Saturday, January 11, 2025

Ngobrolin Anak

Anak adalah makhluk-makhluk spesial yang Allah turunkan tak hanya sebagai pelengkap kebahagiaan, tetapi juga sebagai perantara kebaikan-kebaikan Allah untuk kehidupan di masa depan. Anak bisa jadi berkah, bisa juga menjadi ujian. Bagi orangtua, anak bukan hanya 'investasi dunia', bukan tabungan masa tua, bukan pula persiapan caregiver yang mengamankan masa tua mereka. Tapi lebih dari itu, anak adalah investasi akhirat yang doanya dapat menjadi sebab diringankannya siksa. Maka, menjaga dan memaksimalkan hak mereka adalah salah satu usaha kita untuk memperbaikai peradaban dan mengamankan akhirat kita dan generasi selanjutnya.

Sebagai dokter, alhamdulillah, Allah beri kesempatan lebih untuk bisa mendampingi lebih banyak anak-anak di dunia. Allah beri sedikit kelebihan ilmu yang harapannnya bisa menjadi alat untuk memperbaiki peradaban lewat menyelamatkan anak-anak dari kesakitan. Sebab, anak bukan dewasa kecil, mereka spesial dalam banyak hal. Dalam kesehatan, pengaruh nutrisi dan frekuensi penyakit bisa sangat mempengaruhi kualitas hidup dan kecerdasan mereka. Maka, mengambil peran untuk mencegah kesakitan jadi salah satu pertimbangan yang paling realistis bagiku untuk memaksimalkan 'stock' anak-anak hebat di masa depan.

Selain itu, secara subjektif aku merasa mengobati anak-anak itu lebih 'menyenangkan' secara psikologis. Beberapa alasan 'subjektif' yang bisa aku sampaikan : 
  • Sejak kecil aku memang punya kecenderungan suka berinteraksi dengan anak-anak. Anak-anak itu jujur dan minim drama. Jadi berkontak dengan mereka membuat aku lebih 'semangat' dan ikhlas untuk bekerja. 
  • Orangtua pasien cenderung lebih kooperatif ketika mengonsultasikan anaknya. Biasanya pencatatan gejala, angka kunjungnan, kepatuhan minum obat, dan 'awareness' terhadap kondisi anak lebih tinggi. Hal tersebut sangat membantu dalam pemeriksaan hingga pengambilan keputusan terapi bagi dokter.
  • 'Membebaskan' anak dari kesakitan --> memaksimalkan potensi tumbuh kembangnya. Biasanya akan kelihatan banget pas kita follow up. Misal pasien diare, 1 hari saja pasien ana diare, bisa langsung dehidrasi, BB turun berkilo-kilo, periode emas yang harusnya bisa digunakan untuk eksplor sekitar berkurang --> pertumbuhan terganggu, perkembangan pun terganggu. Setelah kita terapi hingga tuntas secara efektif --> kemungkinan untuk kehilangan kesempatan tumbuh kembang juga akan berkurang.
  • Menyembuhkan anak --> mengurangi 'beban' orangtua --> menyejahterakan rumah tangga orang lain --> keluarga jadi punya kesempatan lebih lebar untuk produktif. Kenapa akhirnya aku berfikir demikian? Karena anak adalah individu yang dipenden. Sebagai tante berponakan 4, aku coba memahami betapa chaosnya keluarga ketika anak sakit. Banyak 'pekerjaan' yang terpaksa harus berhenti dan dikorbankan. Maka semoga, dengan mengambil peran disana, bisa 'menyelamatkan' lebih banyak individu yang terdampak.
  • Meskipun secara umum, interaksi dengan lawan jenis dalam urusan kesehatan diizinkan. Memilih jadi dokter anak jadi salah satu cara mengurangi interaksi 'rutin' dengan pasien non mahram.
  • Aku berasal dari daerah yang secara umum pengetahuan dan sikap masyarakat dalam bidang kesehatan masih sangat rendah. 
  • Jujur, ilmu kedokteran di bidan anak bener-bener ribet banget. Beda umur, beda berat, beda pua terapinya. Aku ngerasa banget ilmuku sangat-sanagt terbatas, tapi karena banyak alasan tadi, aku sangat-sangat tidak keberatan dan bersedia untuk belajar lebih banyak. 
Sebenarnya masih banyak alasan-alasan subjektif dan objektif yang bisa disampaikan. Tapi mari kita himpun dan 'keluarkan' pertahan sambil terus belajar.

Btwwwww, tau gak kenapa random banget aku ngomongin ini? wkwk
Jadi hari ini, secara random aku dapet buku KIA terbaru karena ketauan abis ngontenin ini wkwk. Sebenarnya yang bikin aku jadi kepikiran adalah doa-doa yang mereka panjatkan sambil ngasih buku ini. Mari kita rangkum biar inget terus :
- Semoga semakin rajin ngonten tentang ibu dan anak
- Semoga bukunya bisa jadi salah satu bahan bacaan untuk mengedukasi pasien
- Semoga bisa jadi dokter yang lebih 'telaten' dan sabar untuk mengedukasi dan menghadapi pasien.
- Semoga bukunya gak 'cuma' dipake buat pekerjaan sebagai dokter, tapi bisa dimanfaatkan untuk diri sendiri juga wkwk (Inilah alasan kenapa dipaksa ngisi identitas meskipun nikah aje belom wkwk. Tp mari kita aamiin-kan)

Bismillaah~
Semoga Allah jaga semangat yang sangat fluktuatif ini yaaa. Mohon bantuan doanya yaaa~


No comments: