Mencela kecewa pada band barat yang begitu percaya diri mencela Tuhan yang katanya kami cintai, tak lupa begitu bangga menyuarakan pelangi di tanah tetangga dengan jumlah muslim tertinggi. Bukan tolakan, malah sorak sorai penonton tampak sepakat menyetujui dan kecewa konser harus berhenti.
Aku tertegun, berhenti demi memahami kondisi, "Kok bisa?"
Aku mengucap tanya yang percuma. Seolah lupa pada pendahulu yang militansi memusuhi Islamnya jauh lebih kuat.
Jika pergerakan mereka begitu serius dan terorganisir, lantas mengapa kita masih sibuk juga dengan problematika diri? Tutup mata pada kenyataan dari berbagai sisi. Malu terlihat kokoh membela apa yang Ia cintai.
Dan parahnya..
Terkadang kita menarik diri ketika tangan-tangan mengajak kita bergerak, pun kita tutup telinga ketika seruan pembelaan memanggil. Hingga panggilan itu semakin lirih dan tak ada lagi.
Kita merasa tenang di sudut kamar gelap ini.
Sedang diluar ada ia yang terkoyak bersimbah darah membela apa yang Tuhan cintai.
Meski ia tahu, Tuhan tak pernah butuh.
Tapi ia tetap berjuang dengan kepercayaan penuh.
Tapi ia tetap berjuang dengan kepercayaan penuh.
No comments:
Post a Comment