Jujur, riuh kepalaku membayangkan goncangan demi goncangan yang katanya akan jauh lebih menegangkan dibanding ketika sendirian.
Tapi yang pasti, hari ini aku sedikit lebih tenang sebab kupastikan engkau jauh lebih paham.
Mengonsumsi makanan yang halal merupakan kewajiban bagi umat Islam. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran Surah Al-Baqarah (2:168), "Hai sekalian manusia, makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal dan baik, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu." Memilih makanan yang halal tidak hanya sebagai bentuk ketaatan kepada Allah, tetapi juga sebagai upaya untuk menjaga kesucian diri dan menjauhkan diri dari yang haram.
Makanan, minuman, dan obat yang dikonsumsi tentu wajib halal dari substansi, cara memperoleh, cara mengolah, hingga masuk ke mulut. Secara umum, memperoleh produk halal di Indonesia begitu mudah. Tapi, sebagai mukmin, tentu levelnya harus lebih dari itu. Kita pun harus mengevaluasi lagi komposisi dari setiap yang kita konsumsi, memastikan apakah produk tersebut benar-benar thayyib bagi kita. Bahkan beberapa ulama juga menganjurkan untuk mempertimbangkan sampai hal terkecil, seperti kemana uang kita bermuara ketika kita membeli produk tertentu, topik ini jadi begitu akrab bagi kita sejak 1 tahun terakhir karena adanya boycott besar-besaran sejak adanya thuufan Al-Aqsa atau badai di Al-Aqsa. Selanjutnya juga dari segi ekonomi, kita harus mempertimbangkan produk sehat mana yang paling 'ramah kantong', sebab keuangan pun menjadi salah satu pertanyaan yang ditanyakan.
“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya” (HR. Tirmidzi).
Hal tersebut membuat kita harus terus berfikir, menimbang, hingga memastikan secara sadar terhadap apa yang kita konsumsi. Sebagai dokter, tentu topik ini jadi pembahasan lebih dalam, sebab ternyata makanan benar-benar menjadi penyebab utama dari berbagai kelainan, baik secara fisik maupun psikologis. Pun ternyata, yang berbahaya bukan hanya ketika kekurangan makro/mikro nutrien saja. Tapi juga ketika kelebihan komponen-komponen tersebut, sesorang juga bisa mengalami kelainan.
Sebenarnya ada begitu banyak 'limbah' yang bisa masuk ke tubuh melalui sistem pernafasan. Namun kali ini secara spesifik aku ingin memfokuskan tentang rokok dan asap lainnya. Topik yang rasanya sudah begitu sering kita dengar hingga merasa bosan. Namun harus terus disyiarkan, sebab efek sampingnya tidak main-main. Dari segi apapun, rokok merugikan. Baik ekonomi, kesehatan, sosial, dll. Secara substansi, sungguh tak ada komposisi pada rokok yang bermanfaat bagi tubuh kita, hampir seluruhnya merugikan. Secara agama, rokok termasuk substansi makruh. Secara ekonomi, tentulah pengeluaran untuk rokok jika diakumulasi, bisa dialihkan ke banyak hal yang jauh lebih bermanfaat. Secara kesehatan, duhh... banyak sekaliii.. Hampir semua kanker (tak hanya kanker paru) dipengaruhi oleh rokok, selanjutnya kelainan-kelainan di sekitar gigi dan mulut, infeksi, reproduksi sampai autoimun pun bisa meningkat karena rokok. Rokok juga secara tak langsung bisa mempengaruhi mental seseorang. Sebab segala sesuatu yang kita hirup pun, nanti akan masuk ke paru-didistribusikan lewat darah, dan akan bermuara di hampir seluruh tubuh. Maka, berhati-hati terhadap segala sesuatu yang masuk kedalam tubuh wajib untuk kita perhatikan.
Bagaimana kedewasaan dan respon seseorang dalam menghadapi segala hal di dunia ini tentu dipengaruhi oleh ilmu. Maka, salah stau ikhtiar untuk mencerdaskan bangsa adalah memastikan bahwa apa yang dikonsumsi untuk otak adalah segala yang halal dan thayyib. Maka, penting bagi kita untuk mulai bijak mempriotitaskan ilmu, mulai dari hukum dalam Islam, hingga prioritas kebermanfaatan berdasarkan profesi. Semakin banyak dan dalam keilmuan seseorang, tentu harpannya semakin tinggi pula kebermanfaatan manusia tersebut di dunia. Jika membahas tentang keutamaan ilmu, tentu banyak sekali, mulai dari Allah jamin masuk surga, tingginya kedudukan dihadapan Allah, dll. Semoga Allah mudahkan kita untuk memastika input keilmuan kita.
Selektif memastikan segala yang masuk kedalam tubuh tentu harus dimulai sesegera mungkin. Mulai dari diri sendiri, mulai dari yang termudah, mulai dari memahami ilmunya. Maka semoga, pemahaman yang baik dan kaffah mengenai hal-hal tersebut bisa jadi ikhtiar memperbaiki kwalitas ummat Rasulullah dihadapan Allah. Bismillah.. Semangaaatt!