Friday, January 10, 2025

Nunggu Adzan #4 : Ini arahnya kemana ya?

Mari kita lanjut random talk sambil nunggu adzan. Ohya, alhamdulillah, aku bersyukur banget karena section ini sangat-sangat membantu aku menguraikan berisiknya kepala, apalagi di fase-fase quarter life crisis ini. Why? Karena biasanya sambil nulis aku akan mencoba mengonsepkan konsep yang sebelumnya berantakan banget di kepala, setelah tulisan aku publish juga biasanya aku baca ulang yang akhirnya bikin aku lebih faham lagi mengenai topik tersebut. Biasanya aku nulis juga sih, bisa di notes hp atau catatan, tapi ketika tulisan di share di platform yang bisa diakses orang lain, aku jadi belajar untuk lebih bijak dalam menulis karena merasa punya 'beban' untuk memastikan kebenaran dari yang aku sampaikan, mencoba menggunakan bahasa yang bisa dipahami orang lain dengan baik, menyederhanakan topik-topik yang berat, dan lain-lain. 




Okeeee epribadeehh.. Hari ini kita akan mengurai salah satu keberisikan yang mengganggu dalam beberapa bulan terakhir : Muara Karir. Setelah bertahun-tahun bergulat dengan pendidikan (yang bikin anak kedokteran biasanya terlihat sedikit kurang dewasa dibanding jurusan lain), maka pembahasan selanjutnya tak kalah panjang. Pembahasan yang gak ada habis-habisnya, tiap ngobrol sama teman sebaya, pasti endingnya itu lagi-itu lagi, pokoknya saingan imbangnya cuma satu : pernikahan wkwk.

Jadi hari ini, qodarullahada 3 orang dari 3 'sirkel' berbeda yang ngajak ngobrolin topik ini. Triggernya : LPDP bentar lagi buka, iship hampir selesai, pengabdian lewat Nusantara Sehat. Ketiganya kalau dari luar terlihat sama : seumuran, perintis (muggle-born), dan pengen jadi spesialis dengan bantuan beasiswa. Tapi pas denger isi kepala mereka, ternyata beda-beda banget dan bikin aku dapet insight baru dalam perjalanan karir kedokteran yang mendebarkan.

  • Dulu ku kira memilih dokter sebagai pekerjaan membuat masa depan jadi lebih jelas. Tapi setelah memasuki kehidupannya, peluang karir yang sangat beragam malah bikin sedikit bimbang. Dokter bisa tetap jadi dokter umum dengan ranah kerja sebagai dokter puskesmas, klinik kecantikan, jaga IGD, jaga ruang rawat inap, enterpreneur, politisi, buka klinik, dokter perusahaan, dll. Jika lanjut S2-S3, bisa jadi dosen, peneliti, dll. Kalau mau di bidang militer, bisa jadi dokter polisi atau dokter militer. Selanjutnya kalau dokter memilih ranah spesialis, ada opsi untuk jadi speisalis yang berhubungan langsung dengan pasien atau di belakang layar, kemudian jadi spesialis yang memegang pisau, alat-alat bantu tambahan, atau mengandalkan pengobatan saja. Spesialis juga bisa dipilih, mau yang waktu kerjanya luarbiasa atau masih bisa work-life-balance. Ada juga dokter yang memilih tak bekerja sebagai dokter, lari ke entertainment, ibu rumah tangga, politisi, atau pekerjaan lain yang benar-benar melepaskan keilmuannya sebagai dokter. Fyuhhh banyak banget pokoknya. 


  • Ternyata, visi emang super penting!
    Ketika seseorang sudah mengenali dirinya, memahami kekurangan-kelebihan-potensinya, maka ia akan mengumpulkan bekal dan pelindung yang tepat untuk menghadapi segala kemungkinan berat selama perjalanan menuju tujuannya. Kemampuan itu yang akan membuat ikhtiar seseorang jadi terarah dan bisa mengefisenkan waktu yang dimilikinya. Termasuk untuk menjalani kehidupan di dunia kedokteran sebagai mudblood yang penuh peluang. Pada 3 case yang aku temui tadi, cara dan pertimbangan yang dipilih juga sangat-sangat berbeda. Visi membangun daerah, menjadi akademisi, dan working mom tanpa perlu dinas membuat ketiganya mereka memilih jenis spesialis dan jalan yang berbeda.
  • Ikhtiar nomor satu, tawakkal yang utama. 
    Meski kita sudah maksimalkan ikhtiar, beriman pada qada dan qadar Allah-lah yang membuat kita tenang. Yakini bahwa Allah menilai proses-proses kita, lakukan sebaik-baiknya. Bagaimana akhirnya Allah bawa kita, pasti itu yang terbaik untuk kita.
  • Menurutku kurang pas jika memutuskan jalan berdasarkan gaji saja.
    Why? Karena setelah lihat kenyataan di lapangan, gaji itu relatif banget. Banyak dokter umum yang sukses banget karena 'pinter' cari peluang. Ada juga spesialis yang akhirnya memilih kerja santai-santai aja jadi gajinya segitu-segitu juga. Ada dokter yang secara keuangan biasa banget, tapi namanya terkenang di banyak orang, rasanya doa-doa untuk beliau berlomba-lomba naik ke langit tak tertahankan. 
    Lantas, apakah gaji gak penting? Tetep penting dong ya, gimanapun uang adalah alat tukar yang bisa kita manfaatkan untuk banyak hal. Gaji juga yang menjadi pembeda antara ranah pekerjaan profesional dan pengabdian. Belum lagi ada banyak permasalahan dalam hidup yang diawali dari ketidaksejahteraan secara ekonomi. Tapi 'menuhankan' angka tersebut dalam kehidupan harusnya bukan jadi prioritas-prioritas tertinggi. Terlebih sebagai muslim, kita wajib yakin bahwa rezeki adalah hak prerogatif Allah. Jumlahnya akan passss, gak akan kurang atau berlebihan. Bentuknya pun tak selalu dalam bentuk harta yang nampak. Maka, bukankah seharusnya tak perlu terlalu kita khawatirkan? 
  • Beberapa hal yang bisa dipertimbangkan dalam meniti karir : kesesuaian dengan visi kita, lokasi (biasanya berhubungan dengan pertimbangan keluarga), jenjang karir yang bisa kita kejar, peluang untuk sekolah lagi, peluang untuk mendaftar beasiswa, jam kerja, aturan-aturan yang tidak sesuai dengan nilai yang kita pegang, kestabilan keuangan, dll.
  • Biasakan untuk menganalisa dengan rapi setiap akan memutuskan memilih karir tertentu (apalagi jika pilihannya adalah spesialisasi), karena kita akan hidup selamanya dengan nilai-nilai itu. 
  • Gak perlu terburu-buru menuju karir impian. Trust the process.
  • Jangan takut gagal, kalau sudah dipertimbangkan dan ada jalan : mari perjuangkan. Kadang kekhawatiran-kekhawatiran itu cuma ada di kepala kita aja.
  • Gak ada PPDS (mahasiswa spesialis) yang di drop out hanya karena miskin dan gabisa bayar UKT. Kalau Allah takdirkan kita jadi spesialis, mau seluruh masalah ada, pasti ada aja jalan utnuk keluar dari masalah itu.
  • Sebelum daftar apapun (sekolah lagi, kerja, dll) maka cari tau dulu : 
    Diri : Kelebihan, kekurangan, potensi, visi
    Tempat kerja/beasiswa : Visi instansi? Apa yang mereka butuhkan/cari? dll
    Kalau memang rasanya oke, mari kita coba dan jangan lupa istikharah~
  • Kalo mau nabung buat sekolah : Side hustle ternyata penting juga, prioritaskan gaji gapapa wkwk, rapikan pengelolaan keuangan, yakin ada Allah yang Maha Kaya wkwk.
Masih banyak, tp kapan-kapan lagi ya soalnya udah adzan wkwk. Bye~
Semangat menikmati hari-hari penuh perjuangan yaaa.
Ingettt, kalo sekarang kerasa gaenak, capek, berat, bingung --> artinya kita sedang bergerak. Kalo mau nyaman mah yaudah leyeh-leyeh aja~

No comments: