Tuesday, January 28, 2025

Berbicara


Dari kecil, aku kurang suka ngomong langsung. Lebih nyaman ketika menyampaikan sesuatu lewat tulisan. Setelah aku preteli lagi, ternyata hal itu terjadi karena selama ini aku sering ngerasa ga siap denger respon orang lain secara langsung, akhirnya tiap ngomong, aku suka salah menempatkan emosi, gagap, dan ngeblank. Setiap selesai diskusi, aku selalu dipenuhi rasa gak nyaman.

Tapi menariknya, dalam hidupku, qodarullah, Allah kasih amanah di dunia buat jadi dokter yang hampir 90% pekerjaannya berinteraksi langsung dengan manusia dan beberapa amanah lain yang (juga) memaksa diri untuk melewati semua ketidaknyamanan itu. Melihat rentetan rencana Allah itu, dengan (sedikit) terpaksa dan berkali-kali meminta validasi dari orang-orang terdekat, aku paksakan diri untuk melewati batas-batas ke-insecure-an yang selama ini ku buat.

Lucunya, sejak aku mulai suka 'ngobrol', aku malah baru menyadari kalau salah satu love language-ku adalah quality time. Ternyata selama ini, aku bukan tidak suka ngobrol dan diskusi, tapi ternyata 'kantong' cinta itu baru akan penuh ketika aku menemukan orang yang benar-benar proaktif dan hadir penuh dalam interaksi-interaksi yang terjadi. Yaaa balik lagi, ternyata memang tergantung bagaimana respon lawan bicaranya.

Tapi, hidup di dunia ga mungkin seideal itu, kan? Terlebih saat menjalankan peran sebagai dokter yang 'katanya' harus siap mengabdi dan menjadi manusia yang siap menghadapi segala halang rintang masalah manusia. Tak hanya masalah keluhan dan obat saja, (idealnya) dokter juga memikirkan segala aspek psikososioekonomi dll yg dapat mempengaruhi proses penyembuhan pasien. Dan, selama di lapangan aku baru menyadari bahwa berdebat dengan berbagai karakter manusia dan segala egonya sering banget bikin kepala pengen meledak. Selama 5,5 tahun pendidikan dan hampir 1 tahun berkontak langsung di masa internship ini, aku jadi belajar banyak banget. Dan pelajaran paling besar adalah bagaimana melatih diri agar tetap 'tenang' meskipun rasanya pengen banget marah atau nangis. Ternyata benar, skill menjaga tone bicara tetap low saat berdebat dengan orang lain is one hell of a skill.

Ahh.. seandainya jadi dokter gak harus selalu terlihat profesional dan dewasa, sekali-sekali pengen deh jadi diri sendiri yang kalo udah muak debat, boleh milih opsi buat nangis aja sampe tenang wkwkk. 

Tapi masa sih aku dah nangis-nangis karna jelasin alur BPJ* sedangkan orang2 BPJS milih pake asuransi lain karena alasan-alasan yang lucu. Wkwk. Rugilaaah~

No comments: