanya akan jauh lebih menegangkan dibanding ketika sendirian.
Tapi yang pasti, hari ini aku sedikit lebih tenang sebab kupastikan engkau jauh lebih paham.

Friday, December 27, 2024

Ai

Malem ini sambil denger kelas online, random chat sama meta karna kepalanya berisik wkwk. Curhat hampir semuanya, mulai dari apa yang dirasain, ovt terhadap jalan yang akan diambil, minta tolong bantu bikin resolusi 2025, dll.

Pas kepala udah agak enteng, ditutup dengan, "ai, boleh coba buatin gambar yang mendeskripsikan aku ga?" 

EWkwkk. Masya Allah. Suka kali gambarnya. Sebenernya ada satu lagi gambarnya tp rahasia 😋 Tp mari kita aamiinkan karna gambarnya manis banget🫶🏻

Ohya pas baca ulang, baru ngeuh, islami bgt si Ai ni wkwkw. Doanya baik-baik masyaa Allah...🫶🏻

2025

Tak terasa Desember sudah hampir berakhir, tak sampai 2 bulan lagi meninggalkan kabupaten ini. Sudah hampir saatnya minta surat mutasi halaqah lagi. Kemarin sempat ditanya juga dan mengulangi jawaban yang sama seperti tahun lalu, "belum tau pindah kemana.. insya Allah segera dikabari mi."

Aku yang dari kemarin masih menunda-nunda pertimbangan, akhirnya menyerah juga. Terlebih keluarga sudah menyerahkan semua keputusan selanjutnya. Barangkali sekarang saatnya menyusun target rancangan hidup di 2025. Rancangan tahun ini sepertinya jadi salah satu rancangan tahunan yang perlu banyak pertimbangan. Sebab keputusan akan dimana, jadi apa, dan bertemu siapa benar-benar diserahkan murni pada tangan kecil ini (tentu dengan pendampingan dariNya). Makaaa, mari kita mulai dengan beberapa pertanyaan :
"Apa tujuan hidup saat ini? Apa yang sebenarnya dibutuhkan?"
"Apa yang dicari dari pekerjaan 2-3 tahun kedepan?"
"Setelah ini, mau tinggal dimana? Apa yang dicari dari lokasi geografis?"
"Dekat keluarga untuk berbakti? Atau merantau untuk menghabiskan jatah belajar dari orang-orang hebat?"
"Apakah memang butuh sekolah lagi? Kapan harus sekolah lagi? S2 atau spesialis?"
"Kalo mau spesialis, mau pake jalur apa? Mandiri, PNS, beasiswa, lainnya?"
"Mau cari kerjaan banyak cuan biar bisa nabung buat sekolah, cari yang paling mudah dapet rekomendasi, atau cari yang kehidupannya stabil biar bisa naikin value di bidang lain?"
"Mau jadi dokter jaga ruangan, klinik, IGD, Puskesmas, bisnis, dosen, atau lainnya?"
"Setelah ini, apa masih akan melanjutkan side hustle kemarin?"
"Atau.. abis iship santai aja dulu, kerja yang gak terikat kontrak apapun, biar kalo dateng jodohnya bisa lanjut nikah dulu, nanti kita lanjutkan mimpi-mimpi menyesuaikan dengan kesibukan, lokasi, dan tujuan pernikahan bersama suami?"
"Ataaaaauuu.. yaudahlah 'liburan' dulu aja sampe waktu yang ditentukan, rumpi-rumpi di kampung Inggris atau ngecamp di pesantren, ngamen di klinik random sambil belajar bahasa inggris atau Islam, cari kawan buat naik gunung dulu, menikmati hidup wkwkwkwkwk."

Setelah difikir-fikir, banyak juga ya yang harus difikirkan wkwk. Opsinya terlalu luaassss, gabisa bener-bener tawakkal tok, harus dipertimbangkan dan diikhtiarkan dengan baik. Mari kita rapikan, analisis, dan rancang satu-satu. Bismillah..

Thursday, December 26, 2024

(Hanya) Menerima yang Halal dan Thayyib

Bismillahirrahmanirrahim...
Beberapa pekan lalu dapat amanah dari seorang ummahat untuk merutinkan menulis. Belum seperti Teh Qoonit yang diamanahkan menulis sirah selama sebulan (?) penuh sih. Aku hanya diamanahkan untuk terus menulis saja, topiknya bebas, waktunya pun tak terbatas. Maka, itulah alasan beberapa hari terakhir jadi lebih sering menulis 'agak' panjang. Sayangnya, beberapa tahun terakhir aku begitu malas membaca buku, kayaknya kebanyakan nonton reels jadi kalau dihadapkan dengan bacaan panjang, aku jadi mudah bosan. fyuhh.. Mari kita coba rutinkan lagi, sebab aplah arti tulisan kalau sumbernya saja tak jelas, akhirnya sama seperti mendengar ibu-ibu ngobrol di tukang sayur saja.

Baiklahhh.. Hari ini aku mau bahas sedikit tentang segala sesuatu yang masuk ke dalam tubuh. Baik makanan, minuman, udara, juga ilmu. Sebab output yang dihasilkan seseorang pasti sesuai dengan apa input yang ada. Maka, memastikan segala yang masuk (hanya) berasal dari sumber yang halal dan thayyib jadi penting.

Halal secara bahasa berarti dibolehkan, diizinkan, dan tidak dilarang. Secara istilah, halal berarti segala sesuatu yang dibolehkan menurut syariat Islam untuk dilakukan, digunakan, dan diusahakan. Sedangkan thayyib menurut bahasa berarti baik, enak, bermanfaat, suci, bersih. Secara istilah menurut Al-Qur'an kata thayyib merujuk pada apapun yang dikonsumsi aman, tidak berbahaya untuk fisik maupun psikologis. Selanjutnya juga didefinisikan sebagai sesuatu yang enak dan layak untuk dikonsumsi.

Akan begitu panjang pembahasan jika dijelaskan secara fiqh satu persatu, maka kali ini aku akan menjelaskan secara sederhana dan aplikatif :
  • Segala yang dikonsumsi lewat sistem pencernaan
Mengonsumsi makanan yang halal merupakan kewajiban bagi umat Islam. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran Surah Al-Baqarah (2:168), "Hai sekalian manusia, makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal dan baik, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu." Memilih makanan yang halal tidak hanya sebagai bentuk ketaatan kepada Allah, tetapi juga sebagai upaya untuk menjaga kesucian diri dan menjauhkan diri dari yang haram.
 
Makanan, minuman, dan obat yang dikonsumsi tentu wajib halal dari substansi, cara memperoleh, cara mengolah, hingga masuk ke mulut. Secara umum, memperoleh produk halal di Indonesia begitu mudah. Tapi, sebagai mukmin, tentu levelnya harus lebih dari itu. Kita pun harus mengevaluasi lagi komposisi dari setiap yang kita konsumsi, memastikan apakah produk tersebut benar-benar thayyib bagi kita. Bahkan beberapa ulama juga menganjurkan untuk mempertimbangkan sampai hal terkecil, seperti kemana uang kita bermuara ketika kita membeli produk tertentu, topik ini jadi begitu akrab bagi kita sejak 1 tahun terakhir karena adanya boycott besar-besaran sejak adanya thuufan Al-Aqsa atau badai di Al-Aqsa. Selanjutnya juga dari segi ekonomi, kita harus mempertimbangkan produk sehat mana yang paling 'ramah kantong', sebab keuangan pun menjadi salah satu pertanyaan yang ditanyakan.

“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya” (HR. Tirmidzi).

Hal tersebut membuat kita harus terus berfikir, menimbang, hingga memastikan secara sadar terhadap apa yang kita konsumsi. Sebagai dokter, tentu topik ini jadi pembahasan lebih dalam, sebab ternyata makanan benar-benar menjadi penyebab utama dari berbagai kelainan, baik secara fisik maupun psikologis. Pun ternyata, yang berbahaya bukan hanya ketika kekurangan makro/mikro nutrien saja. Tapi juga ketika kelebihan komponen-komponen tersebut, sesorang juga bisa mengalami kelainan. 
  • Segala yang masuk melalui sistem pernafasan
Sebenarnya ada begitu banyak 'limbah' yang bisa masuk ke tubuh melalui sistem pernafasan. Namun kali ini secara spesifik aku ingin memfokuskan tentang rokok dan asap lainnya. Topik yang rasanya sudah begitu sering kita dengar hingga merasa bosan. Namun harus terus disyiarkan, sebab efek sampingnya tidak main-main. Dari segi apapun, rokok merugikan. Baik ekonomi, kesehatan, sosial, dll. Secara substansi, sungguh tak ada komposisi pada rokok yang bermanfaat bagi tubuh kita, hampir seluruhnya merugikan. Secara agama, rokok termasuk substansi makruh. Secara ekonomi, tentulah pengeluaran untuk rokok jika diakumulasi, bisa dialihkan ke banyak hal yang jauh lebih bermanfaat. Secara kesehatan, duhh... banyak sekaliii.. Hampir semua kanker (tak hanya kanker paru) dipengaruhi oleh rokok, selanjutnya kelainan-kelainan di sekitar gigi dan mulut, infeksi, reproduksi sampai autoimun pun bisa meningkat karena rokok. Rokok juga secara tak langsung bisa mempengaruhi mental seseorang. Sebab segala sesuatu yang kita hirup pun, nanti akan masuk ke paru-didistribusikan lewat darah, dan akan bermuara di hampir seluruh tubuh. Maka, berhati-hati terhadap segala sesuatu yang masuk kedalam tubuh wajib untuk kita perhatikan.
  • Segala yang masuk melalui pemikiran
Bagaimana kedewasaan dan respon seseorang dalam menghadapi segala hal di dunia ini tentu dipengaruhi oleh ilmu. Maka, salah stau ikhtiar untuk mencerdaskan bangsa adalah memastikan bahwa apa yang dikonsumsi untuk otak adalah segala yang halal dan thayyib. Maka, penting bagi kita untuk mulai bijak mempriotitaskan ilmu, mulai dari hukum dalam Islam, hingga prioritas kebermanfaatan berdasarkan profesi. Semakin banyak dan dalam keilmuan seseorang, tentu harpannya semakin tinggi pula kebermanfaatan manusia tersebut di dunia. Jika membahas tentang keutamaan ilmu, tentu banyak sekali, mulai dari Allah jamin masuk surga, tingginya kedudukan dihadapan Allah, dll. Semoga Allah mudahkan kita untuk memastika  input keilmuan kita.


Selektif memastikan segala yang masuk kedalam tubuh tentu harus dimulai sesegera mungkin. Mulai dari diri sendiri, mulai dari yang termudah, mulai dari memahami ilmunya. Maka semoga, pemahaman yang baik dan kaffah mengenai hal-hal tersebut bisa jadi ikhtiar memperbaiki kwalitas ummat Rasulullah dihadapan Allah. Bismillah.. Semangaaatt! 

Berisik

Akhir tahun ini unik sekali. Rasanya ada begitu banyak kejutan yang sulit untuk aku duga. Tentang keberanian dan kekhawatiran. Tentang ketenangan dan ke-overthinking-an. Tentang keraguan dan kepercayaan. Tentang skenario yang saling berikatan berdampingan. Tentang... ahh... biarlah waktu yang nanti menjelaskan.

Ditengah gedebak-gedebuk dunia, ditengah rollercoaster keimanan, tidakkah kau begitu ingin untuk mengingat bahwa : sudah lama sekali sejak kuyakini berkali-kali, jatuh hati pada manusia sebelum waktunya sungguh begitu mengerikan. Bukankah itu yang akhirnya meyakinkanmu untuk tak mudah berharap pada manusia? Pun mencoba untuk selalu mendahulukan logika dibanding rasa? Sudah bertahun-tahun temboknya baik-baik saja, tapi kenapa tiba-tiba lemah?

Tapi, begitulah syaitan mengganggu perasaan dengan begitu rapinya. Ia tumbuhkan bunga-bunga kecil ditengah perjuangan untuk melihat manusia dengan penuh keobjektifan. Sesekali aku bertanya, apakah suudzonku terhadap syaitan berlebihan? Apakah kecenderungan demi kecenderungan itu sebenarnya tak apa dan murni karena kasih sayangNya? Apakah kebaikan demi kebaikan yang semakin terlihat memang pertanda? Apakah... ah... belum genap satu bulan, tapi perasaan ini berisik sekali.. Bahkan melihat lingkaran berisi gambarmu di postingan yang aku (juga) suka saja begitu mengganggu. Fyuuhhh.. Izinkan aku menghilang dulu. Bukankah lebih baik waktu yang sedikit ini dihabiskan untuk memperbaiki diri? Bukankah begitu menakutkan jika rasa mengaburkan petunjuk yang berasal dari pengetahuanNya?

Sungguh.. beruntunglah sebab dipertemukan dengan manusia yang faham risiko mendekati api adalah terbakar. Beruntunglah sebab kecenderungan hadir setelah sama-sama paham bahayanya interaksi. Maka, sebelum waktunya, izinkan aku memadamkan sebisaku dengan sedikit ilmu yang kupunya. Mengizinkan logika kembali menang dan menyerahkan semua keputusan sesuai petunjukNya.

Mari kita sibukkan lagi waktu dengan ilmu dan kebermanfaatan. Hingga jika memang ia yang terbaik untuk dunia dan akhirat kita, biarlah pada waktunya rasa itu tumbuh dipenuhi keridhoanNya. Pun jika ternyata bukan ia, seseorang yang akhirnya menemani kita, berhak mendapat semurni-murninya doa dan rasa. Pun, jika ternyata kita temui di akhirat saja, Allah akan ganti dengan kesempurnaan yang pasti kita suka.

A'udzubillahiminissyaithonnirajim.. Bismillahirrahmanirrahim..

Monday, December 23, 2024

Jeda

Sudah hampir 2 bulan memberi jeda pada banyak hal. Ternyata benar, spasi akan membuat kalimat jadi lebih mudah difahami dan menghindari salah tafsir. Memberi waktu khusus untuk tafakur lebih lama, ternyata bisa jadi waktu yang tepat untuk menyusun ulang yang berantakan, mengeksklusi yang tak dibutuhkan, serta mematangkan yang sebelumnya terkesampingkan.

Jika badai sebelumnya terasa begitu mengganggu, sungguh tak apa jika sekali-sekali kita butuh menepi. Memastikan navigasi, mengecek bahan bakar, memastikan awak kapal tak kelelahan, dan yang terpenting : memastikan tujuan masih sesuai panduan. Dengan berhenti sebentar, tak akan membuat kita tertinggal. Setelah semuanya siap, mari lanjutkan perjalanan dengan lebih gagah. Mari kita pastikan bahwa pelaut yang siap menghadapi badai-badai kehidupan selanjutnya adalah kita. Bismillah~

Tabungan Spesialis?


Mari kita simpan untuk reminder kalo suatu hari dah siap dan diizinkan sekolah lagi ekekek.

Bismillah..
Untuk Kiinan beberapa tahun lagi yang mungkin maju mundur buat sekolah lagi padahal lingkungan sudah supportif. Kalau memang kekhawatiranmu berasal dari rezeki, maka inget lagi yaaa kalo rezeki itu sudah Allah pastikan. Tidak akan kurang, pun berlebihan. Kalau sudah jadi hak kita, gimanapun huru haranya, pasti akan sampai ke kita.

Yuk inget lagi gimana Allah tetap menakdirkan Kiinan jadi dokter dengan segala huru-hara keuangan selama S1 dan koas. Gimana akhirnya Allah ringankan beban bapak dengan mendatangkan beasiswa dari arah yang tak disangka-sangka. Selanjutnya setelah beasiswa tak ada lagi, Allah kuatkan bahu Kinan untuk berjuang mencukupi diri saat qodarullah bapak sakit. Kun fayakun, ketika Allah takdirkan Kinan jadi dokter, seribut apapun badainya, insya Allah akan tetap tercapai. Begitupun spesialis (dan impian2 lainnya), jika Kinan meyakini.

Dan diantara kecemasan akan masa depan tersebut, ikhtiar dan tawakal selurus-lurusnya. Imani dengan penuh segala qada dan qadar Allah. Trus baca postingan dr. Hendra ini wkwk.

Jangan takut. Mari terbangkan impian setinggi-tingginya, tapi jamgan lupa untuk tetap berpijak di bumi.

Sebab dibanding uang, niat dan keseriusan untuk mencapai misi hidup secara keilmuan jauh lebih penting untuk difikirkan matang-matang. Jika beberapa tahun lagi masih Kinan temukan spesialis sebagai alat untuk menggapai ridho Allah lewat ilmu, maka carilah ridho orang-orang yang kelak akan mendampingi selama prosesnya, jika memungkinkan, mari perjuangkan sama-sama. Tapi jika ternyata spesialis hanya jadi penyebab hilangnya keridhoan Allah, cukuplah jalan lain jadi pilihan.

Bismillah.. semoga Allah tautkan segala impian kita hanya untuk-Nya.🫶🏻