Hal yang paling sering dibahas di grup keluarga kalo ngobrolin masalah parenting bareng mbak-mbak :
"Emang penting ya menjadikan anak-anak jadi pribadi yang mandiri dan tau kalau tujuan utama kita tu Allah. Kita jadi gak banyak PR."
"Bapak-Mamak yang selalu ngalah dan mencoba mencukupi kebutuhuan adek-adek bahkan sampai cucu-cucu mereka memang ada sisi negatif dan positifnya. Tapi, jiwa memberi dalam kondisi lapang dan sempit itu ternyata memang hal mahal yang sudah mereka titipkan ke kita, ya."
"Kalau mentalnya memang sudah mental-mental bergantung ke orang tu susah sih. Gimana mau memberi kalau diri sendiri masih bermalas-malasan untuk mencukupkan diri sendiri."
Hahh.. akhir-akhir ini, setelah menghadapi realitas dunia kerja yang ruwet dan menuju kehidupan pasca kampus yang unpredictable, nasihat-nasihat ini jadi lebih jleb banget rasanya. Menuju dewasa, menuju menjadi diri sendiri yang utuh, kadang jadi sulit sekali mengatur ego dan kegalauan. Semoga berhasil menjadi diri sendiri yang lebih utuh dan tentu saja sesuai betul sebagaimana tujuan manusia diciptkan di dunia.
Apalagi poin untuk tetap ikhlas memberi dalam kondisi lapang dan sempit ni yaa.. Sejak mencukupi kebutuhan finansial sendiri, kerasa beraaaat banget. Masih jadi PR untuk cari manuver biar tetep bisa memberi dan mencari cara untuk mencukupkan diri sendiri. Maaf yaaa kepada teman-teman kontrakan yang di tanggal-tanggal genting malah lebih sering diminta bantuan untuk bantu back up dulu :") Semoga Allah ganti dengan rezeki-rezeki tak terkiraa. Aamiin.
Dengan keterbatasan itu, jadi paham betul kenapa kita dianjurkan untuk mandiri, selalu merasa cukup, dan memperkaya diri (gak hanya tentang uang, tapi juga ilmu dan lainnya), sehingga kita jadi lebih lapang untuk berbagi. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain?
Ohya, jadi inget juga, pernah ditanyain seseorang beberapa bulan yang lalu, "Kenapa sih jadi akhwat malah repot-repot berjuang menjadi mandiri, ikut berjuang secara finansial? Nanti ikhwan-ikhwan pada nepii lohhh... Ikhwan kan sukanya yang 'bergantung'."
Wkwk.. waktu itu lebih milih diem karena yang nanya lebih tua juga. Tapi jadi kepikiran, 'ohhh.. ada ya yang kepikiran ini yaaaa.' Bagus sih, jadi menambah insight. Tapi jadi pengen berbagi dikit sudut pandang, belum tentu bener dan belum tentu sudut pandangku tetep sama sampe waktu kalian baca ini.. tapi bismillah ya gais...
- Mandiri dan tidak bergantung memang suatu yang erat kaitannya. Tapi jujur, bisa jadi dua hal yang berbeda juga. Kalau konteksnya jadi langsung ngejudge akhwat yang mandiri gak bisa mentaati suami. Salah sih... Mungkin contoh yang guwampang banget, Khadijah. kemandirian, kekayaan, dan kedudukan beliau gak jadi alasan beliau untuk menjadikan Nabi Muhammad lebih rendah daripada beliau. Balik lagi, kalau suami maupun istrinya mau belajar Islam, pasti dia tau bahwa suami adalah sosok yang wajib ditaati, wajib didahulukan. Suami yang mau belajar pun akan faham, bahwa ia harus jadi qawwam yang tak hanya menajdi pemimpin, tapi juga pelindung, penjamin, pemelihara, dll. Diluar masalah ilmu yang sama-sama harus kita pelajari terus meneruss, sebuah bocoran untuk ikhwan :p : semandiri-mandirinya akhwat mah, kalo ketemu sama orang yang dengannya ia percaya menggantungkan hidupnya mah, buka aqua aja dia bergantung wkwk.
- Balik lagi ke cerita ummahatul muslim, ibunda Khadijah diceritakan merupakan pebisnis yang luar biasa. Dan dengan kekayaan, kemandirian, dan kedewasaan beliau, beliau jadi penyokong dakwah yang kuat banget diawal masa dakwah Rasulullah. Gak kebayang kalo istri pertama Rasulullah itu kaum mendang-mending apalagi aku yang lemah ini.. Wesss... Rasulullah cuma sibuk ngurusin istrinya doang :") Jadi ternyata kemandirian seorang istri juga bisa mengurangi kecemasan suami untuk berjuang dan mencoba memberi dampak elbih luas di luar rumah.
- Jodoh itu sudah ada, sudah Allah jamin. Ya kalo rezekinya gak ketemu di dunia, pasti nanti ketemu di akhirat. Gaperlu pusyingg.. Yang penting jadi versi terbaik diri kita masing-masing. Gak perlu bener-bener mengikuti standar manusia kebanyakan. Sebab kita sudah punya banyaaaaaak sekali contoh manusia-manusia luar biasa yang bisa kita ambil contohnya. Coba cari yang karakternya mirip dengan kita, pahami bagaimana cara beliau bertindak, mengambil keputusan, dll. Sehingga kita gak perlu pusing tiap orang ngebanding-bandingin, Sebab kita paham, manusia memang Allah ciptakan unique, berbeda satu sama lain, tentu bukan tanpa tujuan.. Allah ciptakan kita untuk saling bersinergi, melengkapi satu sama lain, berkarya dan mengabdi dengan kelebihan kita masing-masing.
- Ohya bonus : jodoh tu sudah Allah jamin. Allah akan menurunkan ia sepaket dengan kecenderungan serta rasa tenang untuk kita. (katanya gitu ya wkwkw, aku gatau soalnya belum ketemu jodohnya) Pasangan kita tu bisa jadi 3 kondisi, ada yang jadi cerminan diri kita, ada juga yang jadi puzzle untuk melengkapi kita, tapi kalau Allah nilai kita mampu, bahkan bisa jadi sumber ujian bagi kita. Tugas kita tu tinggal percaya sama Allah dan menjadi sebaik-baik pribadi supaya nanti pas ketemu pasangan yang Allah pilihkan, kita sanggup jadi suami/istri terbaik.
Dah... itu aja dulu gais. Sudut pandang yang semoga tidaak menyesatkan.. Just be the best version of your self. Yang penting jangan lupa, kita manusia biasa, gak bisa tetep sampe tujuan kalo gak ngikutin jalan yang lurus. Gak bakal tau jalan lurus itu yang mana kalo gak ada pedomannya. Gak atu pedomannya apa kalo gak mau belajar Qur'an dan pretelan-pretelannya. Semangat menjadi manusia yang utuh! Karena sebelum memberi, kita wajib memiliki.
No comments:
Post a Comment