Kemarin baru curhat sama Urfa tentang rollercoaster keimanan pasca kampus. Kami sepakat, berjalan sendirian ternyata memang seberat itu. Kami yang masih mencoba gigih berada dalam halaqah dan memiliki guru saja masih snagat terdampak, apalagi jika kita lepaskan? Betapa beratnya istiqomah... :"
Wajar saja senior-senior selama sekolah dulu berkali-kali mengingatkan untuk tetap terikat, minimal dalam halaqah dan menyanggupi amanah dakwah. Sebab sebenarnya kitalah yang membutuhkan ikatan-ikatan tersebut untuk menstabilkan diri. Sombong sekali jika kita merasa berjasa dalam jalan dakwah ini, sedang sebenarnya kitalah yang butuh dakwah.
Selanjutnya, tetap terikatlah pada seorang guru. Guru yang benar-benar hidup, mengenal kita, dan mampu menasehati langsung ketika kita sedang dalam kondisi kurang baik-baik saja. Sebab dalam menghadapi berbagai persoalan, kita butuh nasehat dari 'orang luar' yang dapat menilai secara objektif dengan pertimbangan Islam dan pengalaman. Pun beliaulah yang mampu dengan tegas mengingatkan pemahaman-pemahaman kita yang kurang tepat.
Maka, apapun pergerakan yang kita pilih, semoga kita tetap sungguh-sungguh menggigitanya dengan gigi geraham. Berlarilah kepada Allah, maksimalkan kesempatan menuntut ilmu. Semoga, semoga Allah selalu arahkan kita kepada apa-apa yang Ia ridhoi. Hingga kita bisa menggapai impian kita, tidak menyicipi panasnya neraka.
No comments:
Post a Comment