Sunday, January 12, 2025

Nunggu Adzan #6 : Angin Panas Los Angeles



Setelah mengamati informasi mengenai kebakaran di Los Angeles, sore ini akhirnya aku memilih mulai bersuara. Sebab, rasanya semakin hari, prasangka-prasangka dan teori konspirasi makin mengkhawatirkan. Karena keterbatasan keilmuan syar'i-ku, pada tulisan kali ini, aku akan mulai dengan membagikan 2 postingan yang sejak 3 hari ini aku rasa paling sesuai dengan sudut pandangku. Semoga Allah menjaga dan memberkahi pemilik tulisan-tulisan ini. Bismillah...

Note : klik gambar untuk membaca dengan kualitas yang lebih baik

1. Qur'an Review (10/01/25)



2. @Verawatylihawa (12/01/25)

Oke.. Setelah membaca itu, semoga kita melihat kejadian ini dengan seobjektif-objektifnya penglihatan. Mari kita cukupkan melihat dari hal-hal yang kita ketahui dan terlihat jelas oleh mata kita. Semoga kita tak terjebak pada prasanka-prasangka yang mengotori hati. Sebab, jika ingin mengaitkan dengan azab, sungguh, itu bukan ranah kita. Mari husnudzan terhadap segala ketetapan Allah. Terlebih jika ingat sirah mengenai respon Rasulullah terhadap azab Allah, sungguh harusnya kitalah yang harus lebih banyak menangisi dosa-dosa kita.

Ada dua sirah yang saat ini teringat dikepalaku :
  1. Ketika Rasulullah berkali-kali berdoa dan memohon agar azab dihilangkan. Lantas setelah mendengar do'a Rasulullah, Allah mengabulkan untuk menghapus dua dari 4 azab, yaitu menghilangkan lemparan (batu) dari langit dan 'menelan/pembenaman' bumi. Namun Allah tetap mempertahankan 2 azab lain, yaitu : pencampuran dengan keragaman kelompok sosial yang bertentangan dan penderitaan akibat kekerasan kelompok Muslim yang lain. Karena doa dan permohonan Rausulullah saat itu, azab yang terjadi pada ummat Rasulullah jauh lebih ringan. 

  2. Kisah marahnya malaikat penjaga gunung di Thaif ketika Rasulullah bersedih setelah mendapatkan perlakuan-perlakuan tidak menyenangkan dari kaum Quraisy (dilempar kotoran, dilukai, diolok-olok, dll) setelah kematian Khadijah dan Abu Thalib. Saat itu kaum Qurisy melempar batu hingga kaki Rasulullah terluka dan berdarah, rasulullah lalu berdoa :
    "Ya Allah, hanya kepada-Mu kuadukan lemahnya kekuatanku, sedikitnya upayaku, dan hinanya pandangan orang kepadaku. Wahai Yang Maha Penyantun, Engkaulah Tuhanku dan Tuhan orang-orang yang tertindas. Kepada siapa Engkau akan serahkan aku? Kepada orang asing yang memperlakukanku dengan jahat, ataukah kepada saudara jauh yang mengusirku?"

    Lalu Malaikat Jibril turun dan berkata, "Hai Muhammad, Tuhanmu menyampaikan salam kepadamu. Dan malaikat yang mengurus gunung-gunung telah diperintahkan oleh Allah untuk mematuhi semua perintahmu. Ia tidak akan melakukan apa pun, kecuali atas perintahmu."

    Malaikat penjaga gunung berkata, "Sesungguhnya Allah telah memerintahkanku untuk berkhidmat kepadamu. Jika kau mau, biar kujatuhkan gunung itu kepada mereka. Jika engkau mau, akan kulempari mereka dengan bebatuan. Dan jika engkau mau, akan kuguncangkan bumi di bawah kaki mereka." 

    Rasulullah SAW pun menjawab, "Hari Malaikat Gunung, aku datang kepada mereka karena berharap mudah-mudahan akan keluar dari keturunan mereka orang yang mengucapkan laa ilaaha illallaah (tiada Tuhan selain Allah)."
Dari kedua kisah itu, sungguh, malulah jika kita seolah bahagia ketika saudara kita sedang dalam kesulitan. Sebagaimana tanggapan Rasulullah ketika Malaikat menawarkan untuk menjatuhkan gunung kepada kaum Quraisy, begitu pulalah harusnya kita berhusnudzan terhadap saudara-saudara kita yang mendapat musbiah. Dan.. bukankah sebenarnya yang paling pantas untuk dikhawatirkan adalah dosa-dosa kita sendiri yang sudah jelas begitu menumpuk?

Beberapa ibrah yang dapat kita ambil dari kejadian ini :
  • Begitu nyata kekuatan 'kun fayakun' Allah. Dari beberapa trending yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir, kita bisa lihat dengan jelas bagaimana dengan mudahnya Allah membolak-balik nasib seseorang/suatu kaum. Maka, semoga lebih besar pula keimanan kita kepada Allah. 
  • Harta, tahta, wanita, dan semua pencapaian-pencapaian kita di dunia ini sungguh tak ada artinya. Jika memang bukan takdir kita, maka mudah saja ia hilang dalam sekejap mata. Maka, semoga kita belajar agar tidak menjadikan dunia yang penuh tipu daya ini sebagai tujuan kita.
  • Pentingnya untuk tidak mudah berprasangka terhadap orang lain. Hindari mengolok-olok dan tertawa diatas kesulitan orang lain. Jika memang belum sampai keimanan kita pada tahap mendoakan agar kebaikan selalu menyertai orang-orang tersebut, semoga setidaknya kita berlindung diri dari prasangka-prasangka yang belum pasti.
Semoga, semoga Allah mengampuni dan menghapus dosa-dosa kita. Allahu 'alam bishawab....

No comments: