Thursday, December 26, 2024

Berisik

Akhir tahun ini unik sekali. Rasanya ada begitu banyak kejutan yang sulit untuk aku duga. Tentang keberanian dan kekhawatiran. Tentang ketenangan dan ke-overthinking-an. Tentang keraguan dan kepercayaan. Tentang skenario yang saling berikatan berdampingan. Tentang... ahh... biarlah waktu yang nanti menjelaskan.

Ditengah gedebak-gedebuk dunia, ditengah rollercoaster keimanan, tidakkah kau begitu ingin untuk mengingat bahwa : sudah lama sekali sejak kuyakini berkali-kali, jatuh hati pada manusia sebelum waktunya sungguh begitu mengerikan. Bukankah itu yang akhirnya meyakinkanmu untuk tak mudah berharap pada manusia? Pun mencoba untuk selalu mendahulukan logika dibanding rasa? Sudah bertahun-tahun temboknya baik-baik saja, tapi kenapa tiba-tiba lemah?

Tapi, begitulah syaitan mengganggu perasaan dengan begitu rapinya. Ia tumbuhkan bunga-bunga kecil ditengah perjuangan untuk melihat manusia dengan penuh keobjektifan. Sesekali aku bertanya, apakah suudzonku terhadap syaitan berlebihan? Apakah kecenderungan demi kecenderungan itu sebenarnya tak apa dan murni karena kasih sayangNya? Apakah kebaikan demi kebaikan yang semakin terlihat memang pertanda? Apakah... ah... belum genap satu bulan, tapi perasaan ini berisik sekali.. Bahkan melihat lingkaran berisi gambarmu di postingan yang aku (juga) suka saja begitu mengganggu. Fyuuhhh.. Izinkan aku menghilang dulu. Bukankah lebih baik waktu yang sedikit ini dihabiskan untuk memperbaiki diri? Bukankah begitu menakutkan jika rasa mengaburkan petunjuk yang berasal dari pengetahuanNya?

Sungguh.. beruntunglah sebab dipertemukan dengan manusia yang faham risiko mendekati api adalah terbakar. Beruntunglah sebab kecenderungan hadir setelah sama-sama paham bahayanya interaksi. Maka, sebelum waktunya, izinkan aku memadamkan sebisaku dengan sedikit ilmu yang kupunya. Mengizinkan logika kembali menang dan menyerahkan semua keputusan sesuai petunjukNya.

Mari kita sibukkan lagi waktu dengan ilmu dan kebermanfaatan. Hingga jika memang ia yang terbaik untuk dunia dan akhirat kita, biarlah pada waktunya rasa itu tumbuh dipenuhi keridhoanNya. Pun jika ternyata bukan ia, seseorang yang akhirnya menemani kita, berhak mendapat semurni-murninya doa dan rasa. Pun, jika ternyata kita temui di akhirat saja, Allah akan ganti dengan kesempurnaan yang pasti kita suka.

A'udzubillahiminissyaithonnirajim.. Bismillahirrahmanirrahim..

No comments: