Ringkasan Buku karya Ust. Salim A. Fillah
--------------------------------------------------------------------------------------------------
Happy weekend!
Weekend = saatnya melanjutkan #CatatanKiinan. yey!
Tapi pekan ini kita ga akan share terlalu banyak karena 2 pekan lagi aku ACLS >.< (((Dunia kerja iz riil))) Mohon bantuan doanya ya guys, semoga kehidupan karir aku nanti gak cuma disibukkan buat cari duit doang~
Oke bismillah.. Kita mulai catatan hari ini dengan topik 'parenting'. Seru nih kalo dah ngomongin tum-bang bocil :p
---------------------------------------------------------------------------------------------------
NILAI DASAR DAN KURIKULUM PENDIDIKAN ANAK
TANGGUNG JAWAB ORANGTUA
Konsekuensi menikah --> menjadi orangtua --> melanggengkan kehambaan kepada Allah agar terwaris kepada generasi penerusnya.
"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (Q.S At-Tahrim : 6)
Pada ayat tersebut ada kelimat "jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka". Maka ini adalah sikap yang seharusnya paling kita inginkan, karena sebenaarnya ada 3 skenario masuk surga :
- Masuk Surga karena Ridho Allah
- Ketika masuk Surga karena amal lebih besar dari keburukan yang kita lakukan.
- Ketika keburukan lebih dominan dari amal, tetapi masih terdapat iman --> pada poin ini, manusia akan masuk neraka terlebih dahulu untuk menghapus dosa-dosa yang memberatkannya sebelum masuk ke Surga.
Maka, usaha untuk menjaga keluarga dari api neraka, berarti termasuk dalam doa yang dengannya kita berharap keluarga kita betul-betul terbebas dari hal-hal yang bisa membawa kita ke neraka (meski hanya sesaat).
Cara untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka :
- Taat kepada Allah dan menjaga diri dan keluarga dari kemaksiatan.
- Perintahkan untuk berdzikir
- Bertakwa kepada Allah
- Lakukan dengan nasehat dan adab
- Jaga anak diatas fitrah Islam
Kewajiban laki-laki selama hidup --> Menjaga keluarganya (istri, anak, budak, dan saudara perempuannya) dari api neraka.
--> Dengan beban berat tersebut : amanah dan beban laki-laki sebenarnya jauh lebih besar dari perempuan dalam kehidupan. Sebab dosa dan kesalahan istri dan anak adalah dosa dan kesalahan suami. Sedang kesalahan dan dosa suami adalah tanggung jawabnya sendiri. Maka penting untuk memahami dan mendampingi kondisi tersebut lewat ketaatan dan sikap tenang, dewasa, dan penuh kesabaran. Bantu dan dampingi tanpa membebani.
Tanggung jawab sebagai orangtua --> tidak bisa didelegasikan, sebab orangtualah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kita tanamkan terhadap anak-anak kita. Nb : memilih sekolah, guru, dll bukanlah mendelegasikan tanggung jawab, tetapi adalah bukti kita bertanggung jawab untuk mendekatkan anak pada sumber ilmu/guru terbaik yang bisa memenuhi kebutuhan anak yang tidak bisa langsung kita fasilitasi.
Peran orangtua : mendampingi dan mengantarkan anak menuju gerbang taklitnya sendiri, sehingga anak siap untuk menjalankan tugas sebagai 'Abdullah dan Khalifah di muka bumi.
3 NILAI DASAR PENDIDIKAN ANAK
1. Takwa --> Falyattaqullaha
Sirah : Umar Ibnu Abdul Aziz yang mewariskan sedikit harta dan memilih untuk menitipkan anak-anaknya kepada Allah yang Maha Kaya. Beliau tak mewarisi banyak harta, tetapi beliau mewariskan value, ilmu, dan sikap yang senantiasa sesuai dengan panduan Allah sehingga di masa depan, anak-anak beliau mampu menjadi orang-orang hebat yang mampu menjadi pembayar zakat terbesar di zamannya.
Penting untuk menanamkan value/nilai dasar pada diri sendiri sebelum kepada anak-anak. --> Jangan menjadi orangtua yang ingin anaknya seperti Imam Syafi'i tapi tidak berusaha menjadi seperti orangtua beliau.
Takwa : berhati-hati, menjaga diri, sikap diantara cinta dan takut.
Kenapa harus berhati-hati/bertaqwa?
- Mu'ahadah --> mengingat perjanjian dengan Allah (kontrak tauhid) untuk senantiasa taat kepada Allah.
(Ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari tulang punggung anak cucu Adam, keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksiannya terhadap diri mereka sendiri (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami melakukannya) agar pada hari Kiamat kamu (tidak) mengatakan, “Sesungguhnya kami lengah terhadap hal ini,” (Q.S. Al-A'Raf : 172)
"Dan ingatlah akan karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah diikatkan kepadamu, ketika kamu mengatakan, “Kami mendengar dan kami menaati.” Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Maha Mengetahui segala isi hati." (Q.S Al-Ma'idah : 7)
- Muraqabah --> Mengimani bahwa Allah selalu melihat dan mengawasi kita kapanpun, dimanapun, dan dalam kondisi apapun.
Allah tak hanya mengawasi, tetapi juga mengutus malaikat untuk mencatat semua baik-buruknya manusia hingga nanti kita dimintai pertanggungjwaban terhadap seluruh yang kita lakukan di dunia."Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya. Siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya". (Q.S. Az-Zalzalah : 7)
"Diletakkanlah kitab (catatan amal pada setiap orang), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya. Mereka berkata, “Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak meninggalkan yang kecil dan yang besar, kecuali mencatatnya.” Mereka mendapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Tuhanmu tidak menzalimi seorang pun." (Q.S. Al-Kahfi : 49) - Muhasabah --> Menghitung-hitung apa yang sudah kita lakukan dan persiapkan untuk bekal di hari esok.
Manusia --> sifatnya pelupa, maka perlu untuk terus diingatkan (termasuk mengenai dosa dan pahalanya sendiri)"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (Q.S Al-Hasyr : 18)
Umar : Hitung-hitunglah diri kalian sendiri sebelum kalian dihisab nanti. - Mu'aqabah --> Menghukum diri jika tidak memenuhi komitmen/janji
Diri yang merasa sempurna tidak akan dapat mengenali jalan menuju kebaikan. Siap ia merasa tidak perlu berbenah. Jiwa yang bermuhasabah seyogyanya juga akan menghukum pribadinya jika berdosa sebagai tanda penyerahan secara nyata agar kelak Allah mengampuninya. - Mujahadah --> Berjuang untuk terus mempertahankan ketaatan demi meraih taqwa.
Bekerjalah untuk duniamu seukur dengan berapa lama tinggal di bumi. Bekerjalah untuk akhiratmu seukur pula dengan berapa panjang engkau hidup disana.
"Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam jihadnya dalam memenuhi perintah kami, pasti akan kami tunjukkan padnaya jalan-jalan Kami."
"Seseorang akan mati di atas apa yang isa tegakkan hidup padanya." - Imam Al-Ghazali
Pertanyaan yang wajib sellau diulang setiap sedang mengerjakan/memutuskan sesuatu : "Apakah ini diridhoi Allah? Apakah ini sesuai dengan petunjuk Rasulullah?"
2. Jujur --> Wal yaquulu qaulan sadida
Dan hendaknya kita mengucapkan perkataan yang lurus/konsisten sehingga dapat menjadi modal penting untuk kekokohan jiwa anak-anak kelak.
Dan hendaknya kita mengucapkan perkataan yang lurus/konsisten sehingga dapat menjadi modal penting untuk kekokohan jiwa anak-anak kelak.
Suami-stri harus kompak dan konsisten dalam setiap menanamkan nilai (terutama tentang benar-salah) kepada anak-anak. Jangan hari ini bilang A, besok bilang B, dst. Disanalah saatnya berbagi peran, ada saatnya ayah yang tegas mengingatkan, kemudian ibu menasehati dengan lembut untuk menyadarkan. Ada pula masanya kebalikannya. Usahakan untuk tidak menghakimi anak dalam waktu bersamaan agar anak tetap merasa punya 'rumah' dan merasa dipahami oleh orangtuanya.
Selanjutnya tak ahnya dengan kata-kata, tapi konsistenlah dalam perbuatan dan pengamalan. Misal : menyuruh anak-anak semangat sholat sedang orangtuanya menunda shalat. Memarahi anak-anak agar tidak kecanduan gadget sedang orangtuanya tidak bisa lepas dari gadget.
Tugas ayah : Tegas dalam membuat dan menyampaikan aturan-aturan dalam rumah.
Tugas ibu : menasehati dengan hikmah agar anak-anak memahami aturan-aturan yang tegak di rumah.
Belajar seni untuk merespon kegagalan dan kesalahan anak :
Bukan dengan menyalahkan anak 100%, bukan dengan menyalahkan pihak lain yang memungkinkan terjadinya kegagalan tersebut, bukan dengan membiarkan saja kegagagaln tersebut terjadi, tetapi dengan :
- mengamati ketika anak gagal
- utamakan menolong dan menenangkan terlebih dahulu
- setelah anak tenang dan siap mendengarkan --> tanya, diskusi, dan validasi apa yang ia alami dan rasakan
- Pahamkan bahwa setaip hal memang ada risikonya dan gagal itu normal, hal biasa. Pahamkan bahwa yang penting bahwa setiap yang terjadi adalah takdir Allah, tugas kita adalah merespon takdir tersebut dengan bijak dengan tetap bangkit lagi dan nggak kapok untuk berjuang lagi.
Pahamkan juga pada anak untuk merasa tak nyaman itu boleh dan normal. Misal : ketika sedih boleh menangis. Karena menangis itu penting untuk mengingat dosa, menghidupkan empati, bukti kesehatan dll. Begitu juga dengan rasa lapar/susah/berjuang, jangan jadi orangtua yang tidak ingin mengenalkan anak-anak dengan rasa lapar/susah/berjuang. Sebab mengizinkan anak merasakan hal-hak tersebut menyebabkan anak bisa peka terhadap sinyal tubuhnya. Selanjutnya ketika anka dapat makanan/kemudahan/keberhasilan, maka anak akan lebih bersyukur, qanaah.
3. Rasa syukur kepada Allah
Rasa syukur yang pertama kali harus diulang-ulang : rasa syukur sebab Allah percaya untuk menitipkan anak dan menjadikan kita sebagai orangtuanya sehingga kita memiliki peluang untuk mendidik penerus peradaban.
Nikmati segala kerepotan dalam mengurus dan mendidik anak, sebab kerepotan-kerepotan itu hanya sementara dan tidak lama.
Ungkapkan syukur secara verbal dan non-verbal. Termasuk sampaikan ke anak bahwa kita bersyukur menjadi orangtua mereka. Sebab syukur dan cinta adalah hal yang perlu kita ungkapkan, bahkan keaapada Allah yang Maha Mengetahui saja, kita tetap diajarkan untuk memuji dan berdzikir untuk melafadzkan rasa syukur dan cinta kita kepadaNya.
Penelitan Ust. Salim A. Fillah --> 30% anak kader tidak ingin aktif dalam dakwah seperti ortunya ketika sudah dewasa karena selama ini merasa orangtuanya terlalu sibuk, jarang di rumah, dan pulang dalam kondisi sudah kelelahan. Maka pertanyaannya, apakah sibuk itu salah? Seberapa perrbandingan kesibukan kita jika dibandingkan dnegan Rasulullah?
3. Rasa syukur kepada Allah
Rasa syukur yang pertama kali harus diulang-ulang : rasa syukur sebab Allah percaya untuk menitipkan anak dan menjadikan kita sebagai orangtuanya sehingga kita memiliki peluang untuk mendidik penerus peradaban.
Nikmati segala kerepotan dalam mengurus dan mendidik anak, sebab kerepotan-kerepotan itu hanya sementara dan tidak lama.
Ungkapkan syukur secara verbal dan non-verbal. Termasuk sampaikan ke anak bahwa kita bersyukur menjadi orangtua mereka. Sebab syukur dan cinta adalah hal yang perlu kita ungkapkan, bahkan keaapada Allah yang Maha Mengetahui saja, kita tetap diajarkan untuk memuji dan berdzikir untuk melafadzkan rasa syukur dan cinta kita kepadaNya.
Penelitan Ust. Salim A. Fillah --> 30% anak kader tidak ingin aktif dalam dakwah seperti ortunya ketika sudah dewasa karena selama ini merasa orangtuanya terlalu sibuk, jarang di rumah, dan pulang dalam kondisi sudah kelelahan. Maka pertanyaannya, apakah sibuk itu salah? Seberapa perrbandingan kesibukan kita jika dibandingkan dnegan Rasulullah?
Mari kita belajar dri Rasulullah...
Selelah-lelahnya Rasulullah berdakwah hingga berdarah-darah. Ia akan menyiapkan diri sebaik2nya ketika akan bertemu dengan keluarganya :
Selelah-lelahnya Rasulullah berdakwah hingga berdarah-darah. Ia akan menyiapkan diri sebaik2nya ketika akan bertemu dengan keluarganya :
- Rasul tidak pernah masuk rumah sebelum bersiwak, mandi, memakai wewangian. Bahkan ektika pulang dari perang yang butuh waktu lama, maka ia mencukur rambut, dll dulu.
- Begitupula bagi istri dan anak-anak. Beliau memerintahkan isteri-isteri dan anak-anak sahabat untuk bersiap-siap ketika suaminya pulang dari perang.
Ketika sudah punya anak, jadikan waktu di rumah sebagai quality time. Barangkali waktu kita memang terbatas, tapi pastikan setiap pertemuan menyimpan core memmory yang baik bagi anak. Mari belajar juga dengan kisah Siti Hajar yang terus menceritakan kebaikan dan keteladanan Nabi Ibrahim kepada Nabi Ismail meskipun saat itu kondisi memaksa mereka untuk Long Distance Marriage (LDM). kemudian usaha Siti Hajar tidak hanya berjalan sendiri, tapi Nabi Ibrahim pun selalu memaksimalkan waktu-waktu yang sedikit itu, setiap eprtemuan dengan Nabi Ismail, mereka selalu habiskan dengan hal-hal memorable. Contoh yang sering kita dengar : Pembangunan ka'bah dan penyembelihan Nabi Ismail,
QURRATA A'YUN
--> penyejuk mata di dunia dan di akhirat.
--> merupakan kata peripurna untuk menggambarkan seluruh kebaikan yang dapat dirasakan seorng hamba Allah dari apsangan dan anak-anaknya.
--> Merupakan gambaran dari ahti yang tunduk, taqwa, ridho, sabar, syukur, dan ikhlas kepada Allah, diikuti dengan anggota badan yang senantiasa bergerak dalam ketaatan, ibadah, amal shalih, serta akhlak mulia yang terpancar seluruh pribadinya.
PERAN AYAH DAN IBU DALAM MENDIDIK ANAK
Siapa yang bertanggungjawab mendidik anak?
Siapa yang bertanggungjawab mendidik anak?
- Ayah
Jika belajar dari Al-Qur'an, maka hanya ada obrolan antara ayah-anak. (Seperti kisah Nabi Ibrahim, Luqman, Yaqub, dll)
Maka peran ayah dalam mendidik anak adalah dengan menanamkan nilai/filsafat kehidupan
Maka peran ayah dalam mendidik anak adalah dengan menanamkan nilai/filsafat kehidupan
-Ibu
Tabiat seorang ibu : suka berdialog (jadi gaperlu sampe dicontohkan dalam Al-Qur'an wkwk)
Maka, berbahagialah yang memiliki istri cerewet dan shalihah, sebab anak akan tumbuh bersama ibu yang dari mulutnya keluar ilmu dan nasihat yang baik-baik.
Maka, berbahagialah yang memiliki istri cerewet dan shalihah, sebab anak akan tumbuh bersama ibu yang dari mulutnya keluar ilmu dan nasihat yang baik-baik.
"Al-ummu madrasatul ula, wa abu mudiiruha"
Ibu adalah sekolah pertama, sedang ayah adalah kepala sekolahnya.
No comments:
Post a Comment